
Besoknya aku memutuskan libur. Sepanjang hari hanya membantu ibu membersihkan Rumah. Menyapu lantai, menenteng ember penuh air sabun dan kain pel. Aku juga sibuk membersihkan beberapa jendela kaca.
Pekerjaan rumah sudah sering aku lakukan sejak aku kecil. Membantu ibu adalah hal yang paling aku sukai. Bercelana pendek. Berkoas tanpa lengan. Mendengarkan musik membuat pekerjaan Rumah tidak lagi terasa.
Saat aku sedang sibuk membersihkan beberapa kaca jendela lagi. Seseorang memeluk ku dari belakang. Aku berhenti, lalu memandang kedua tangan yang sudah melingkar di perutku. Itu tangan Intan. Aku menelan ludah beberapa kali. Bingung harus berbuat apa.
"Kau tidak boleh seperti ini" kataku. Tapi pelukan Intan semakin erat.
"Seorang istri yang baik tidak boleh berkhianat pada suaminya" tambahku. Mencoba menasehati dengan status yang sudah dia punya.
"Kau yang berkhianat! Kau bang! Sampai kapan kau akan menutup dirimu seperti ini? Sampai kapan kau akan hidup dalam kebohongan? Sampai kapan?" Intan melepas pelukannya. Berjalan mundur dengan wajah penuh kemarahannya.
"Apa maksud mu?" Tanyaku bingung. Aku membalikkan tubuhku. Berhadapan dengannya.
"Cukup bang!, kau pikir aku mudah dibohongi, kau pikir aku tidak akan mengenali siapa dirimu sekalipun wajahmu berubah, sekalipun namamu bukan Bang Arsyad? Apa kau pikir aku masih Tatan yang berumur 4 tahun, Tatan yang penurut, Tatan yang masih mudah dikelabuhi. Aku sudah pernah bersumpah, aku akan menjadi satu-satunya orang yang akan terus mengenalimu sekalipun dunia melupakanmu. Aku bersumpah akan terus disampingmu sekalipun dunia meninggalkan mu bang, aku bersumpah, aku berjanji" tangis Intan pecah.
__ADS_1
"Tenanglah, kau kenapa?" Aku bingung. Baru tadi malam aku melihat Intan menangis, pagi ini dia kembali dengan air matanya yang terus berjatuhan, bahkan lebih deras.
"Kau Abang Arsyad, iya kan?" Intan semakin histeris menangisnya. Sungguh hatiku sangat sakit melihat Intan seperti ini. Dan bagaimana dia bisa tahu kalau aku Arsyad?.
"Bagaimana kau bisa berfikiran seperti itu?" Elakku, tidak langsung mengiyakan.
"Karena kau, karena kau selalu melakukan apa yang Abang Arsyad lakukan, kau melakukan semuanya. Mencium tangan ibuku saat berjumpa. Duduk di balkon dekat kamar setiap malam. Tidak malu membantu pekerjaan rumah. Selalu mampu membuat ibu tersenyum. Selalu berkata tentang nasehat yang indah, itu yang sering kau lakukan sejak dulu bang"
"Tatan tunggu. Kita tahu Bang Arsyad sedang hilang ingatannya, dia mungkin belum bisa seperti dulu lagi, seperti yang kau inginkan. Tapi bukan berarti aku menggantikan posisinya karena aku melakukan semua yang kau sebutkan tadi, apalagi semua itu hal umum, hampir semua orang juga bisa melakukannya"
"Yah"
Pagi itu bukan hanya tangisan Intan yang pecah, tapi kemarahannya juga. Matanya melotot, mukanya memerah. Aku belum pernah melihat Intan semarah itu. Tapi satu yang membuat aku terkagum padanya. Semarah apapun Intan, wajahnya tetap terlihat cantik dan anggun.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tiba-tiba ibu datang, memecah suasana tegang ini. Intan langsung berpaling, mengusap pipinya, membuat senyuman kebohongan.
__ADS_1
"Ibu sudah pulang. Sini Intan bantu" Intan medekati ibu, mengambil alih belanjaannya.
"Kau kenapa? Matamu sembab"
"Tidak apa bu, Bang Arsyaf sedang bersih-bersih, mungkin tadi kemasukan debu" Elaknya.
Ibu hanya mengangguk. Lalu pergi kedapur. Intan memang tidak pernah berbohong, karena dia tahu aku paling benci orang yang berbohong. Tapi sekarang lihatlah, akulah yang mengajari dia untuk berbohong.
Sebelum Intan menyusul ibu kedapur, dia sempat melanjutkan kata-katanya yang sempat terputus.
"Apakah ini menjadi hal umum juga. Seseorang yang dengan fasihnya memanggil nama kecilnya, padahal dia tidak pernah bersamanya sejak kecil, dia hanya baru bertemu satu bulan yang lalu" Katanya dengan nada sinis. Lalu pergi meninggalkan ku.
Deg
Hatiku kembali seperti terhantam beton. Apakah aku tidak sepandai itu dalam berbohong? Ataukah Tuhan telah tunjukan kekuasaannya?.
__ADS_1
Next...