Tentara ku Pahlawan ku

Tentara ku Pahlawan ku
Episode 18


__ADS_3

"Arsyad janji" Kataku dengan tegas.


"Setelah kepergian Novita, dan setelah membaca tulisan dari buku kecil itu, ayah sempat terpuruk, bingung harus berbuat apa, cerita itu bagiakan ombak besar yang menghantam hati ayah, kau pasti tahu bagaimana sifat ayah yang dulu" Aku mengangguk, lalu kembali mendengar cerita ayah.


"Sifat egois ayah yang sudah tertanam sejak kepergian kakek dan nenek kau, bagaikan kotoran yang tersapu ombak, saat itu hati ayah bergetar, rasa asing yang tiba-tiba masuk dalam hidup ayah membuat ayah goyah tak berani menemui ibumu"


Aku mendengar cerita ayah, dan pikiranku terus membayangan keadaan ayah saat itu.


"Ayah selalu mengawasi ibu mu selama masa kehamilannya, tak pernah telat mengirimkan uang bulanan yang ayah titipkan pada sahabat terbaik ibumu, Diana"


"Aku memang sering melihat Tante Diana membawa sebuah amplop coklat, ternyata itu berisi uang dari ayah"


"Hemm benar nak, ayah hanya mampu melakukan itu dan mengawasi ibu mu dari jarak jauh. Sampai pada masa kalian dilahirkan, ayah menyuruh seseorang untuk bisa standby 24 mengawasi ibumu"


"24 jam yah?"

__ADS_1


"Yah, 24 jam tanpa henti, ada enam orang yang ayah bayar, semuanya mampu mengerjakan tugasnya dengan baik. Dan kabar mencengangkan datang dari salah satu dokter waktu ibumu dibawa kerumah sakit karena kontraksi, dia bilang, 'istri anda mengandung bayi kembar' katanya, ayah sangat bahagia, tapi nyali ayah masih pencundang yang hanya mampu menatapnya dari luar tempat persalinan, sampai..."


Cerita ayah terjeda, membuat rasa penasaran ku semakin dalam.


"Sampai apa yah?"


"Sampai ayah terpikirkan rencana gila, ayah ingin salah satu diantara kalian hidup bersama ayah, ayah membayar salah satu dokter untuk melaksanakan perintah ayah, awalnya dokter itu menolak dia adalah dokter baik yang selalu menta'ati kode etik atau sumpahnya, tapi ayah memaksa, mengancan, melakukan apapun supaya dia mau melaksanakan perintah ayah"


"Dan dokter itu mau yah?"


Siapa yang pegang mik dialah yang berkuasa, begitulah kira-kira kata kiasan yang cocok untuk ayah, dia memegang harta berlimpah, berkuasa karena punya keturunan berpengaruh, siapapun orang yang berhadapan dengannya akan tunduk karena berbagai alasan, mungkin ada yang tergila-gila dengan harta sehingga mau mengekor terus dibelakang ayah, ada yang mau karena suka rela, paksaan, ancaman, atau lain sebagainya.


Intinya ayahlah yang memegang mik itu, sehingga saat dia ingin bernyanyi apapun, itu kehendaknya, tidak ada yang bisa melarang, mencegah, atau menuntut ayah menyanyikan lagu lain.


"Arsyad"

__ADS_1


"Heemm"


"Apa ibumu baik?"


Ah ya Tuhan, ini sudah kedua kalinya ayah menanyakan kabar ibu, aku tahu ayah juga sudah sangat rindu pada ibu, tapi ia terus menutupinya karena gengsi.


"Ibu akan lebih baik, kalau beliau sudah melihat ayah"


"Kau memang tahu bagaimana cara membuat orang lebih tenang, tapi apa kau yakin nak, ibumu masih mau menerima ayah?"


"Itu tergantung bagaimana ayah lebih berusaha, Arsyad hanya bisa berdo'a, semoga nanti tidak ada yang tidak diinginkan terjadi, semoga Tuhan Yang Maha Esa memihak pada kita yah"


"Aamin" Aku melihat wajah ayah penuh dengan harap, mungkin berharap ibu akan senang jika melihat ayah, berharap mema'afkan semua kesalahannya dimasa lalu, berharap ibu kembali menerima kehadirannya, atau lebih banyak lagi harapan yang lain.


Next...

__ADS_1


__ADS_2