
Hembusan nafas pagi dimeja sarapan itu begitu terdengar, beberapa bunyi dari sendok dengan piring menjadi teman dari suara nafas kita masing-masing. Yah kau bisa banyangkan betapa sunyinya itu. Kami sudah hampir satu bulan tinggal bersama, tapi rasa canggung diantara kami masih terlihat.
"Kau hari ini mau kemana nak?" Pertanyaan ibu menutup kesunyian itu.
"Aku ingin pergi jalan-jalan bu, sekalian mencari pekerjaan"
"Pekerjaan? Kau ingin bekerja apa?"
"Belum tahu bu, nanti Arsyaf akan katakan kalau sudah dapat"
"Atau kau bisa ikut dengan ku Syaf. Kau kan jago nyupir juga, biar aku punya teman saat keluar kota"
"Ah ma'af bang, bukanya aku menolak, tapi kau tahu bang, adik mu ini sudah terlalu lama terpisah dari ibu. Aku sudah janji, sampai aku menutup mata, aku harus terus melihat ibu, tidak akan terlewat satu haripun. Dua puluh lima tahun yang lalu, akan aku ganti sampai hembusan nyawa ku yang terakhir"
Pagi itu aku melihat senyum termanis dari ibu, sudut mata ibu sedikit berkaca, terharu. Dan wanita cantik di depan ku dia terus-menerus mencuri pandang kearahku, kita sempat bertemu, lalu Intan tertunduk, malu.
"Heemm baiklah, kau ada benarnya juga Syaf, kau harus lebih menjaga ibu" aku tersenyum. Kini aku sudah terbiasa dengan panggilan Arsyaf.
Tiga hari berlalu sejak percakapan singkat di meja makan. Semuanya kembali biasa. Aku menemukan pekerjaanku, membuka sebuah minimarket, ini satu-satunya cara agar aku punya luang waktu banyak bersama ibu. Setidaknya terserah aku mau buka minimarket itu sampai kapan.
Malamnya, aku kembali duduk diatas balkon tempat paling favorit sejak aku mulai bisa memanjat jendela kamar. Amat menentramkan menatap rembulan dari atas balkon ini. Kini lebih terasa karena mampu mengusir penat setelah seharian bekerja. Ku pejamkan mataku, meraskan sayup-sayup angin yang berhembus. Mendamaikan hati.
"Apa kau sering melakukan ini juga?"
Mataku terbuka seketika, kaget dengan suara yang tiba-tiba muncul.
__ADS_1
"Tatan apa yang kau lakukan disini?" Aku terlalu menikmati malam ini, sampai tidak sadar dia sudah duduk disebelah ku.
"Hanya Abang Arsyad yang tahu panggilan kecilku" katanya, dia tidak menjawab pertanyaan ku. Matanya terus menatap ke atas. Ah kenapa aku sering keceplosan seperti ini, aku mengepalkan tanganku, marah karena kecerobohan yang sering aku buat.
"Ma'af, aku juga tahu panggilan itu dari Bang Arsyad, aku suka, tapi kalau kau tidak berkenan aku tidak akan lagi memanggilmu Tatan"
Intan hanya diam, lalu menggeleng.
"Aku senang. Amat senang mendengarnya. Itu yang selalu aku tunggu dari bibir Bang Arsyad, memanggilku dengan sebutan kesayangannya. Tapi Bang Arsyad sudah berubah, ah bukan, dia tidak berubah, dia seperti bukan Bang Arsyad yang ku kenal"
"Kenapa kau bisa berkata seperti itu. Maksudku kau tahu Bang Arsyad masih belum sepenuhnya pulih dari ingatannya, dan kau satu-satunya penolong dia seharusnya, kalau ada yang berbeda dari Bang Arsyad itu masih diwajarkan bukan?"
Intan kembali menggeleng. Ada rasa takut dari wajahnya malam ini. Tiba-tiba air matanya mulai ikut menampakan diri.
"Ada apa?" Tanyaku bingung. Melihat perubahan drastis pada Intan membuat hatiku sakit. Seandainya saja dia belum menikah, seandainya saja dia menjadi milikku, aku takan biarkan air mata sedih itu membasahi pipinya.
"Ada apa?" Tanyaku lagi.
Tiba-tiba Intan dengan cepat menubruk ku, memeluk dengan erat, aku kaget, ingin sekali membalas pelukan itu, pelukan dari tubuh yang sangat ku rindukan, tapi ku urungkan, aku tidak boleh jadi penghianat saudaraku, aku tidak boleh jadi penjahat dalam selimut.
Aku mencoba rileks. Mengatur napas. Menenangkan hatiku sebelum ku tenangkan hati Intan. Sebulan terakhirsejak pernikahannya, aku memang belum melihat tawanya yang lepas seperti dulu. Cerewetnya yang ingin tahu ini itu, dan semua tingkah lakunya yang menggemaskannya.
"Kau kenapa Tan? Kau tidak boleh seperti ini, Abang Arsyad atau ibu akan berfikir yang tidak-tidak" Kataku. Aku tidak membalas pelukannya, tapi tidak pula melepaskannya.
"Panggil namaku" Katanya masih dalam pelukanku.
__ADS_1
"Apa?"
"Panggil namaku, aku akan melepaskannya"
"Intan" panggilku, berharap dia langsung melepaskan pelukannya.
"Tidak, nama kecilku"
"Ta. Ah tidak, panggilan itu hanya pantas Bang Arsyad yang panggil"
"Kalau begitu aku tidak akan melepaskan pelukan ini" ancam Intan, dia semakin erat memelukku.
"Kau tidak boleh seperti ini" Akhirnya tanganku memegang tubuhnya, mencoba untuk mendorong tubuh Intan dari tubuhku. Tapi dia justru semakin erat pelukannya.
"Panggil dulu" katanya dengan suara agak sedikit bergetar. Aku tidak punya pilihan lain, apa salahnya hanya memanggil nama kesayangannya.
"Tatan"
Intan benar-benar langsung melepas pelukannya, dia berdiri, pergi begitu saja dari hadapan ku. Setelah turun dari jendela menuju kamar, Intan sempat mengatakan kata-kata yang mampu membuat aku tertegun mendengarnya.
"Dari dulu sampai sekarang, memang bibirmu yang pantas memanggil nama kecilku"
Deg
Malam itu, menjadi malam seribu pertanyaan untuk ku. Akankah Intan tahu siapa aku sebenarnya?
__ADS_1
Next....