
Episode 35
Dari kejauhan Seseorang datang mendekati ibu. Berjalan begitu pelan. Bahkan sepatu mahal yang ia kenakan tidak sedikitpun mengeluarkan suara. Pelan. Sangat pelan. Aku terus mengawasi dari sudut tanpa pencahayaan. Orang itu sudah tepat berdiri di belakang ibu. Jika ibu menoleh sedikit saja, ia pasti tahu ada seseorang di belakangnya. Tapi ibu tidak melakukannya. Pandangannya terus menuju ke arahku. Yah, ibu sedang menunggu ku kembali dari kamar mandi.
"Ma'afkan anak mu ini bu." kataku lirih. Terus mengawasi dari kejauhan.
Orang itu masih berdiri tepat di belakang ibu. Aku menelan ludah.
"Apa yang akan ayah lakukan?" Tanyaku dalam hati.
Saat itulah aku melihat kedua tangan ayah menutupi mata ibu dari belakang. Tapi ayah masih diam. Tidak sedikitpun mengeluarkan suara.
"Arsyaf. Apa yang kau lakukan? Untuk apa kau menutup mata ibu seperti ini?" Ibu mengira itu aku.
Lalu ibu berdiri. Matanya masih tertutup oleh tangan ayah. Ayah menuntun ibu kesebuah sudut ruangan. Ibu hanya menurut. Ibu pasti masih mengira bahwa itu aku. Lalu ayah membalikkan tubuh ibu, sekarang mereka saling berhadapan. Sedikit demi sedikit ayah mulai melepas tangannya. Mata ibu yang tertutup beberapa menit itu harus menyesuaikan pandangannya karena remang-remang.
Aku terus mengawasi dari jauh. Saat tatapan mereka bertemu. Aku melihat tubuh ibu langsung bergetar hebat. Raut wajahnya berubah menjadi syok, bak seperti pertama kali orang melihat hantu.
__ADS_1
"Rey... Rey... Reyhan." panggil ibu dengan suara gemetar.
Ayah masih diam. Matanya terus memandangi ibu dengan lekat. Ibu mulai ketakutan. Aku tahu ibu ingin pergi dari sana. Pergi jauh-jauh dari hadapan ayah. Tapi itu sangat sulit. Sudut ruangan itu sudah ayah siapkan dengan baik untuk mengunci ibu. Di belakangnya dinding tembok, di samping kanan ibu sebuah dinding yang terbuat dari kaca, di samping kiri beberapa meja panjang cafe yang tertumpuk rapih. Pintu untuk keluar dari sudut itu hanyalah dari depan. Tapi di depan, ayahlah yang sedang menghalangi jalan keluar untuk ibu.
Tiga menit berlalu. Ayah masih sama, tidak melakukan apapun kecuali memandangi ibu.
"To, tolong. bi... biarkan.. biarkan aku pergi Rey. Aku mohon." Ibu mulai memohon. Kata-katanya terbata-bata. Ibu benar-benar ketakutan.
"Tidak." Hanya itu jawaban ayah.
"Ki.. kita... Kita sudah tidak ada lagi hubungan apapun Rey."
"La... Lalu, kenapa kau melakukan ini?"
"Karena aku ingin ada hubungan lagi antara kita."
"Tidak! Itu tidak mungkin! Ki... Kita... kita sudah lama berpisah, bukankah itu lebih baik."
__ADS_1
"Tidak!" Ayah membentak.
Suasana malam ini berubah menjadi tegang, di antara perdebatan ayah dan ibu. Suasana dengan ruangan yang seharusnya romantis, kini berubah menjadi mistis. Alunan musik sudah berhenti. para pelayan entah pergi kemana. lampu-lampu hanya menyala tiga buah, dua di atas meja makan kami, dan yang satunya tepat berada di atas ayah dan ibu sekarang. Yah, itu juga yang membuat tempat dudukku gelap. Sudut tanpa pencahayaan.
"Biarkan aku pergi, biarkan aku pergi. Tolong, biarkan aku pergi Rey." Ibu mulai berani melawan. Tangannya terus mendorong ayah ke belakang.
"Arsyaf tolong ibu. Tolong ibu nak. Ibu ingin pulang." Ibu berteriak meminta bantuan ku. Suaranya terdengar pilu. Aku ingin sekali menolongnya, meminta ayah untuk tidak melanjutkan rencananya.
"Apapun yang akan terjadi nanti, berjanjilah nak, kau tidak boleh membantu ibu mu. Berjanjilah kau akan membiarkan ayahmu yang menyelesaikannya. Berjanjilah pada ayah, Arsyad." Aku kembali ingat kata-kata ayah sore tadi. Yah, aku tidak bisa membantu ibu, tidak bisa menolong ibu. Aku, aku sudah berjanji pada ayah.
"Tolong... Tolong... Tolong..." Ibu terus berteriak. Mengeluarkan suara lantangnya meminta tolong. Tapi siapa yang bisa menolongnya. Di depan pintu cafe, beberapa bodyguard ayah sudah berjaga dengan ketat. Tentunya mereka lebih menuruti perintah tuannya dari pada menghiraukan suara minta tolong tanpa sedikitpun bayaran.
"Tolong... Tolo.. eemmmm." Suara ibul berubah. Aku langsung memastikan apa yang sedang terjadi. Pandanganku remang-remang, dengan sedikit cahaya yang ada aku mulai tahu apa yang terjadi. Ternyata, ayah sedang mencium ibu dengan paksa.
"Emmm. Jangan, emmm, Rey, emmm." Ibu terus memberontak.
"Yah, tolong jangan lakukan itu pada ibu. Kau tidak boleh memaksa ibu seperti itu." Kataku lirih. Melihat ibu diperlukan seperti itu rasanya membuat hati ku ingin marah. Tapi aku juga tidak bisa melakukan apa-apa. Ah, andai saja aku tidak terikat janji dengan ayah. Aku pasti sudah membawanya pergi.
__ADS_1
"Ingat nak, laki-laki yang di pegang adalah janjinya. Kau tau itu sebagai laki-laki dan sebagai seorang tentara." Pesan ayah sore tadi. Tapi melihat apa yang ayah lakukan pada ibu, ingin sekali aku mengumpat.
"Ayah B-R-E-N-G-S-E-K."