
Hari ini siang, tapi terasa malam, hari ini cerah, tapi terasa mendung, kelabu hati ini membeku, aku tak tahu harus berkata apa, tak tahu harus berbuat apa, saat ku lihat wanita impianku kini telah berada disamping orang lain. Aku hanya mampu diam untuk sekarang.
"Bagaimana dengan ibu, bukankah kita harus tetap melanjutkan acara pernikahan ku?" Tanya Arsyaf.
Aku ingin memberontak, ingin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa akulah Arsyad, bahwa akulah yang seharusnya bersanding dengan Intan, akulah yang berhak untuk itu, tapi aku hanya mampu diam, diam melihat kebahagiaan ku direnggut oleh adikku sendiri.
"Ibu mungkin masih syok, jika nanti sadar masih melihat ayah, jadi sebaiknya ayah, kakek dan nenek pergi yang menemani Arsyad, bagaimanapun Arsyad benar, dia harus terus melanjutkan acara pernikahannya" kataku.
Aku mencoba berbicara setenang mungkin, tapi ini juga ingin ku jadikan alasan untuk tidak melihat langsung acara pernikahan itu. Aku tak kuasa, hatikupun tak sanggup.
"Arsyaf benar taun, ini juga acara pernikahan anak kalian, dan kondisi Elis belum siap untuk menerima kehadiran mu tuan" Kakek mendukung rencana ku.
Ayah terus menatap ibu, beberapa kali masih sempat mengelap air matanya dengan lengan baju kemejanya. Lalu mengangguk.
"Ayah titip ibu dulu nak, pastikan ibu tenang setelah sadar" pesan ayah sebelum pergi meninggalkan aku dan ibu dirumah.
"Ayah tidak perlu khawatir" Aku berusaha tersenyum, menunjukkan bahwa aku baik saja-saja.
"Baiklah nak, kami pergi dulu, sore nanti kami kembali"
"Baik kek"
__ADS_1
Mata ayah terus tertuju pada ibu, ia seperti belum puas melepas rindunya, ah aku jadi terenyuh sendiri melihat tatapan ayah untuk ibu, ibu beruntung, orang yang dicintainya sekarang masih dimiliki seutuhnya, mereka hanya perlu waktu untuk kembali seperti dulu. Sedangkan aku, sebelum aku memiliki Intan dia sudah dulu dimiliki oleh adikku sendiri, bagaimana sekarang aku harus merangkai hidupku, aku terlalu sibuk menyatukan ayah dan ibu, tapi aku juga tidak pernah terfikirkan kejadiannya akan seperti ini.
"Ibu, ibu baik?"
Lamunanku buyar ketika tangan ibu tiba-tiba bergerak memegangi kepalanya, ibu telah sadar.
"Ibu habis mimpi buruk nak" Kata ibu.
"Mimpi buruk?" Aku membantu ibu duduk seperti biasa disofa.
"Ibu bermimpi ada seseorang datang, dan dia ingin membawa kau pergi dari ibu"
"Tapi mimpi itu benar-benar seperti nyata, orang itu datang, dia ada didepan pintu, dan dia, dia..."
"Sudahlah bu, tidak ada apa-apa" aku terus mencoba membuat ibu tenang.
"Benarkah tidak ada apa-apa nak, lalu kenapa ibu ada disofa ini?" Ibu memandang sekeliling, lalu memegang kepalanya kembali.
"Mungkin ibu lelah, dan ibu tertidur disofa" Aku mulai bingung harus menjawab apa.
"Ibu tertidur disofa?" Ibu mulai mengingat-ngingat kejadian apa yang baru saja menimpanya, aku hanya berdo'a semoga ibu menanggap kejadian tadi benar-benar mimpi.
__ADS_1
"Ya Tuhan, ibu baru ingat sekarang, bukankah kau seharusnya ada diacara pernikahan kau dan Intan, kenapa kau tetap disini, tunggulah sebentar ibu mau membenarkan pakaian ibu dulu"
Do'a ku terkabul, ibu benar-benar menganggap kejadian tadi hanyalah mimpi, tapi setelah mendengar yang ibu ingat adalah pernikahan, jantungku langsung berdetak kencang. Ah apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Ibu, ibu, tunggulah, ibu sepertinya masih lelah, ibu tidak perlu datang kesana, ibu istirahat saja"
"Tidak-tidak, kau ini bagaimana, ini acara pernikahan kau dengan Intan, bagaimana ibu tidak hadir disana"
"Iya, Arsyad tahu bu, tapi kondisi ibu sedang kurang sehat, Arsyad tidak mau ibu kenapa-kenapa lagi"
Aku berusaha mencegah ibu sebisa mungkin, berharap ibu tidak hadir sampai acaranya selesai, kalau ibu melihat ayah disana semuaya pasti akan kembali kacau.
"Tidak! Kau ini pengantin lakinya juga, kenapa kau malah ada disini nak, ayo ibu sudah siap, kita berangkat"
"Ibu, ibu tunggu! Biarkan Arsyad berangkat sendiri ya bu, ibu istirahat saja, ibu pasti masih lelah kerena mengurusi acara pernikahankan?"
"Ah tidak apa, ayo kita berangkat, kau tidak perlu lagi berdebat"
Ibu menarik lenganku, berjalan dengan tergesa-gesa, walaupun aku berusaha menahannya tapi ibu masih bersikeras untuk pergi.
Next....
__ADS_1