
Apakah kalian tahu, apa sebenarnya perasaan itu? Rasa memiliki? Keinginan? Rasa bersalah, rasa sakit, bingung, gelisah, kerinduan, kebencian?.
Bukankah itu hanya seperti gelas kosong yang berdebu jika sudah berlalunya waktu, begitu-begitu saja, tidak ada yang istimewa, malah lucu serta gemas saat dikenang.
Tapi dalam perjalanan hidup ini, semua itu akan kalian rasakan, bahkan tidak satupun terlewatkan. Hanya menunggu waktu.
Hari ini, beberapa dari rasa itu telah menyelimuti hatiku, kebingungan akan keadaan ibu, ibuku memang hebat, dia bisa menutupi semua masalah dari orang lain, tapi aku tahu sekarang, ibuku masih hidup dalam penantian ayah bertahun-tahun. Dan aku tahu ibu merindukannya.
"Ayolah bu, Arsyad kesana dalam misi tugas"
Aku membujuk ibu untuk mengizinkanku pergi ke Singapura, alasan tugas negara, ini satu-satunya yang tepat agar ibu meluluhkan hatinya.
"Apa tidak bisa ke negara lain?"
Ibu tetap bersikukuh melarang ku pergi, kesibukan ibu mengurusi cucian tetangga membuat pembicaraan tidak bisa lebih tenang, dari catatan buku ibu, aku tahu kenapa ibu tetap memilih pekerjaan mencuci baju tetangga, itu karena nenek, kalau kalian ingin tahu sepeti apa nenekku, kalian bisa baca sendiri di catatan ibuku yang sudah ku salin.
__ADS_1
"Mana bisa Arsyad yang menentukan tempat tugas bu, pangkat Arsyad bukan sersan, bukan mayor, apalagi jendral"
"Kalau begitu kau minta dipindahkan saja" Kata ibu enteng, masih sibuk menyiapkan setrika baju.
"Ibu, tidak ada seorang prajurit TNI yang bisa menentang kehendak atasan sekalipun nyawa kita yang menjadi taruhan, itu kata ibu jugakan?" Kataku terus memohon.
Satu jam berlalu, pembicaraan ku terputus tak menentu, tidak ada respon, tidak jawaban, ibu hanya diam. Sibuk memasukan baju-baju yang sudah ibu setrika untuk dikemas kedalam plastik, aku memutuskan membantu.
Pukul 16.30 ibu selesai dengan pekerjaannya, duduk disofa depan tv untuk istirahat, aku langsung pergi ke dapur, membuatkan teh hangat untuk ibu.
"Minum bu" Ibu menerima teh yang ku buat, menyeruput sedikit dan menaruhnya dimeja.
"Apakah ini arloji ayah yang pernah ibu ceritakan dalam catatannya?" Tanya ku dalam hati. Aku menerimanya dengan senang.
"Ibu izinkan kau pergi nak, kalau kau butuh sesuatu yang mendesak kau bisa gunakan arloji itu untuk membantumu, ibu tidak punya harta berlimpah untuk menemani perjalanan mu"
__ADS_1
"Tidak bu, Arsyad tidak butuh apa-apa, izin ibu itu sudah lebih dari cukup, terimakasih bu"
Aku mendapat pelukan kecil dari ibu, pelukan yang begitu hangat dalam hidupku. Walau aku sudah dewasa, walau sudah menjadi tentara, tapi aku masih seperti anak kecil dihadapan ibu.
Dua hari sebelum keberangkatan ku, aku mampir ke rumah Tante Diana berpamitan dengannya dan adikku tersayang Intan Permata.
"Abang janji hanya satu bulan" Intan terus menagih janji, dia benar-benar tidak mau aku meninggalkannya kembali untuk kedua kalinya.
"Do'akan saja" kataku.
"Aku ingin mengenal Abang lebih banyak" Pertanyaan Intan seolah-olah seperti seorang kekasih yang baru bertemu dan belum mengenal satu sama lain.
"Apa yang belum kau kenal tentang abang Tan, kita sudah bersama sejak kau pertama lahir bukan?"
"Iya, tapi 4 tahun kemaren Abang pergi, itu yang membuat Tatan tidak sepenuhnya mengenal Abang"
__ADS_1
Ada raut wajah keseriusan disana, Intan benar-benar seperti ingin menuntut waktu yang pernah hilang.
Next