
"Kita dimana yah?"
Lagi-lagi tempat yang pertama aku lihat adalah tempat asing, kamar asing yang megah, dengan arsitektur elegan luar biasa, siapapun yang pertama melihat pasti akan terkagum tak terkira.
"Ini kamar mu nak" Jawab ayah dengan senyum miris.
"Kamarku? Aku tinggal disini yah?" Tanyaku, belum selesai dengan kekaguman ruangan ini. Rasa senang seperti anak kecil yang baru diberi mainan, aku tersenyum-senyum sendiri melihat kamar mewah yang ternyata akulah pemiliknya.
"Kau bukan hanya tinggal, kau jiwanya kamar ini, rumah ini tidak pernah sepi karena dirimu nak, kaulah empunya, kaulah pemiliknya" Kata ayah dengan semangat. Mendengar penjelasan ayah, semuanya seperti menyenangkan, tapi bagiku, lebih menyenangkan jika semua itu memang ada dalam kenangan ku.
"Ayah janji mau cerita tentang ibu, aku mau tahu kenapa sekarang ibu tidak ada didepan kita" Ayah terdiam, raut wajahnya mulai memikirkan sesuatu.
"Dengan kondisi mu yang seperti ini, ayah yakin kau belum siap nak, ayah tidak mau kau merasakan kesakitan karena harus mencerna cerita ayah yang panjang ini, tunggulah sampai kau siap, ayah tidak akan mengingkari janji ayah"
"Baiklah, Arsyaf tidak akan memaksa" Aku memanggil diriku Arsyaf, entah kenapa ada sedikit rasa asing dengan nama itu, tapi kata ayah itulah namaku.
"Ayah keluar dulu" Aku hanya menjawab dengan mengangguk dan senyum sedikit.
Ayah pergi dengan wajah tertunduk, sebelum dia menutup pintu, aku mendengar percakapannya dengan kakek.
__ADS_1
"Lihatlah paman, sakit sekali rasanya melihat anakku berubah seperti itu, Arsyaf bukan anak yang mudah menyerah saat keinginannya tidak tercapai, tapi lihatlah dia yang sekarang, dia dengan polosnya mengiyakan semua keinginannya yang tertolak. Sebesar inikah Tuhan menghukumku paman" Suara ayah berubah pilu. Aku terus mendengar percakapan mereka dari balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup.
"Tidak tuan, cobaan ini belum seberapa cobaan yang dialami nona Elis bukan? aku yakin tuan kuat, semua ini hanya perlu waktu"
"Kau benar paman, inilah hukuman untukku karena sudah meninggalkannya begitu saja" Setelah itu, kakek yang menutup pintu kamar ku.
"Elis? Siapa Elis?" Tanyaku pada diriku sendiri. Nama itu entah kenapa, aku seperti pernah mendengarnya.
'nak kau harus hafal semua nama keluarga mu'.
"Aaahh, kepalaku" suara wanita itu kembali menggema didalam pikiran ku.
"Aaahh, sakit sekali rasanya" Aku terus memegangi kepalaku. Tapi suara itu tidak sedikitpun mau berhenti.
'baik, kalau nama panjang ibu'
"Hentikan! Aku mohon hentikan! Ayah tolong!" Aku berteriak, tapi tidak ada satupun yang mendengar.
'Elis Stania Yulianti',
__ADS_1
"Ayaaaah" Aku terus memanggil ayah, tapi karena ruangan kamar ku yang begitu luas, ayah sepertinya tidak mendengar teriakkan ku. "Buk" aku terjatuh dari tempat tidur.
'wah anak ibu baru berumur lima tahun tapi sudah sehebat ini, ingat nak, jika suatu hari kau pergi, maka tempat kembalinya adalah ibu'
"Tuan muda" Beberapa pengawal masuk langsung membawaku kembali kekasur.
"Aku tidak mau dikamar ini! aku ingin dikamar yang kecil saja!" Kataku membentak semua orang yang ada disana. Ada ketromaan setelah kejadian tadi, aku tidak mau merasakan sakit ini lagi, aku ingin sembuh. Aku tidak mau suara wanita yang mangaku ibu terus menggema dipikirkan ku. Karena itu, sangat menyakitkan.
"Baiklah tuan muda, kami akan memindahkan kamar tuan muda, anda bisa memakai kamar bawah yang lebih kecil, mohon untuk tenang dulu tuan muda"
"Kenapa nak? Apa kau merasa sakit lagi?" Ayah datang dengan panik.
"Aku tidak ingin kamar ini yah, aku ingin pindah"
"Ah, baiklah kita pindah ke kamar bawah, itu lebih mudah untuk kau melihat siapapun"
Setelah istirahat cukup, aku langsung ikut turun bersama ayah kebawah, nyatanya kamar yang dibilang lebih kecil, tidak jauh berbeda dari kamarku, kamar itu hanya berbeda satu atau dua meter saja, mungkin memang itulah yang dimiliki oleh rumah mewah ini.
Next....
__ADS_1