Tentara ku Pahlawan ku

Tentara ku Pahlawan ku
Episode 11


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, amnesiaku masih utuh, belum ada perubahan yang pasti. Ingatan yang tiba-tiba munculpun belum mampu mengembalikan keadaanku semula. Semua masih semu, masih dalam bayang-bayang tak menentu.


"Kakek, ayah dimana?" Kakek Richard sedang bersantai, membaca beberapa data perusahaan milik ayah lewat ponsel genggamnya.


"Ooh, kau sudah bangun nak, tuan sedang ada urusan bisnis" Kakek tersenyum melihatku, aku mengambil posisi duduk bersebelahan dengannya.


"Ayah berangkat sendiri?"


"Untuk yang satu ini memang tidak bisa diwakilkan siapapun, jadi tuan yang harus turun tangan"


"Ooh, Kakek, boleh Arsyaf bertanya?"


"Katakanlah, cucu kakek mau bertanya apa?" Kakek menanggapi ku seperti anak kecil, aku tahu ini karena perubahan yang aku alami setelah terkena penyakit amnesia.


"Kenapa kakek memanggil ayah tuan? bahkan tak jarang memanggil Bigg Bos" Kakek tidak langsung menjawab pertanyaan ku, ia sempat berhenti memainkan ponselnya.


"Jawaban ini sangat panjang nak, akan memakan waktu, apalagi kondisi mu belum mampu untuk mencerna terlalu banyak cerita"


"Tapi ingin tahu sekarang kek" Aku memohon.


"Baiklah, kakek akan menceritakan semuanya padamu, tapi kau bacalah ini dulu" Kakek memberikan sebuah buku catatan yang sudah sedikit lusuh.

__ADS_1


"Lelaki Misterius?"


"Kakek juga tidak tahu buku itu dari mana, yang jelas itu adalah cerita ayah dan ibu mu"


"Kakek dapat dari mana?"


"Ada didalam tas saat kau dibawa pulang setelah penculikan, buku itu bisa menjawab semua pertanyaan mu nak, tapi cobalah baca sedikit demi sedikit, jangan memaksakan untuk membaca kalau kepalamu merasa sakit"


Aku mengangguk, beralih melihat buku dengan sampul LELAKI MISTERIUS itu, ayah berjanji akan bercerita tentang ibu, tapi sampai sekarang tak kunjung sedikitpun terucap dari ayah tentang ibu.


Aku mulai membuka lembar demi lembar buku catatan itu, membaca bait demi bait, paragraf demi paragraf, tiba-tiba aku teringat sesuatu.


"Ibu" kataku pelan.


"Aaahhh kepalaku" Saat ingatan itu masih terus mengalir dalam pikiran ku, seketika itu rasa sakit terus mengikuti dibelakangnya. Bayangan ketika aku kecil, bayangan ibu yang merawatku, bayangan Intan, Tante Diana, semua datang bertubi-tubi. Kepalaku belum begitu siap, tapi aku mencoba menahannya, menahan rasa sakit yang seperti tertusuk-tusuk pisau.


"Tenanglah dulu nak, kau jangan memaksakan untuk mengingat semuanya" Aku melawan rasa sakit ini sampai hampir setengah jam. Lelah, itu yang membuat aku akhirnya bisa diam dengan sendirinya.


"Aku teringat sesuatu kek"


"Benarkah? apa yang kau ingat nak? kau ingat tentang ayah? kau ingat tentang kakek? apa kau ingat semuanya?" kakek menggebu-gebu, tapi tidak ada satupun yang aku ingat dari pertanyaan kakek barusan.

__ADS_1


"Bukan kek?" Kataku.


"lalu?" Wajah kakek yang tadi terlihat senang berubah sedih.


"Aku ingat ibu, aku, aku ingat pernah tinggal bersama ibu kek" Aku mencoba bercerita apa yang terlintas dalam pikiranku sekarang.


"Tinggal bersama ibu? apa kau yakin, sedari kau lahir kau selalu tinggal bersama ayahmu dan Kakek, kau bahkan belum pernah bertemu ibumu"


"Tidak, kakek salah, sejak aku lahir aku selalu bersama ibu kek, aku tahu kakek adalah Kakekku, ibu yang selalu bercerita, dan buku ini, aku ingat kek, akulah yang membawa buku catatan ini"


"Kau kenapa Arsyaf?, apa efek amnesia itu bisa merubah sebuah ingatan?" Arsyaf? kakek memanggilku Arsyaf? apa aku tidak salah dengar?


"Tunggu kek, kakek memanggilku dengan nama apa?"


"Namamu Arsyaf, itu nama yang ayah kau berikan sejak kau lahir, apa kau tidak sedikitpun mengingat kejadian demi kejadian dimasa kecil mu?" Aku melihat kakek yang terlihat bingung. Tapi memang tidak ada ingatan seperti itu dalam pikiran ku, yang ku ingat adalah masa kecilku yang selalu bersama ibu.


"Tidak kek, namaku bukan Arsyaf, namaku Arsyad Anggara, itulah yang ibu berikan"


"Arsyad?"


Sekarang aku tidak tahu siapa yang dalam rasa kebingungan? aku ataukah Kakek? apakah efek amnesia ku seperti ini, atau memang inilah kenyataan dalam hidupku sebenarnya?.

__ADS_1


Next....


__ADS_2