
Selama perjalanan, kami mendengarkan intrusi kepala komando dari awal turun pesawat, penyelamatan sandera, sampai kepulangan.
"Prajurit komando!"
"Siap!" Jawab serentak bersamaan.
"Siap tuntaskan misi"
"Siap!"
"Siap selamatkan para sandera!"
"Siap!"
"Siap pertaruhan nyawa"
"Siap!"
"Laksanakan! dengan ini Tuhan menyertai kita, komando!"
"Komando!"
Helikopter tipe Apache AH 64E yang dilengkapi dengan senjata-senjata canggih milik TNI AD siap mendarat.
Helikopter tempur ini, memiliki senjata utama, yaitu meriam rantai M230 berkaliber 30 mm.
Helikopter Apache AH 64E juga bisa membawa persenjataan lain seperti gabungan rudal anti tank AGM-114 Hellfire, roket kegunaan am tanpa panduan 70 mm (2.75 in) Hydra 70 dan rudal udara ke udara AIM-92 Stinger.
Dalam hal ini, helikopter tipe Apache AH 64E sangatlah membantu perjalanan misi penyelamatan sandera.
__ADS_1
"Persiapan turun, kita sudah sampai diperbatasan negara Indonesia- Singapura, harus lebih berhati-hati, musuh sudah didepan mata"
"Siap"
"Pasukan satu, turun!"
Kelompok yang terdiri dari 4 anggota kopassus langsung mengikuti intrusi turun dari pesawat. Ada jeda sekitar lima menit berikutnya.
"Pasukan dua, turun!" Pasukan dua terdiri dari kepala komando, dua anggota kopassus dan aku sendiri. Siap langsung turun dari pesawat.
"Pasukan tiga, siap siaga!"
"Siap!" Pasukan tiga terdiri dari pilot anggota kopassus yang terus berjaga didalam pesawat dan harus siap saat dibutuhkan.
Kami turun, berjalan mengikuti kepala komando didepan, sesekali posisi kami berganti, terus mendobrak gedung kosong yang menjadi tempat para sandera
"Pasukan satu naik!" Perintah kepala komando.
Setelah jarak dari para penjahat cukup dekat, kami langsung memasang posisi siap menyerang, sebelum beraksi, kami sempat mendengar pembicaraan mereka dalam bahasa Inggris.
"How many ransoms will we ask for?" Salah satu dari anggota penjahat bertanya pada teman yang lainnya, 'Berapa tebusan yang akan kita minta?'.
"Two billion head" Dua miliar perkepala, jawab salah satu dari mereka. Aku sedikit tercengang dengan jumlah tebusan yang akan mereka minta.
"There are three captives, meaning we can get six billion" 'Ada tiga tawanan, artinya kita bisa mendapat enam miliar'.
Kepala komando langsung mengintruksikan untuk bersiap menyerang, aku mengangguk dengan mantap, mengintruksikan dalam hitungan ketiga mendobrak pintu dan masuk. Jari kepala komando terhitung dari tiga, dua, satu, jebret! pintu terbuka dengan keras.
"Raise your hands!" 'angkat tangan kalian!' kata kepala komando. Aku langsung menodongkan senjata pada mereka.
__ADS_1
"Who are you guys" 'Siapa kalian?' tanya salah satu penjahat.
Aku melihat raut wajah kepanikan mereka, ada enam anggota penjahat didalam ruangan itu, dua diantaranya langsung mengambil senjata, tapi sebelum mereka berhasil menarik pelatuk, aku berhasil menebak lebih dulu, dua orang jatuh tersungkur.
Empat orang lainnya juga bersiap menodongkan senjata mereka, senapan yang mereka gunakan bertipe Colt revolving rifles, aku sedikit tersenyum, senapan itu adalah senjata api dengan model senapan. Ada banyak sekali kekurangan yang akan ditemukan di senapan ini. Salah satunya kebocoran gas di bagian silinder ketika menembak.
Aku dapat memanfaatkan ini dengan mudah, dorrr! Salah satu dari mereka menebak, sasaran utama adala kepala komando, syukur, tembakan itu tiada arti, karena kepala komando lebih cepat menghindar, aku memanfaatkan situasi ini dengan sebaik mungkin, saat kebocoran gas benar-benar terjadi membuat mereka sedikit kehilangan konsentrasi dan aku langsung menembak mereka dengan mudah.
Empat penjahat itu sekaligus terkapar tak berdaya. Aku mendekati mereka mengecek apakah mereka masih bisa melawan atau tidak.
"kerja bagus" kata kepala komando padaku. Aku tersenyum sedikit.
"kita keatas!"
"Siap!"
Kami pergi keatas, menyusul kelompok dua yang ditugaskan langsung pada titik tempat sandera. Tapi sebuah kejutan datang sebelum kami keluar dari ruangan. Dorrr!
"Ah" Kepala komando reflek berteriak saat satu perluru berhasil mendarat di punggungnya.
"Kepala komando!" Aku menangkap tubuhnya, menyeret untuk keluar dari ruang itu. Setelah merasa aman, aku langsung masuk kedalam, mencari dalang dari penambak itu. Ternyata memang ada satu yang masih mampu menggunakan senjatanya.
"Sit!" Aku berteriak, menembak dengan brutal para penjahat itu. Entah mereka yang sudah terdiam atau yang barusan menebak kepala komando, masing-masing dari penjahat itu, menerima tiga tambakan dariku.
"Hentikan!"
Aku mendengar perintah itu dari luar, perintah atasan yang terdengar sayup-sayup ditengah-tengah tembakan ku, tapi berhasil membuatku menghentikan aksi brutal ku sendiri. Aku langsung pergi menemui kepala komando, dengan wajah merasa bersalah.
"Seorang prajurit tidak seharusnya bertindak dengan emosi!" Bentakan kepala komando membuatku sadar dengan kesalahan yang baru aku lakukan.
__ADS_1
Next....