Tentara ku Pahlawan ku

Tentara ku Pahlawan ku
Episode 24


__ADS_3

Jalan setapak itu, mulai membuka memori demi memori yang pernah ku lewatkan bersama Intan, sebuah memori tentang kebahagiaan, rasa sedih, senang, canda, dan tentang perasaan. Hari ini semua itu memang hanya akan menjadi sebuah kenangan, sebuah kenangan antara kakak dan adik.


"Tamunya sudah mulai sepi" Kata ibu melihat dari kejauhan.


"Mungkin sedang makan bu"


"Ah ya, mungkin"


Tepat didepan gerbang selamat datang, Tante Diana mematung melihat kedatangan aku dan ibu.


"Kau ini kenapa? Seperti melihat hantu"


"Kau?" Tante Diana terus menatapku. Aku mencium tangannya, seperti biasa.


"Ini menantu mu, kenapa harus seheran itu melihatnya" Kata ibu.


Aku tahu, Tante Diana juga tahu, kalau sudah ada seseorang yang duduk di pelaminan bersama Intan, dan itu bukan aku.


"Ibu, tante, boleh kita berbicara sebentar. Hanya kita bertiga" Pintaku.


"Kau ini ada-ada saja, acaranya sudah dimulai"


"Sebentar saja bu, tante"


"Ayo kenapa tidak, aku juga ingin tahu penjelasannya" Tante Diana menuruti keinginan ku. Dia berjalan dulu meninggalkan tepat acara.


"Penjelasan apalagi?" Ibu masih bingung, tapi dia akhirnya menurut untuk ikut.


"Sekarang katakan yang sebenarnya, apa yang terjadi?" Tante Diana memulai pertanyaan.


"Aku, aku bukan Arsyad" jawabku langsung, walaupun begitu berat mengatakannya, tapi semua sudah terlanjur.


"Apa maksud kau nak? Kalau kau bukan Arsyad lalu siapa?" Ibu semakin bingung.


"Aku, aku, namaku Arsyaf, aku adalah anak ibu juga, aku kembaran Arsyad" jelasku terbata-bata.


"Apa? Coba jelaskan lebih detailnya" Tante Diana semakin penasaran.


"Ibu sebernanya punya dua anak, ayah membawa salah satunya, dia, dia membawa aku tanpa sepengetahuan siapapun, aku Arsyad, ah bukan maksudnya Arsyaf, yah aku Arsyaf bu, aku datang bersama ayah" Aku terbata, berat sekali mengakui bahwa diriku sebagai Arsyaf, tapi bagaimana lagi, Intan sudah terlanjur menjadi milik adikku, aku tidak mungkin menghancurkan hubungan itu.

__ADS_1


"Jadi, kejadian tadi siang, itu bukanlah mimpi?" Ibu terlihat syok kembali.


"Tidak, ibu tidak bermimpi, ibu memang sudah bertemu ayah, ibu syok dan akhirnya pingsan. Seharusnya ayah juga ada di dalam bukan?"


"Dia sudah pergi" Tante Diana menjawab.


"Pergi? Pergi kemana? Ayah bilang dia akan menunggu sampai ibu siuman"


"Ayah mu pergi karena dia tidak mau ibu mu kembali syok dengan kedatangannya, jadi dia pergi untuk sementara. Hanya itu yang dia katakan"


"Jadi, kau anak ibu? Aku, aku melahirkan dua anak?" Ibu mulai berkaca-kaca.


"Benar bu, ibu melahirkan kita berdua"


"Bagaimana semua ini bisa terjadi, kenapa aku tidak pernah tahu? ma'afkan ibu nak" terlihat sekali wajahnya penuh penyesalan.


"Tidak apa bu, Arsyaf sudah bahagia bertemu ibu kembali. Nanti akan aku jelaskan semuanya bu. Sekarang ibu tenang dulu, kita harus kembali ke acara, mereka pasti menunggu kita"


"Tapi"


"Ibu, kenapa kalian malah berkumpul disini, para tamu sudah banyak yang menunggu"


Itu suara Intan, ah berat sekali untuk memalingkan badanku untuk melihatnya. Jantungku berdetak kencang. Ingin sekali melihatnya. Tapi kaki ini begitu berat bergerak.


"Dia, dia Arsyaf, kembaran Abang Arsyad"


"Apa? Abang punya kembaran"


Suara itu, suara yang begitu aku rindukan. Tapi aku belum juga membalikkan badanku, berat sekali rasanya. Kuatkan hatiku Tuhan. Suara kaki Intan berjalan mendekat. Degup jantungku semakin cepat. Tubuhku sedikit bergetar. Ah seandainya bisa, aku ingin langsung menghilang saja dari bumi ini.


Intan menatapku dari samping, aku sedikit gerogi memandangnya. Ku paksakan kepala ku menengok kearahnya.


"Hay" Sapaku dengan suara gerogi.


Wajah Intan berubah serius, ia benar-benar mematung untuk beberapa detik, menatapku dengan heran. Tatapan yang ku rindukan itu kini tidak lagi mejadi milikku.


"Abang" Panggilnya pelan.


"Kau pasti sangat kaget bukan? Arsyaf benar-benar sangat mirip dengan Abang Arsyad, mereka terlihat sedikitpun tidak ada perbedaan, ibu juga sempat tidak percaya" Tante Diana berusaha menjelaskan pada Intan, tapi dia hanya diam, pandangannya tidak sedikitpun berpaling dariku.

__ADS_1


"Selamat yah, semoga pernikahan mu bahagia" kataku.


Intan masih diam, mengangguk kecil. Suasana sore itu benar-benar berubah canggung, aku bingung harus berbuat apa, harus berkata apa. Aku merindukannya tapi aku sudah tidak berhak atas dirinya.


"Abang" panggilnya lagi.


Ah Tuhan, kenapa dia terus-menerus memanggil ku Abang.


Tuhan tak pernah janji


Langit selalu biru


Tetapi Dia berjanji


Selalu menyertai


Tuhan tak pernah janji


Jalan selalu rata


Tetapi dia berjanji


Berikan kekuatan


Ponsel ku berbunyi, sebuah lagu yang terlantun dari ponsel itu menyelamatkan suasana janggung ini.


"Ma'af aku angkat telepon dulu"


Intan hanya mengangguk. Ku tengok layar ponsel ku, My Father.


"Hallo, wa'alaikum salam, emmm baik yah, akan Arsyaf sampaikan, tidak apa yah, akan Arsyaf jelaskan nanti, iya baik, wa'alaikum salam"


"Siapa nak?"


"Emm ayah bu, dia bilang, ayah akan datang lagi tapi setelah ibu mau menerima kehadiran ayah kembali"


Kepala ibu menunduk wajahnya berubah sedih, sedikit lesu. Aku hanya bisa berdo'a, semua lekas membaik. Kesedihan ini benar-benar terganti kebahagiaan. Aku hanya harus bersabar mengikuti alur jalannya.


"Mari bu, kita kembali ke acara saja, kasian Abang Arsyad menunggu kita semua"

__ADS_1


Semuanya hanya diam, tidak ada yang menanggapi ajakan ku, semuanya berjalan dengan wajah tampak sedih, bingung. Seharusnya ini hari bahagia. Pertemuan yang sejak lama dinantikan, sebuah pernikahan, kebenaran yang terungkap, bukankah itu semua kabar gembira, tapi lihatlah, aku membuat kebagiaan itu menjadi kesedihan yang mendalam, kesedihan yang tampak mendalam, kesedihan yang akan masih berlanjut kedepannya.


Next


__ADS_2