
Ayah dan kakek terdiam, masih belum percaya dengan jawaban yang ku ucapkan tentang ibu.
"Ya Tuhan, kau memang anak Nona Elis, kau cucu Kakek" Kakek mulai berkaca-kaca. Aku tersenyum, ibu dulu sering bilang, kakek adalah orang paling tegar dalam situasi apapun. Tapi lihatlah sekarang aku melihat air matanya tertahan disana.
"Arsyad, apa kau Arsyad Anggara Diningrat?" Tanya ayah masih dalam suasana tak percaya.
"Ibu dulu pernah mengatakan itu, tapi saat umurku 4 tahun pertama kali aku mulai bisa membaca, aku menemukan sebuah buku, disana ada fotoku ketika bayi dan dibawahnya tertulis ARSYAD ANGGARA DININGRAT, aku bertanya apa itu namaku? Tapi ibu bilang namaku hanya Arsyad Anggara, tidak ada tambahan Diningrat, ibu bilang 'kita hanya dari keluarga biasa nak, jadi tidak perlu ada tambahan Diningrat'"
Setelah aku mengatakan itu, ayah berlari kearahku, memelukku dengan erat, aku membalasnya, pelukan yang ku inginkan, pelukan seorang ayah yang ku rindukan.
"Ayah"
Suaraku bergetar memanggil ayah, hatiku berdebar bahagia, ayah terisak dalam pelukanku, aku tersenyum. Lihatlah Bu, lihatlah ayah sekarang, dia tidak lagi seangkuh dulu, dia tidak lagi sekeras dulu, lihatlah, ini adalah tanda ayah lebih merindukan mu, tanda bahwa ayah lebih tersiksa karena mu, kau tidaklah kalah, kaulah pemenangnya bu.
"Ma'afkan ayah nak, ma'afkan ayah baru bisa menyadari kehadiran mu, ma'afkan ayah sudah menganggap mu Arsyaf, ma'afkan ayah tidak hadir dalam masa pertumbuhan mu, ma'afkan semua kesalahan ayah nak, semuanya" Ayah berusaha untuk berbicara ditengah-tengah isak tangisnya.
"Arsyad ma'afkan yah" Aku juga menangis, menangis terharu dan bahagia.
"Kalau kau Arsyad, lalu dimana Arsyaf!" Ayah langsung melepas pelukannya setelah mendengar pertanyaan kakek.
__ADS_1
"Apa Arsyaf ada digedung penculikan itu juga yah?"Tanyaku.
"Benar nak, Arsyaf ada disana, dia menjadi salah satu korban penculikan penjahat kelas kakap. Pengawal menemukan mu dalam keadaan pingsan. Kenapa kau juga ada disana nak?"
"Arsyad datang dalam sebuah misi penyelamatan sandera warga negara Indonesia yah, bergabung bersama anggota KOPASSUS disana, yang Arsyad ingat adalah pukulan keras sebelum Arsyad tumbang, setelah itu tidak ingat apa-apa lagi, Arsyad bahkan belum sempat melihat para sandera"
"Apa kau menjadi anggota KOPASSUS nak?" Tanya kakek.
"Bukan kek, Arsyad masih berpangkat Tamtama prajurit satu"
"Prajurit satu? lalu kenapa bisa ikut misi dibawah pasukan KOPASSUS?"
"Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya, kau persis seperti kakek kandung mu nak, kakek Dapunta Hyang Sri Jayanaga, beliau adalah seorang anggota KOPASSUS terbaik pada masanya, itupun karena selama latihan dia selalu menjadi yang terbaik dari anggota lainnya, dan sekarang itu menurun pada cucunya"
Aku tersenyum, ayah juga tersenyum bangga melihat ku.
"Lalu bagaimana dengan Arsyaf yah?"
"Ayah akan mencarinya, untuk keselamatannya kau tidak perlu khawatir, merak tidak akan berani melukai adikmu, mereka hanya ingin satu benda yang sudah tidak ada pada ayah"
__ADS_1
"Benda? benda apa itu yah?"
"Sebuah arloji"
"Arloji? tunggu" Aku langsung pergi kekamar, mencari sebuah tas yang ku bawa selama perjalanan misi, aku membuka tempat paling rahasia dari tas itu, mengambil sesuatu disana.
"Apa ini yang ayah maksud" Aku menunjukkan sebuah arloji yang ibu berikan sebelum aku berangkat.
"Darimana kau mendapatkan ini nak?" Ayah dan kakek terkejut.
"Ibu yah, ibu yang memberikan ini untuk Arsyad"
Ayah terdiam, kepalanya langsung menunduk seketika, kesedihan yang mendalam terlihat sekali dari raut wajahnya.
"Apa ibu mu baik nak?" Ayah bertanya dengan suara hampir tak terdengar.
"Ibu baik yah" Ayah memang menunduk, tapi aku tahu ayah sedang menangis kembali, tetesan air matanya terlihat berjatuhan kelantai.
"Lihatlah ibu, bagaimana ayah lebih merindukan mu" Hatiku tersenyum.
__ADS_1
Next.....