
"Karena keluarga kita bukan orang sembarangan, sejak dulu kita dididik untuk tidak terlalu bercerita panjang lebar tentang keadaan seseorang hari ini atau apa yang terjadi kepada mereka, sedang kita tidak tahu persis bagaimana sebenarnya, karena jika terjadi dan ternyata yang diinformasikan salah, maka hukuman berat akan menanti didepan suatu hari nanti"
"Benarkah? Sampai seperti itu?"
"Yah memang begitu, dan itu berlaku walaupun dia adalah keluarga dekat, teman atau masih ada saudara"
"Wah jadi seperti itu"
"Memangnya apa yang ingin kau tahu tentang ayah?"
"Banyak, ibu menulis dalam buku catatannya tentang ayah dengan sampul LELAKI MISTERIUS, dan itu membuat Arsyad ingin bertanya banyak pada ayah"
"LELAKI MISTERIUS? Apa ayah semisterius itu? Kau lihatlah tampang ayah, apa ada yang mencurigakan?" Ayah memasang muka senyum.
"Hahaha, kalau melihat ayah yang sekarang memang tidak ada yang misterius"
"Memang tidak ada, ayah juga laki-laki biasa, mungkin ibu mu masih bingung kenapa ayah bisa melakukan itu pada ibu mu, kapan-kapan ayah aka menceritakan semuanya"
"Kenapa tidak sekarang saja yah?"
"Karena 10 menit tidak cukup untuk menceritakan kisah panjang ayah, kita sebentar lagi akan sampai nak"
__ADS_1
Pandangan ayah berpindah ke depan menuju jalan lorong kerumah ibu, tak terasa ternyata memang sudah mau sampai, dan ayah benar tinggal 10 menit lagi agar sampai dirumah ibu.
"Ayah sudah siap?"
Ayah tidak menjawab pertanyaan ku, ia hanya terus memandang gerbang depan rumah ibu tanpa ada tanda-tanda ingin langsung turun.
"Ayo yah, Arsyad yakin ayah bisa"
Ayah tetap tak bergeming, tangannya sedikit gemetar, aku tidak tahan lagi harus menunggu ayah yang terus memandangi gerbang rumah. Aku membuka pintu mobil berinisiatif keluar dulu, berjalan kesamping pintu mobil ayah, membukanya.
"Ayo yah" aku memegang tangannya, sedikit menarik agar ayah mau keluar dari mobil.
"Tunggu nak, tunggu" Suara ayah ikut sedikit bergetar. Aku tahu ayah gugup.
"Apapun yang terjadi, tolong jangan tinggalkan ayah nak" Mata ayah menatap lekat kearahku.
"Tidak akan"
Aku menggandeng tanga ayah, sedikit menariknya agar mau berjalan, tangan ayah benar-benar dingin, terasa keringat dingin di telapak tangannya.
"Assalamualaikum bu" Tidak ada jawaban. Pegangan tangan ayah semakin erat, saat ku ucapakan salam pada ibu. Belum sempat aku membuka pintu rumah, seseorang sudah lebih dulu membukanya untuk kami.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam" ceklek, pintu rumah terbuka.
"Arsyad kenapa kau kembali, ibu kan sudah bilang untuk menunggu saja disana, dan kenapa" Prang!!! beberapa piring yang ibu pegang terjatuh setelah melihat siapa yang aku bawa. Ibu melihat ayah dan aku melihat raut wajah ibu yang begitu syok.
"Kenapa kau membawa orang ini? usir dia pergi nak, jangan biarkan ibu mu melihat wajah hantu itu" Ibu berjalan mundur wajahnya masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tenanglah dulu bu, ini ayah"
"Tidak! ayah mu telah tiada, kau tau itu, ibu sudah mengatakannya berulang kali" Ibu mulai menunjukkan emosinya, nada benar-benar nada sangat marah.
"Bu! Ayah bicaralah! Jangan hanya diam" Nadaku sedikit meninggi. Ayah mulai mendekati ibu.
"Bawa orang itu pergi! jangan mendekat! pergi!" Ayah terus berjalan, tanpa sedikitpun berkata.
"Aku bilang pergi! Jangan mendekat! pergi, aku mohon" Air mata ibu mulai menetes, ibu sangat terlihat ketakutan.
"Elis" Panggil ayah pelan.
"Stop! Jangan panggil namaku, jangan mendekat, aku mohon pergi dari sini" Ibu terus meronta, berjalan mundur, tapi tatapannya terus melihat kearah ayah.
Aku ingin sekali menangis melihat keadaan ibu yang belum mau menerima kedatangan ayah. Syok, itu yang pasti ibu rasakan saat ini. Dan aku, lagi-lagi aku hanya mampu menunggu dan menunggu,
__ADS_1
"Apa yang akan ayah lakukan?"
Next....