Tentara ku Pahlawan ku

Tentara ku Pahlawan ku
Episode 1


__ADS_3

#Arsyad Anggara


Sumpah TNI


Demi Allah saya bersumpah / berjanji:


1. Bersikap ramah tamah terhadap rakyat.


2. Bersikap sopan santun terhadap rakyat.


3. Menjunjung tinggi kehormatan wanita.


4. Menjaga kehormatan diri di muka umum.


5. Senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaannya.


6. Tidak sekali-kali merugikan rakyat.


7. Tidak sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat.


8. Menjadi contoh dan memelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya.


Ketika salah satu sumpah itu terlantun dari mulutku, hatiku begitu gigih memegang sumpah itu, berjanji untuk menta'ati dan melaksanakan dengan sepenuh hati.


Selain itu, hal terpenting yang harus senantiasa melekat dalam diri seorang Prajurit adalah setiap tugas bagi Prajurit merupakan suatu kehormatan, harga diri dan kebanggaan yang harus dilaksanakan secara paripurna.


Ketika tugas diberikan oleh pimpinan, maka aku harus mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki, seluruh daya dan upaya harus dicurahkan untuk keberhasilan tugas satuan.


"Tatan" Aku memanggil teman kecilku.


"Bang Arsyad, kapan abang pulang?" Dia langsung berlari menghampiri ku.

__ADS_1


Seorang wanita yang aku panggil Tatan memiliki nama lengkap Intan Permata, Tatan adalah panggilanku sejak dia pertama kali diberi nama, dan itu masih terus melekat dimulutku.


"Kemaren sore" Intan tersenyum mendengar jawaban ku.


"Abang beda" Katanya, matanya terus melekat melihat seluruh tubuhku.


"Kenapa? Lebih tampan?"


"Lebih hitam, hahaha"


Aku menjitak kepalanya pelan, dia mengaduh, tapi dilanjut dengan sisa tawanya kembali. Yah, bagaimana aku tidak jadi hitam, tempat pendidikan yang ku jalani adalah pendidikan berat, harus berperang melawan sinar matahari tiada henti.


"Kau baik?" Intan langsung terdiam setelah mendengar pertanyaanku.


"Aku rindu Abang" jawaban Intan membuat hati ini tersentuh, aku tidak pernah tahu, sejak kapan rasa ini berubah menjadi sesuatu yang lain.


Dulu saat dia masih bayi, aku selalu berkata dengan lantang 'Aku akan menjadi Abang yang baik untuk dede bayi' kata yang terucap 20 tahun yang lalu itu disambut tawa Tante Diana, Om Jonson dan ibu ku sendiri.


Saat Intan mulai tumbuh menjadi anak-anak, akulah orang yang selalu ada untuk menjaganya setiap saat, kasih sayang dulu yang aku berikan adalah kasih sayang layaknya adik dengan kakak, aku tidak suka melihat Intan menangis, jika air matanya mulai terlihat satu tetespun, maka aku akan berusaha mati-matian menghiburnya sampai air mata itu terganti oleh bibir yang tersenyum.


"Aku akan beruntung jika suatu hari orang yang mencintaiku adalah laki-laki seperti Abang" Katanya.


"Hahaha, sejak kapan kau sudah mulai berfikir seperti itu, Abang kira kau masih anak-anak" kataku bergurau.


"Aku sudah mau lulus kuliah, apa masih terlihat seperti anak kecil" Aku langsung mengamati seluruh tubuh Intan, benar, dia sudah besar sekarang, dia tumbuh dengan sempurna dan memiliki wajah yang cantik.


"Bagiku kamu akan selalu seperti dulu, anak kecil yang akan ku lindungi dengan semua yang aku punya" Mataku melihat ekspresi wajah Intan berubah serius, kepalanya menunduk, beberapa detik tidak ada respon lagi darinya.


"Adakah yang salah dengan kata-kata ku?" tanyaku dalam hati.


"Tan" Aku memanggilnya pelan.

__ADS_1


"Apa selamanya kita akan tetap menjadi kakak adik?" Pertanyaan Intan membuat aku termenung bingung.


"Kau kenapa? adik Abang tidak pernah seperti ini sebelumnya" Aku mencoba setenang mungkin, merepson pertanyaan Intan dengan nada layaknya seorang kakak.


"Aku... Aku..."


"Nak Arsyad" Kata-kata Intan terputus saat Tante Diana muncul dan memanggil namaku.


"Tante" Pandangan ku teralih melihat Tante Diana.


"Kapan pulang nak?"


"Kemaren sore tante" Jawabku diselingi senyum setelahnya.


"Wah, Abang Arsyad banyak perubahan sekarang yah" Tante Diana mulai melihatku dari ujung kepala sampai bawah.


"Tambah hitamkan mah" sautan Intan membuat Tante Diana tertawa.


"Walaupun hitam, tapi tetap terlihat tampan, apalagi sekarang punya badan yang tegap dan gagah" katanya terlihat dari sorot matanya yang mulai mengagumi perubahanku.


"Ah masih sama seperti dulu tante, tante sama Om Jonson apa kabar?"


"Kami baik nak, Om Jonson sekarang sudah berangkat lagi ke Singapura"


Aku tediam mendengar kata Singapura, dulu aku hanya mengangguk saat diceritakan pekerjaan Om Jonson di Singapura, merasa kagum dengan semua yang diperolehnya, tapi setelah membaca catatan ibu, aku tahu, Om Jonson hanya berkerja untuk ayahku sebagai bodyguard pribadinya.


"Boleh aku bertanya Tante"


"Kenapa muka mu jadi seserius itu nak, apa yang ingin kau tanyakan?" Tante Diana masih menanggapi pertanyaan ku dengan senyuman menawannya.


"Apa Om Jonson bekerja dengan ayahku tante?" pertanyaanku langsung terucap pada intinya, kami dilatih untuk tidak terlalu banyak basa-basi, termasuk dalam perkataan, harus tegas dan jelas.

__ADS_1


Raut wajah Tante Diana seketika berubah, senyum yang sedari tadi mengembang kini menyungsut memudar. Aku tahu ada rasa heran kenapa tiba-tiba aku menanyakan hal itu.


Next...


__ADS_2