
Ibu menyuruh Arsyaf bergegas pulang. Karena ibu tidak mau Intan terlalu lama ditinggal sendirian di rumah.
Aku melepas jaket motif tentara ku. Tersenyum melihat ibu sedang menatap pemandangan malam dari jendela kamar.
"Bagaimana kau membayar semuanya nak?" Ibu duduk di sofa depan tv.
"Ibu tidak perlu memikirkannya"
"Ibu hanya ingin tahu"
"Aku punya tabungan khusus untuk membahagiakan ibu" Aku menyambar handuk, ku lingkarkan di pundak. Menjawab sekenanya.
"Sejak kecil kau tidak pernah bersama ibu, tapi kau persis seperti Arsyad dulu. Kau tahu dan mampu membuat ibu terkagum padamu. Lihatlah Abang mu yang sekarang, dia benar-benar asing dihadapan ibu, seperti tidak pernah hidup bersama sejak bayi"
Aku mendekati ibu. Mengambil posisi duduk disampingnya. Mata ibu entah melihat apa. Itu seperti tatapan seseorang yang sedang mengenang masa lalu.
"Ibukan tahu, Abang tidak dengan sengaja melakukannya" Ibu diam. Tidak menanggapi perkataanku.
"Kau mau mendengarkan cerita ibu?"
__ADS_1
"Dengan senang hati bu" Aku mengambil posisi nyaman. Siap mendengarkan cerita dari ibu.
"Setelah Arsyad menyelesaikan misinya di Singapura. Dia pulang dengan kondisi tidak sadarkan diri. Ibu syok berat. Rasa takut akan kehilangan Arsyad yang ibu tahu saat itu satu-satunya anakku, merasuk dalam hati ibu. Ibu sempat menangis histeris selama perjalanan ke Rumah Sakit Tentara menuju kamar rawat inap. Ibu tidak peduli orang memandangi ibu seperti apa, tidak peduli saat orang-orang banyak membicarakan ibu yang menangis seperti orang gila. Ibu hanya tidak ingin kehilangan Arsyad. Tidak ingin kehilangan satu-satunya penguat dalam hidupku"
Ibu menghela nafas panjang, lalu melanjutkan kembali ceritanya.
"Sampai disana, Arsyad masih ditangani oleh dokter. Ibu tidak boleh masuk sampai semuanya selesai. 30 menit menunggu, dengan rasa cemas, rasa takut. Air mata terus berlinang. Lalu Intan datang dengan Tante Diana. Ibu semakin histeris menangis dalam pelukan Intan, lalu berganti ke Tante Diana. 'Yang sabar El, semua akan baik-baik saja' kata Tante Diana waktu itu. Lalu dokter keluar. Ibu langsung menghampirinya, menanyakan keadaan Arsyad. Dokter bilang...
"Dia baik-baik saja. Hanya ada permasalah disini"
"Permasalah apa dok?" Ibu semakin panik.
"Maksudnya dok?"
"Untuk sementara ini, ada beberapa memori ingatannya yang hilang, mungkin dia akan lupa apa saja yang pernah dilakukan, nama-nama keluarganya, intinya berhubungan dengan masa lalu"
"Maksud dokter. Anak saya amnesia?"
"Yah kurang lebih seperti itu. Tapi ibu tenang saja, amnesia ini bisa di sembuhkan. Kuncinya sabar. Melatih dia untuk mengingat apapun yang pernah dilakukannya. Mengenalkan nama-nama dalam keluarga misalnya. Tapi jangan terlalu memaksa, pelan-pelan saja" kata dokter.
__ADS_1
Hari itu hujan lebat. Angin bertiup kencang. Tetesan airnya terdengar sampai kedalam. Alam seperti ikut menyaksikan kesedihan ibu. Besoknya Arsyad sadar. Ibu sangat senang. Ibu selalu menunggu disampingnya. Tapi satu yang membuat hati ibu sakit. Arsyad bertanya 'anda siapa?'. Seketika hati ibu hancur, sedih teramat sedih. Arsyad benar-benar tidak mengenali ibu, dia benar-benar lupa semuanya. Lalu ibu teringat pesan dokter 'kuncinya sabar'. Yah ibu berusaha sabar. Melatih kembali ingatan Arsyad tentang siapa dia, siapa orang-orang yang ada disekelilingnya. Tapi setiap kali ibu membantu ingatannya, dia selalu kesakitan, mengaduh, berteriak, meminta berhenti siapapun yang bercerita tentang masa lalu yang belum bisa diingatnya.
"Arsyaf juga pernah mengalami itu Bu, benar-benar sakit sekali dipaksakan harus ingat" kataku. Memotong sebentar cerita ibu.
"Benar nak, ibu tidak lagi memaksa dia harus ingat semuanya. Pelan-pelan ibu mulai menerima. Dua minggu berlalu. Semuanya sama, tidak ada perubahan. Tiba-tiba Arsyad minta menikahi Intan. Harusnya ibu senang, bahagia mendengar keinginan Arsyad. Tapi pernikahan itu tidak seharusnya terjadi" Ibu diam. Seperti enggan untuk melanjutkan ceritanya.
"Kenapa bu. Bukankah itu yang ibu inginkan"
"Pernikahan orang dalam keadaan amnesia apakah itu diperbolehkan nak? Apakah itu dianggap sah?"
"Maksudnya bu?"
"Pernikahan mereka tidak sah nak. Arsyad dalam keadaan belum sepenuhnya pulih dari ingatannya. Dia masih dalam keadaan bingung"
Hatiku seperti terhantam beton. Ibu benar, pernikahan mereka tidaklah sah. Apalagi setelah Arsyaf sadar dari ingatannya. Dia pasti tahu dirinya adalah Arsyaf. Tapi saat pernikahan itu, dia menggunakan namaku.
"Ibu benar. Pernikahan mereka tidaklah sah. Lalu kenapa mereka tetap menikah bu?"
Malam itu, aku menghabiskan waktu bersama ibu, mendengarkan semua cerita panjang ibu.
__ADS_1
Dalam hati aku mulai menyusun rencana, apa yang harus aku lakukan pada intan.