
Malam ini aku tidak boleh gagal. semua harus sesuai rencana. Aku melihat cermin, melihat bayangan ku sendiri disana. Setelan jas berwarna abu-abu, kemeja hitam, dasi pita dengan warna serasi dengan jasnya. Semua sudah siap.
Aku melirik ibu yang masih duduk di meja rias. Menggunakan anting pemberian ku. Ah bukan, itu dari ayah. Ayah memberikannya sore tadi. Kalau aku mengatakannya dari ayah, ibu pasti akan menolaknya mentah-mentah.
Dua anting terpasang di telinga ibu. Dan wah, hasilnya membuat ibu lebih cantik, lebih menawan. Umur ibu sudah masuk kepala empat. Tapi kalau kau melihatnya langsung kau pasti akan mengira ibu ku masih umur sekitar tiga puluh. Yah, dia memang masih sangat-sangat terlihat muda.
"Kalau aku bukan anak ibu. Sepertinya Arsyaf sudah jatuh cinta padamu bu" kataku menggoda.
Ibu hanya tertawa. Membalikan posisi duduknya. Berhadapan dengan ku. Aku benar-benar terpesona pada ibu malam ini. Dia benar-benar cantik.
"Kau sudah siap? Atau hanya akan terus memandangi ibu seperti itu?" Aku tersenyum. Lalu berjalan menghampiri ibu.
"Tentu saja sudah siap tuan putri. Mari kita pergi" Aku menjulurkan tanganku. Ibu hanya tertawa lirih. Lalu menerima uluran tanganku.
__ADS_1
"Kau harus melakukan itu pada calon istri mu nak" katanya. Sambil menepuk lenganku. Pelan.
"Pasti" Aku tersenyum. Lalu menggandeng lengan ibu. Berjalan dengan biasa. Berusaha bersikap biasa. Meskipun sebenarnya, hati ini terus berdetak kencang. Pikiranku kacau. Aku takut malam ini akan gagal. Aku takut lebih membuat ibu sedih daripada bahagia. Ah, rasa takut ini benar-benar membuat ku menjadi gugup.
Pukul 20.00, aku membuka pintu cafe untuk ibu. Mempersilahkannya untuk masuk.
Semua sesuai rencana, cafe kosong tanpa pelanggan. Malam ini cafe terbesar dari hotel ini sudah di booking oleh ayah. Di dekorasi dengan indah, megah, dan tentunya dengan nuansa romantis. Begitu kami masuk suara alunan musik yang merdu menyambut kedatangan kami.
"Selamat datang tuan dan nyonya" kata keempat pelayan yang ikut menyambut kami. Mereka membungkuk, mempersilahkan kami untuk masuk.
"Apa kau yang menyiapkan ini semua nak" tanya ibu. Pandangannya terus tertuju pada semua hiasan yang sudah terpasang cantik disetiap diding cafe.
"Tentu" Kataku menyakinkan ibu.
__ADS_1
"Tapi ini terlalu berlebihan nak. Seharusnya kau tabung saja uangnya. Untuk bekal kau menikah"
"Tidak bu. Aku tidak akan pernah bisa membahagiakan istriku kelak sebelum aku membahagiakan ibu terlebih dahulu" kataku dengan mantap.
Aku menyeret sebuah kursi. Mempersilahkan ibu untuk duduk di kursi itu. Malam ini, aku akan memperlakukan ibu bak seorang ratu. Semua makanan sudah siap di meja makan. Dengan hiasan lilin yang menjuntai ke atas. Alunan musik merdu. Dan pencahayaan lampu yang indah. Aku mulai menuangkan minuman untuk ibu. Lalu mempersilahkannya makan.
Satu jam berlalu. Apa yang harus aku lakukan sudah cukup sampai sini. Sekarang giliran ayah. Tapi sebelum aku pergi, aku memberikan satu pesan untuk ibu.
"Oh iya bu, ada satu kebahagiaan lagi yang ingin aku berikan padamu"
"Apa itu nak?"
"Ibu bisa bersatu kembali dengan ayah" sesuai dugaan, ibu terdiam, tidak lagi menjawab kata-kata ku. Wajahnya yang tadi tersenyum seketika langsung berubah sedikit masam.
__ADS_1
"Arsyaf mau ke kamar mandi dulu. Ibu tidak apa Arsyaf tinggal?" ibu masih diam. Dia hanya menjawab dengan anggukan. Pelan.
Aku berdiri dari tempat dudukku. Memandang ibu sekilas. Lalu lekas pergi ke belakang. Tujuan ku bukalah kamar mandi. Tapi sebuah sudut yang sedikit gelap tanpa pencahayaan. Aku duduk disana. Menunggu apa yang akan ayah lakukan.