Tentara ku Pahlawan ku

Tentara ku Pahlawan ku
Episode 31


__ADS_3

Besok sorenya, aku memasukan beberapa baju kedalam tas. Membawa berkas-berkas penting minimarket. Bersiap-siap berangkat dengan ibu ke kota.


"Kau sudah siap nak?"


"Sudah bu"


"Ada yang tertinggal?"


"Sepertinya tidak ada" Aku menaruh tas bawaan ku di atas meja, lalu pergi kedapur mengambil beberapa minuman di kulkas. Menaruhnya di tas kecil. Sedikit bekal.


"Hari ini aku yang akan mengantar" Arsyaf sudah siap dengan kunci mobilnya ditangan, dan aku melihat Intan disamping tas bawaan ku.


"Ibu pamit dulu sayang, selama kami tidak ada kau baik-baik di rumah"


"Baik bu" Intan mencium tangan ibuku, ibuku membalas mencium keningnya. Ah tentram sekali hati ini melihat wanita-wanita yang paling aku cintai begitu akrab.


"Hati-hati bang"


"Yah"


"Yah" aku dan Arsyaf hampir bersamaan menjawab sapaan Intan.

__ADS_1


"Hati-hati juga Bang Arsyaf. Jaga ibu baik-baik" Intan menyapa ku juga, tapi dia lebih menekan saat memanggilku dengan nama Arsyaf.


"Kau tidak perlu khawatir" jawabku.


Semuanya sudah siap. Mobil melaju di jalan, melewati beberapa gang-gang perumahan lalu tiba dijalan raya.


Selama perjalanan aku banyak membahas ini itu dengan ibu, sesekali Arsyaf juga menambahkan ceritanya, menjawab beberapa pertanyaan. Perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar 4 jam itu kami habiskan dengan cerita, menambah keakraban antara anak dan ibu. Sayangnya aku belum bisa bercerita menjadi diri sendiri, masih banyak kebohongan yang ku tutupi, cerita yang hanya ku ucapkan dalam hati.


"Ibu silahkan tunggu disini, Arsyaf mau pesan kamar hotelnya dulu" kataku setelah sampai di kota.


Sampainya ditempat, aku memesan kamar hotel dengan dua tempat tidur. Untuk beberapa hari. Aku mengeluarkan kartu kredit, hendak membayar. Tapi pelayan hotel malah memberiku sebuah kertas.


"Apa? Selama satu bulan? Siapa orang itu?"


"Dia hanya memberikan pesan lewat kertas ini, silahkan anda baca dulu, mungkin bisa menjawab dari pertanyaan anda. Ada satu pesan lagi yang orang itu sampaikan lewat saya, katanya anda tidak boleh memberi tahu masalah ini dulu pada ibu anda tuan"


"Hanya itu?"


"Iya"


"Baik terimakasih"

__ADS_1


"Sama-sama, semoga anda dan keluarga merasa nyaman dengan layanan kami"


Aku menjawabnya dengan senyum, lalu mengambil kerta yang diberikan pelayanan itu. Ku buka sebelum ku temui ibu.


"Ayah, ini surat dari ayah" kataku lirih.


'Untuk anakku Arsyad. Ayah senang melihat kalian baik-baik saja. Ayah sudah tahu semua rencana mu untuk pergi ke kota, jadi ayah juga menyusun rencana. Ma'af tidak memberi tahumu soal pemesanan dan pembayaran hotel, ayah harap kau mau menerima sebagai hadiah untuk mu.


Ayah masih menunggu ibu. Cuma ma'af nak, ayah tidak bisa lagi menunggu terlalu lama. Dan ayah butuh bantuan. Temui ayah besok sore di restoran cafe hotel ini. Salam rindu, Ayah'.


"Kau sedang membaca apa nak?"


"Ah tidak bu, hanya sebuah pesan untuk besok. Ayo bu, Arsyaf sudah pesankan kamarnya, kita kesana melihat kamarnya. Ibu juga pasti lelah"


Ku lipat pesan kertas itu kedalam saku. Bergegas mengajak ibu dan adikku melihat kamar hotel yang sudah ku pesan, ah bukan, ayah yang pesan.


"Wah, kamar yang indah" Kata ibu.


Tentu saja indah, ayah memesan dengan hotel kelas VVIP untuk satu bulan, tentu biayanya tidak perlu lagi dibicarakan, untuk kamar hotel kelas VVIP Hampir tembus 3,5 juta perhari, hanya tinggal dikalikan dalam satu bulan bukan. Dari dulu ayah memang tidak berubah kalau urusannya untuk ibu. Selalu memberikan semuanya yang terbaik.


Next...

__ADS_1


__ADS_2