Tentara ku Pahlawan ku

Tentara ku Pahlawan ku
Episode 19


__ADS_3

Pukul 05.00, Kami sampai di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Keluar dari bandara orang-orang berseragam hitam yang sudah siap dengan lima mobil dibelakangnya, menyambut kami dengan segan. Dalam hati aku bertanya-tanya, 'kapan ayah mengintruksikan mereka untuk menjemput?' tapi lain dari itu, aku melihat wajah ayah tak seceria pertama berangkat dari Singapura.


"Ayah baik?" Aku melihat wajah sedikit pucat.


"Ayah baik, ayah hanya masih ragu" jawabnya.


"Yakin saja yah, apapun yang terjadi jadikan ini kesempatan terakhir, Arsyad yakin ayah bukanlah seorang penakut, sifat pemberani itu masih melekat, hanya saja ia tertutup rasa bersalah ayah, maka kuncinya hanya satu, katakan ma'af dulu" kataku, mencoba untuk bisa membuat ayah lebih tenang.


"Kau benar nak, sekarang yang ada dibenak ayah adalah rasa bersalah yang terus bergentayangan seperti hantu, ayah akan mencoba yang terbaik nanti, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini" Aku tersenyum melihat ayah kembali dengan kepercayaannya.


Perjalanan dari Bandara kerumah masih membutuhkan satu jam lebih. Pemandangan asri Kota Jakarta, mambuat ayah lebih banyak termenung memandang apapun yang terlewati, tapi aku tahu ayah tidak benar-benar melihat pemandangan itu atau bahkan hanya sekedar mengaguminya. Jiwa dan raga ayah berbeda, raganya jelas sedang bersama ku didalam mobil ini, tapi jiwa ayah, aku yakin ia sedang membayangkan jika sudah berhadapan dengan ibu nanti, apa saja yang akan ia lakukan.


"Ayah"


"Heemm"

__ADS_1


Ayah bahkan tidak sedikitpun menjawab dengan melihat kearahku, itu artinya tebakan ku benar.


"Apa ayah tahu keberadaan kakek dan nenek dari ibu?" Tanyaku, mencoba memecah suasa hati ayah yang sedang kalut.


"Kakek dan nenek dari ibu? Ah mereka sekarang berada di Belanda nak"


"Belanda? Sedang apa mereka disana yah? Ibu bilang mereka baru pulang kalau aku akan menikah"


"Benarkah? Jadi kau belum pernah bertemu satu kali pun dengan kakek dan nenek?" Aku menggeleng sebagai bentuk menjawab pertanyaan ayah.


"Apa mereka benar-benar akan pulang setelah Arsyad akan manikah yah?"


"Kalau ibu mu yang mengatakan itu, artinya benar"


"Tapi masih lama yah, apa ayah tidak bisa menjemput atau membujuk mereka untuk pulang, Arsyad ingin sekali melihat mereka?"

__ADS_1


"Masih lama atau tidaknya bukankah itu tergantung pada kau sekarang? Kalau kau menikah hari ini, kakek dan nenek pasti sudah ada dihadapan mu, jadi ayolah jangan kau tunda-tunda lagi pernikahannya" kata Ayah menahan senyum.


"Ayaaah" Aku merajuk malu. Tapi juga senang karena berhasil membuat ayah tak melamun lagi.


"Hahaha, tapi itu memang benar bukan?"


"Iya mungkin. Ayah kenapa Arsyad mengira dalam cerita keluarga kita itu banyak yang sekali yang aneh yah?"


"Maksudnya?"


"Terlalu banyak teka-teki, contohnya tadi, kenapa ayah tidak langsung menceritakan saja yang sebenarnya terjadi, kenapa harus menunggu kakek dan nenek pulang, dulu Tante Diana juga tidak mau menceritakan tentang ayah, dia bilang 'kau harus bertanya sendiri pada ayah mu' kenapa begitu yah?"


Ayah diam, menarik nafas dalam, ada jeda sebelum menjawab pertanyaan ku. Aku juga hanya mampu menunggu.


Next....

__ADS_1


__ADS_2