Tentara ku Pahlawan ku

Tentara ku Pahlawan ku
Episode 29


__ADS_3

Sorenya aku menutup minimarket lebih cepat. Bergegas merapikan semuanya. Membawa beberapa makanan kecil yang ada di minimarket. Lalu mengunci pintu, dan lekas pergi kerumah Tante Diana.


Sampai disana aku sudah disambut Tante Diana yang sedang duduk santai di teras depan. Dia tersenyum, aku membalasnya. Mencium tangannya. Lalu menanyakan kabar.


"Kau baik nak?"


"Aku selalu baik, Tante baik?"


"Yah, seperti yang kau lihat"


"Kau sendirian?"


"Aku sudah izin ibu mengunjungi tante sendirian. Bang Arsyad sedang dirumah jadi Intan sedang menemaninya" Tante Diana tidak merespon ceritaku, dia terdiam, hanya menatapku begitu lekat.


"Ada apa tante?"


"Ah tidak ada apa-apa, ayo masuk dulu"


"Baik. Ini untuk tante"


"Kau tidak perlu repot-repot membawa ini"


"Tidak tante. Itu sudah ada di minimarket"


"Terimakasih" aku membalasnya dengan senyum.


Tante Diana masuk kedalam. Aku mengekor dibelakangnya. Rumah Tante Diana masih sama seperti dulu, hanya beberapa cet temboknya sedikit berubah. Aku duduk di shofa kayu. Mengambil posisi nyaman.


"Minumlah, kau pasti lelah setelah kerja"

__ADS_1


"Makasih tante"


Tante Diana kembali lagi ke belakang setelah menaruh beberapa minuman dimeja. Lalu datang dengan membawa beberapa kue kering dan permen.


"Tante ingin bertanya padamu" Wajah Tante Diana berubah serius.


"Apa tante?"


"Seandainya kau disuruh untuk memilih antara saudara dengan seorang wanita yang kau cintai. Siapa dari mereka yang akan kau pertahankan?"


Sebuah pertanyaan bak peluru itu membuat aku tertegun. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab seketika. Tidak bisa disamakan dengan pertanyaan 1+1\=2. Pertanyaan yang harus tahu bagaimana kronologinya.


"Pertanyaan macam apa itu tante? Orang akan kesulitan menjawab kalau tidak ada permasalah ditengahnya"


"Ah kau benar nak. Permasalahannya adalah. Siapa yang akan kau pilih saat wanita yang kau cintai direbut oleh saudaramu sendiri? Siapa yang akan kau pilih untuk tidak terluka hatinya?" Uhuk. Aku tersendat mendengar pertanyaan Tante Diana.


"Tante. Kenapa bertanya itu padaku? Arsyaf tidak tahu harus menjawab apa?"


Aku meletakkan gelas diatas meja, mulai berfikir apa yang harus aku jawab. Dari pertanyaan Tante Diana, jelas itu adalah kisahku sendiri. Aku menarik nafas dalam-dalam. Menenangkan hati agar jawaban yang ku katakan tidak lagi beruntun pada pertanyaan selanjutnya.


"Aku punya dua jawaban tante. Pertama, jika wanita yang aku cintai memang lebih memilih saudara ku, dan dia bisa menjaganya. Maka aku akan melepaskannya dengan senang hati. Aku memilih saudaraku. Kedua, jika wanita yang ku cintai juga mencintai aku, dan aku tahu saudaraku tidak bisa menjaganya, maka aku akan memilih wanita itu untuk aku jaga"


"Lalu bagaimana kalau wanita itu sebenarnya mencintai kamu nak, tapi dia sudah terlanjur menjadi milik orang lain?"


"Ah itu..." aku terdiam, bingung harus menjawab apa. Aku menundukkan kepalaku, menahan rasa sakit. Tuhan hatiku benar-benar merasa sakit mendengar pertanyaan itu. Tiba-tiba air mataku keluar dengan sendirinya. Aku masih menunduk, malu jika Tante Diana melihat aku sedang menangis.


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa tante. Aku hanya bingung harus menjawab apa. Jujur itu pertanyaan yang sulit aku jawab"

__ADS_1


"Baiklah, tante tidak akan memaksa kau untuk menjawab" Mendengar itu hatiku sedikit lega.


"Tapi tante punya satu pertanyaan lagi, apa kau mau menjawabnya?"


"Asal tidak sesulit seperti tadi tante" aku tersenyum.


"Hahaha, tidak. Tante hanya ingin bertanya. Jika kau disuruh memilih. Kau akan memilih hidup dalam kebohongan tapi semua baik-baik saja, atau kau hidup dalam kebenaran tapi mungkin akan ada yang terluka karenanya. Mana yang akan kau pilih nak?"


"Tante, pertanyaan apalagi itu?"


"Ayolah. Kau hanya perlu memilih, satu atau yang kedua"


"Tante, tapi..."


"Satu, atau dua?" Tante Diana benar-benar tidak membiarkanku lolos tanpa jawaban kali ini.


"Emm, satu"


"Kenapa?"


"Harus ada penjelasannya?"


"Jelaskan!"


"Sebenarnya aku sama sekali tidak suka kebohongan. Komandan ku selalu berkata, kebohongan akan membuat orang tersesat. Tapi seandainya dalam kebohongan membuat semua baik-baik saja, Arsyaf rasa pilihan satu lebih tepat"


"Walaupun hati mu sendiri yang terluka?"


Tiba-tiba suara yang sangat femilar ditelinga ku muncul, dan ikut melontarkan sebuah pertanyaan.

__ADS_1


"Intan"


Next....


__ADS_2