Tentara ku Pahlawan ku

Tentara ku Pahlawan ku
Episode 5


__ADS_3

"Baiklah, apa yang ingin adik Abang tahu?, tanyakanlah"


Intan terdiam, mungkin sedang memikirkan pertanyaan atau marangkai kata pertanyaan yang tepat.


"Bagaimana selama pelatihan bang? Apa Abang tersiksa?"


Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Intan, aku diam sejenak, merefresh kembali ingatan ku sejak di kampung pelatihan.


"Tersiksa tidak, hanya saja harus punya kekuatan untuk mampu bertahan, kau ingat sebelum Abang masuk sekolah militer, ibu Abang itu selalu melatih Abang dengan keras, katanya 'tidak ada tidur pagi, setelah subuh kau harus bersiap-siap pemanasan lari, lari sejauh yang kau mampu' Abang berlari sampai kaki ini mati rasa karena saking lelahnya, itulah masa-masa dimana Abang merasa tersiksa"


"Berapa jauh Abang berlari?"


"Jauh, sangat jauh menurut Abang saat itu, tapi ibu tidak pernah membiarkan Abang berhenti selama kaki Abang masih mampu melangkah, 'terus berlari, apa kau hanya bermimpi menjadi tentara kalau segini saja kau sudah menyerah, ibu bilang lari' katanya terus menyuruh Abang lari, setiap hari, terus seperti itu setelah sholat subuh"


Aku menelan ludah, membasahi tenggorokanku sebelum ku ceritakan kembali kisahku.

__ADS_1


"Tiga bulan berlalu, Abang terbiasa dengan lari tanpa jarak tempuh itu, bahkan tidak lagi ditemani ibu yang menggunakan sepeda saat menemani Abang, Abang pulang dengan hasil lari lebih dari jauh dari lari sebelumnya, dan sampai rumah ibu sudah menghadang didepan pintu, katanya"


"'Bagus, hari ini kau baru boleh masuk setelah selesai push up, shit up, dan pull up masing-masing 50 kali', Kata ibu saat itu tanpa bertanya apakah kau lelah? Apakah kau masih kuat? Apakah kau ingin istirahat? Perintah ibu harus Abang kerjakan waktu itu juga, satu Minggu tanpa henti setelah lari dengan jarak lebih jauh, dan harus berakhir dengan puhs up, shit up, pull up, dengan jumlah yang terus bertambah"


"Apa Abang tidak lelah?" Tanya Intan, dia sangat suka memotong ceritaku.


"Diawal Abang lelah, bahkan sempat berfikir berhenti menjadi tentara, tapi ibu malah bilang 'kau jadi tentara atau tidak, perintah ibu akan tetap sama', jadi Abang terus melanjutkan aktifitas pagi itu sebelum berangkat sekolah, 3 bulan berlalu lagi, Abang mulai terbiasa, ternyata tidak sampai itu semuanya selesai, ibu bilang 'mulai sore ini kau berlatih dengan Tante Diana' Abang tanya, berlatih apa? 'berlatih bela diri, apalagi' kata ibu"


"Apa? Abang berlatih dengan mama? Apa mama bisa bela diri?"


"Dari mana Abang tahu?" Intan memasang muka penasaran.


"Dari catatan yang ditulis ibuku"


"Boleh aku membacanya bang" Intan memegang tanganku, memohon.

__ADS_1


"Tentu, ini Abang sudah menyalinnya" Intan menerima buku hasil salinan catatan ibu, aku juga menulis dijudul buku sampulnya sama dengan ibu, LELAKI MISTERIUS. Aku tidak ada niat untuk meniru, aku juga belum pernah bertemu ayahku, bagaimana rupa ayah dan apa yang sebernanya terjadi. itulah kenapa akau menulisnya dengan judul yang sama.


"Intan akan baca nanti, Abang lanjutkanlah cerita Abang dulu, Abang belum cerita selama ditempat latihan"


"Ditempat latihan, Abang menjadi yang terbaik, tidak ada yang wah menurut Abang, Abang disuruh lari jarak 10 km, Abang sudah terbiasa lari lebih jauh dari itu, Abang disuruh puhs up, shit up, pull up, dan yang lainnya, Abang sudah terbiasa dengan jumlah ratusan, dikampung latihan Abang selalu lolos seleksi, menjadi terbaik dari lain, semuanya berjalan dengan lancar, dari sini Abang selalu tersenyum setiap tahapan demi tahapan selesai, Abang teringat ibu, inilah tujuan ibu melatih keras Abang, Abang sampai menyesal pernah mengeluh karenanya"


"Tapi walau bagaimanapun menjadi tentara sangatlah tidak mudah, benarkan bang?"


"Iyah benar, kalau tidak terbiasa dengan latihan keras, kau hanya akan jadi bahan tertawaan disana, sudah kau baca dulu salinan catatan ibuku, harus selesai besok, itu akan Abang bawa ke Singapura"


"Heemm baiklah"


Aku menatap Intan, dia mulai membuka lebar demi lembar salinan cerita ibuku, sesekali bertanya tentang apa saja yang ada dicatatan.


Saat itu juga aku teringat ibu dirumah. Terimakasih ibu, tanpa mu, aku bukanlah apa-apa, tunggulah anakmu melanjutkan pengalaman mu, aku berjanji akan menjemput kebahagiaan mu yang tertunda.

__ADS_1


Next....


__ADS_2