
Sore itu, burung-burung yang berkicau diatas pohon menjadi saksi, anginpun bisa merasakan, ayahku Reyhan Anggara Ningrat telah luluh, dia kini tak seperti yang diceritakan di buku catatan ibu, arogannya mulai menipis, hatinya mulai lembut, kakek juga sama, ia tidak habis-habisnya mengusap air mata yang terus menetes dengan lengan bajunya.
"Lapor tuan, tuan muda Arsyaf telah ditemukan" Salah satu pengawal melapor pada ayah. Ayah melepas pelukannya dariku, mengusap air matanya, ia kembali menunjukkan wajah berwibawanya.
"Laporkan detailnya!" Perintah ayah.
"Saat ini tuan muda Arsyaf sedang berada di Negara Indonesia, beberapa tentara militer dari negara itu yang membawa tuan muda menggunakan sebuah pesawat tempur Helikopter tipe Apache AH 64E"
"Itu pasukanku yah, aku yakin mereka mengira Arsyaf adalah aku" karena ingatanku yang sudah mulai kembali aku dengan mudah mengenali setiap informasi yang ada.
"Benar, kemungkinannya pasti seperti itu. Persiapkan semuanya! kita akan melakukan perjalanan kesana" Kata ayah.
Pandangan ku langsung beralih pada ayah, menyakinkan apa yang baru saja ia katakan adalah nyata.
"Kita akan pergi ke Indonesia yah?" tanyaku tanpa ragu-ragu.
"Tentu, adik mu sudah jelas dibawa kesana, kita harus menjemputnya segera. Ada apa?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, eemmm apa ayah akan menemui ibu?" Ayah tidak langsung menjawab pertanyaanku, suasana itu tiba-tiba sunyi. Sekilas hanya detikan jam yang terdengar.
"Kita bisa pikirkan itu nanti" Jawab ayah.
Tujuanku datang kesini adalah membawa ayah pada ibu, ada sedikit kecewa saat ayah mengatakan 'nanti', tidakah ayah tahu, kalau Arsyaf sampai dibawa ke Indonesia, artinya adikku akan dipulangkan ke rumah ibu juga, tidakkah ayah memikirkan itu, atau dia pura-pura tidak tahu.
"Tapi yah"
"Tidak! Kalau ayah bilang nanti, itu artinya tidak ada kata tapi" Nada ayah sedikit meninggi. Aku berpaling melihat kakek, ia hanya mengisyaratkan padaku untuk bersabar.
Satu lagi sifat ayah yang belum berubah, saat keputusan itu sudah terucap, maka tidak ada lagi yang bisa menggugat. Siapapun, tidak kakek ataupun ibu, tidak ada ada yang bisa membantah perintah dari ayah.
"Janji? Janji apa?"
"Ayah janji akan menceritakan tentang ibu" Kataku, menagih janji yang terus ayah ucapakan selama akau mengalami amnesia.
"Untuk apa ayah menceritakan itu pada mu, kau sudah tahu semuanya"
__ADS_1
Aku tahu kenapa ayah mengatakan itu, karena aku anak yang sejak lahir tinggal bersama ibu, seharusnya aku memang tahu semuanya, tapi yang ku butukan adalah penjelasan dari ayah.
"Belum, Arsyad belum tahu kebenarannya, kenapa ayah bisa berbuat itu pada ibu?, kenapa ayah meninggalkan ibu begitu saja? Tapi disisi lain kenapa ayah tidak pernah melepas ibu? Kenapa ayah terus menyiksa ibu bahkan disaat ayah telah meninggalkannya? Kenapa...?"
"Cukup Arsyad!" Nafas ayah terdengar marah. Aku diam, menunggu apa yang akan dilakukannya.
"Ayah, ayah tidak pernah meninggalkan ibu mu, ayah memang salah sudah membuat kalian menderita, tapi ayah tidak pernah merasa meninggalkan ibu mu, ayah, ayah hanya terlalu malu, ayah terlalu malu untuk menemui ibumu"
Tubuh ayah terhuyung, dia seperti tersengat listrik saat mendengar pertanyaanku, ayah mulai berjalan kebelakang, mencari tempat duduk untuk menopang tubuhnya yang terlihat tak berdaya. Saat itu kakek juga hanya melihat perdebatan antara ayah dan anaknya tanpa melakukan apapun.
"Ayah salah nak, ayah akui itu, sejak kepergian Novita adik ayah, saat itu dunia sangat suram untuk ayah pandang, ayah selalu menyalahkan ibu mu karena kematian Novita, tapi setelah sampai di rumah sakit, dokter memberikan sebuah buku kecil, ayah membukanya pelan, itu catatan dari Novita untuk ayah yang dititipkan kepada dokter setelah kepergian Tante mu"
Ayah terdiam, ia mengambil sesuatu dari kantung sakunya, sebuah buku, buku itu memang kecil karena sampai muat disaku ayah.
"Kau boleh membacanya sendiri nak, kau akan tahu kenapa ayah begitu tidak berani menemui ibu mu"
Aku menerima buku itu, mulai membukanya berlahan, mulai membaca dengan penasaran.
__ADS_1
Next.....