Tentara ku Pahlawan ku

Tentara ku Pahlawan ku
Episode 21


__ADS_3

Suasana berubah tegang, ibu tidak mau berhenti berteriak, ayah ingin melakukan sesuatu tapi untuk berkata saja, ayah seperti tidak mampu.


"Pergi! Aku mohon pergi!" Ibu terus menyuruh ayah untuk pergi dengan teriakan seperti orang gila. Hatiku sakit, tapi tidak mampu melakukan apapun, ini urusan mereka berdua, yang harus mereka selesaikan sendiri.


"Ma'af" kata ayah, suaranya hampir tak terdengar.


"Tidak! Aku mohon pergi" Ibu menangis, berteriak, berjalan mundur menjauhi ayah. Tapi ia terpojok, menabrak dinding, aku melihat ibu semakin panik, matanya mencari sesuatu, sebuah fas bunga, ia meraihnya dan tidak menunggu lama fas itu melayang kearah ayah.


Ayah samasekali tidak menghindar, fas bunga itu tepat sasaran. Buk! Prang!. Setelah menghantam tubuh ayah, fas bunga itu jatuh, pecah. Ayah tidak marah, ia pasrah apapun yang akan dilakukan istrinya. Ayah terus mengatur jarak dengan ibu, berusaha meraihnya.


"Berhenti! Jangan mendekat!" Ibu terus berteriak histeris, jarak ayah hanya tiga langkah. Ibu semakin panik. Sebelum ibu berhasil kabur dari celah jalan samping, ayah berhasil meraihnya, memeluk ibu dengan erat.


"Lepaskan! Lepaskan! Aku mohon Lepaskan!" Ibu meronta, berteriak lebih kencang, tangannya tidak berhenti memukul, mendorong sekuat tenaga, berusaha lepas dari pelukan ayah.


"Ma'afkan aku sayang" kata ayah dengan suara merintih, ayah menangis, ibu juga tak kalah kuat menangisnya, aku tak berbeda, melihat pemandangan itu, sungguh membuat hatiku sakit, tarharu, senang, bahagia, ah entahlah semua bercampur menjadi satu.


"Lepaskan!" Ibu belum berhenti meminta dilepaskan, tidak berhenti memukul, mendorong. Tapi ayah justru semakin erat pelukannya, dari dulu sampai sekarang ibu benar, tenaga ibu tidaklah pernah sebanding dengan ayah.


"Ma'afkan aku" kata ayah. Ibu hanya menggeleng dalam pelukan ayah, tenaganya mulai menipis, tapi air matanya tak sedikitpun ada tanda-tanda berkurang.


"Pergi! Lepaskan aku!" Suara ibu tidak lagi sehisteris sebelumnya. Ayah sedikit melonggarkan pelukannya, disana aku melihat pemandangan yang lagi-lagi membuat hati ini bergetar. Ayah mencium kening ibu, lepas, lalu dicium lagi, lepas, dicium lagi, yang terakhir ciuman itu begitu lama mendarat di kening ibu.

__ADS_1


Aku mengusap air mataku dengan lengan baju kemejaku, aku tak kuasa melihat pemandangan indah disudut rumah ini.


"Ibu" Sampai suara seseorang dari belakang memecah suasana haru ini.


"Ibu dimana? Arsyad sudah selesai akadnya bu, penghulunya tidak mau menunggu terlalu lama" Kata orang itu, terus berteriak dari arah depan. Tapi aku seperti mendengar suaraku sendiri.


"Apakah itu kembaranku?" Tanyaku dalam hati. Aku membalikkan badan, menunggu sosok adikku sampai diruang tengah.


"Ibu" dia memanggil ibu lagi.


Ya Tuhan, dia benar-benar sangat mirip denganku, tidak sedikitpun ada perbedaan disana, bentuk wajahnya, cara berjalannya, suaranya, bahkan tinggi badannya, kami benar-benar kembar identik.


"Arsyaf" Aku memanggilnya. Dia hanya diam, bingung.


"Kemarilah, aku datang bersama ayah juga" kataku lagi.


Arsyaf masih diam, aku berjalan kearahnya dia terus menatapku dengan lekat.


"Ayo kemari" Aku menggandeng tangannya, menarik untuk bertemu dengan ayah dan ibu, aku ingin memberikan satu kejutan lagi untuk ibu.


"Ayah, ibu" Mereka melihat kearah kami, tapi ayah tidak ada tanda-tanda ingin melepas pelukannya pada ibu.

__ADS_1


Ibu diam, sorotan matanya menandakan kebingungan. Ibu seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ia masih diam.


"Lihatlah bu, Arsyad punya saudara kembar, dan ini Arsyaf adik ku" aku menunjukan laki-laki disampingi ku. Ibu masih diam, bingung.


"Kau punya anak kembar" kata ayah.


"Ma'af aku mengambilnya satu darimu" lanjutnya. Tatapan mata ibu langsung tajam melihat kearah ayah.


"Aku akan jelaskan semuanya, tapi tolong ma'afkan aku dulu" kata ayah memohon.


"Aku Arsyaf? Tapi ibu bilang namaku Arsyad, dan siapa laki-laki yang memeluk ibu itu?"


Ya Tuhan, apa kami benar-benar sekembar ini, sampai kami sama-sama mengalami amnesia secara bersamaan.


"Apa kau tidak ingat siapa laki-laki itu" Tanyaku memastikan kalau Arsyaf sedang kehilangan ingatannya.


"Tidak, siapa dia dan siapa kau?"


"Dia ayah mu, ayah kita berdua"


"Ayah? Ibu bilang ayah telah tiada"

__ADS_1


Next....


__ADS_2