
"Kau bilang siapa nak?" Ayah tiba-tiba muncul dari pintu ruang tamu.
"Ayah, aku sudah ingat semuanya ayah" Aku langsung berlari, memeluk ayah dengan kuat, tersenyum gembira, aku ingin memberitahu semua pada ayah.
"Aku anakmu yah, aku pergi mencari mu, dan sekarang kau sudah ada didepan ku, aku sangat senang" Ayah melepas pelukanku, menatapku dengan dengan bingung.
"Tunggu, ada apa dengan mu nak, kau memang anak ayah, kenapa kau mengatakan mencari ayah, sedari kecil sampai sekarang kau sudah bersama ayah, ayah tahu kau masih sakit, kau mungkin belum ingat semuanya, dan nama mu, kau Arsyaf bukan Arsyad"
Ayah mulai menjelaskan tentang pernyataan ku, aku tahu semua ini pasti masih membingungkan untuk mereka setelah ingatan ku mulai kembali.
"Dengar yah, kakek, ini mungkin sulit untuk dipercaya, tapi aku Arsyad, anak yang sedari lahir bersama ibu, ibu Elis Stania Yulianti, aku tahu itu nama ibu bukan? Dan lihatlah buku catatan ini, Arsyad yang membawanya, ini buku catatan milik ibu"
"Kalau kau Arsyad, lalu dimana Arsyaf? Para pengawal menemukan mu digedung penculikan itu, kau terkapar, apa kau yakin nak dengan apa yang kau ingat"
__ADS_1
"Sangat yakin yah, dan Arsyaf, apa dia sangat mirip denganku yah, apa tidak ada sedikitpun perbedaan diantara kita? Apa ayah benar-benar tidak bisa membedakan?"
"Ya Tuhan, ini tidak mungkin, Arsyaf berbalik!" Tiba-tiba ayah membentak ku. Tapi masih memanggilku dengan sebutan Arsyaf.
"Berbalik!" Bentak ayah, aku langsung menuruti perintah ayah. Membalikkan badanku, menatap muka kakek yang menahan kebingungan.
Aku mulai merasakan tangan ayah menarik bajuku keatas, setengah terbuka, ayah berhenti, aku merasakan tangan ayah bergetar tapi tidak ada tanda-tanda ingin menutup bajuku dengan cepat.
"Ayah, ada apa?" Tanyaku, masih menunggu sebenarnya.
Ayah membalikkan tubuhku dengan kasar, lalu dengan cepat mendorong tubuhku, tubuhku yang belum siap karena dorongan dari ayah langsung terhuyung kebelakang, tapi karena latihan militer ku, aku bisa mengimbangi tubuhku dengan kuat agar tidak jatuh kelantai.
"Tuan! Anda tidak boleh seperti ini" Kakek mencegah ayah yang ingin mendekat kearahku.
__ADS_1
"Lepaskan aku paman! Dia bukan anakku, buka topengmu! Kau penyusup, kau menyamar menjadi anakku! Lepas paman, paman seharusnya menangkap penjahat itu, dia masih menyembunyikan Arsyaf paman"
"Tidak ayah, aku memang bukan Arsyaf, tapi aku juga anak mu, anak yang sejak lahir selalu bersama ibunya, anak yang hanya tahu kalau ayahnya telah tiada, anak yang selalu merindukan sosok ayah, tapi setelah aku ayah masih hidup, Arsyad mati-matian pergi ke Negara ini, ibu tidak mengizinkan sampai Arsyad harus ikut misi penyelamatan sandera, tapi Arsyad juga tidak tahu yah, kenapa Arsyad tiba-tiba bisa sampai disini"
"Kalau kau bukan Arsyaf, itu artinya kau kembaran cucuku" Kakek sedikit tertegun saat mengatakan itu.
"Apakah kita benar-benar begitu mirip?, apakah ayah dan ibu memang punya dua anak, dan kami kembar?" Aku bertanya dengan nada penuh harap, berharap bahwa aku memang punya saudara kembar.
"Kau, apa kau benar-benar Arsyad? Kalau benar-benar Arsyad, sekarang jelaskan ciri-ciri tentang ibumu" Perintah ayah dengan nada tegas.
Aku tersenyum, ayah memang belum berubah sejak dulu, dalam situasi apapun dia akan selalu menggunakan sebuah pertanyaan untuk meyakinkan dirinya. Sama persis saat dia melakukan hal apapun pada ibu.
"Ibu punya tubuh yang mungil, rambut panjang yang halus, pemikiran yang cerdas dengan IQ paling tinggi, kemampuan diatas rata-rata, cepat tanggap dalam situasi apapun, memiliki darah biru dari garis keturunan kerajaan Nusantara dan itu yang membuat ayah menggunakan cara gila untuk terus memiliki ibu, apa ada yang Arsyad lewatkan yah?"
__ADS_1
Next....