
Malam ini menjadi malam menegangkan sekaligus bahagia untukku. Dulu cerita ini begitu tabu, berliku-liku tak menentu, berakhir dalam keadaan semu. Tapi aku takan lagi membiarkan itu terjadi, aku Arsyad Anggara akan berusaha mengubah cerita ini menjadi cerita indah tak terkira, berakhir dengan bahagia jiwa dan raga.
Bu, tunggulah anakmu pulang bersama ayah, tunggulah sampai kau menjumpai bahagiamu yang masih tertunda.
"Kau sudah siap nak?"
"Sudah yah, Arsyad tidak banyak membawa barang, jadi tak begitu repot dalam mengemas"
"Baiklah, ayo kita ke halaman belakang, helikopternya sudah siap"
"Baik yah"
Aku mengekor dibelakang ayah, berjalan dengan memandang punggung beliau, ada rasa bangga padanya. Kau harus lihat bu, lihatlah laki-laki gagah arogan ini telah menjelma menjadi laki-laki gagah yang lembut dengan pandangan mata bersinar. Ayah benar-benar telah berubah bak seekor bunglon, jika kau sudah membaca catatan ibuku dengan judul sampul LELAKI MISTERIUS, kau pasti akan tahu sifat ayahku yang dulu bagaimana.
"Apa ini helikopter yang dulu pernah ibu naiki yah?" Tanyaku, kembali mengingat kisah mereka berdua
"Benar nak, hahaha, kau jadi mengingatkan betapa nakalnya ayah pada ibu mu dulu"
"Benar, ayah memang sangat nakal" Kataku, mencoba menanggapi masa lalu ayah dengan candaan.
__ADS_1
"Hahaha, kau tidak boleh meniru sifat ayah nak"
"Arsyad memang tidak jago dalam itu yah"
"Bagus, meniru sifat ibumu itu lebih baik. Apa kau sudah punya calon istri nak?" kata ayah.
"Sepertinya sudah yah?"
"Ko sepertinya?"
"Arsyad belum meminangnya, tapi Arsyad sudah berjanji untuk tidak menikah dengan siapapun kecuali dia yah"
"Mungkin aku yang beruntung yah, dia anak Tante Diana"
"Anak Tante Diana, dia pasti sangat cantik macam ibunya, tapi kau harus berhati-hati"
"Kenapa yah?"
"Kalau berani membuat anaknya menangis apalagi sampai kecewa, bersiap-siaplah sang induknya akan menyergapmu tanpa ampun, kau pasti tahukan sang induk sangat jago beladiri" Ayah tertawa setelah mengatakan itu, aku juga.
__ADS_1
"Hahaha, apa ayah masih ingat Tante Diana jago beladiri?"
"Tentu, ayah bahkan masih ingat seperti apa detail mukanya saat marah"
"Hahaha, ayah bisa saja. Emm yah, boleh Arsyad bertanya?"
"Tentu, apa yang ingin kau tanyakan?, ayo sini naik dulu" Aku menerima uluran tangan ayah. Mengambil posisi duduk berhadapan dengannya. Beberapa menit kemudian helikopter ini siap terbang.
"Apa ibu tahu kalau Arsyad punya kembaran?, apa ibu tahu kalau dia melahirkan dua orang anak yah? Dan apa ibu tahu kalau kembaranku tinggal bersama ayah?"
"Hahaha, apa seorang tentara militer dilatih untuk bertanya dengan pertanyaan beruntun begitu nak?" Aku tersenyum malu mendengar pertanyaan balik dari ayah, aku lupa dengan siapa sekarang aku berhadapan, orang dengan IQ tak kalah jauh dari ibu dan memiliki wawasan luas.
"Sekarang aku bertanya sebagai seorang anak pada orang tuanya, bukan seorang prajurit pada atasannya yah" kataku, mencari alasan tepat yang tidak mudah dijatuhkan kembali.
"Hahaha baiklah, tapi sebelum kau mendengar cerita ayah, berjanjilah kau tidak akan semarah tadi sore, berjanjilah kau hanya sedang menjadi pendengar setia"
Aku terdiam, memikirkan kemungkinan yang ada, bagaimana kalau aku tidak bisa menahan emosiku seperti tadi sore, bagaimana kalau aku tidak bisa menepati janjiku sendiri, ah, tapi mencoba lebih baik daripada sama sekali tidak mendengar cerita ayah.
Next....
__ADS_1