
Teruntuk kakakku, dari adikmu satu-satunya.
"Tak terasa, perkenalan ini begitu cepat, rasaku baru kemarin saja mengenal mu sabagai kakak, aku juga tak menyangka hidupku bagaikan kilatan cahaya, begitu cepat sampai pada ujungnya.
Dalam hidupku aku hanya ingin cinta, cinta yang takkan ku tukar dengan kehidupan lain, segemerlap apapun itu. Dan cinta itu, ku harapkan hadir hanya darimu.
Tapi Tuhan seperti tak mendengar do'aku, kau telah membagi cinta pada orang asing dalam keluarga kita, cinta mu bagaikan lautan, luas dan dalam tak berdasar. Kau seperti kesetanan mengejar wanita itu. Kau benar-benar berubah, kakakku berubah 180 derajat.
Saat itu aku mulai ketakutan, takut akan kehilangan mu, takut karena cinta mu tidak akan sepenuhnya tercurah kembali untuk adikmu satu-satunya. Lalu aku mulai berfikir gila, menyusun rencana untuk menyingkirkan wanita yang kau kejar-kejar itu.
Pertama, aku masuk di Universitas yang sama dengannya, yah, di Universitas Nanyang Technological, kau pasti ingat kak, karena kau yang memaksa wanita itu untuk melanjutkan studinya disana. Di hari pertama itu, aku sudah menyerahkan sebuah foto wanita itu pada seseorang, rencana awalku adalah menyuruh seseorang untuk menabrak dirinya.
__ADS_1
Tapi kau pasti tidak tahu tentang ini, sebelum kecelakaan itu terjadi, penyakit ku kambuh, penyakit Dysautonomia yang sedang kuderita saat ini juga, penyakit yang sepertinya akan aku bawa sampai mati.
Saat itu aku memang kelelahan karena mengejar jam kuliahku yang sudah telat beberapa menit, tapi beruntung, kakak senior saat itu masih mengizinkanku masuk, aku mencari tempat duduk tepat disebelah wanita yang kau kejar-kejar sampai gila.
Aku besikap biasa, menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulutnya, tapi dihatiku aku menertawakannya dan berkata 'sebentar lagi kau akan mampus' sambil mengingat bahwa aku telah membayar seseorang untuk menbarak dirinya nanti setelah perkuliahan selesai.
Tapi hal yang tak terduga terjadi, penyakit sialan ini kambuh disaat yang tidak tepat, aku sesak nafas, kepalaku terasa sangat sakit, aku hanya menahannya karena gengsi ingin minta tolong pada wanita itu, tapi pertahanan ku hanya sebentar, rasa sakit yang amat sangat itu membuat tubuhku lemah, dan lambat membuat kesadaranku mulai hilang.
Kejadian tabrakan itu juga tak terelakan, tapi Tuhan selalu bersamanya, wanita itu selamat, bangun dari masa kritisnya, saat aku dengar kabar itu aku tidak tahu harus senang atau sedih, senang setidaknya aku bisa mengucapkan terimakasih padanya, sedih karena kau juga lebih menggila setelah kejadian itu.
Rasa takut akan kehilangan kakak satu-satunya terus menyelimuti hatiku, aku mulai frustasi, kembali terfikir untuk menyusun rencana kedua. Penculikan.
__ADS_1
Kau pasti juga ingat kak, penculikan yang terjadi di Kanada akulah yang menyusunnya, aku mengikuti semua pergerakan yang akan kau lakukan, mulai menyusun rencana, membayar seseorang untuk mengikuti setiap perjalanannya, mencari waktu yang tepat untuk menculiknya.
Aku berhasil, salahnya aku tidak langsung menyuruh penculik itu untuk membunuhnya, aku menyuruh untuk menunggu, menunggu kedatanganku, tujuanku memberikan kejutan padanya, dia pasti tidak akan menyangka yang melakukan penculikan itu adalah adik iparnya sendiri.
Tapi, lagi-lagi Tuhan bersamanya, kakak begitu cepat menemukan wanita itu sebelum aku sampai pada tempatnya. Dan itu menjadikan rencana ku gagal selamanya.
Puncaknya saat kau tahu semuanya, kemarahanmu, murkamu, membuatku drop, hidupku seperti pencahan gelas, tapi setidaknya aku senang, adikmu ini berhasil membuat mu pergi menemuiku, dan meninggalkan wanita itu, berjanjilah lah ka, setelah kau membaca tulisan ini, kau tidak akan menemuinya lagi, aku mohon ka, ini permintaan terakhir ku"
Buk! Buku kecil itu terjatuh dari tanganku, bagaimana mungkin Tante Novita sejahat itu, bahkan disaat akhir hayatnya, dia tetap tidak mau melepas ayah untuk ibu.
Next...
__ADS_1