Tentara ku Pahlawan ku

Tentara ku Pahlawan ku
Episode 3


__ADS_3

"Apa kau akan pergi lagi bang?" Kini aku berganti duduk dengan Intan, dia menyodorkan kue yang sejak dihidangkan belum sedikitpun ku sentuh.


"Mungkin"


"Tidak bisakah kau tinggal" Mata Intan berkaca-kaca, tangannya sedikit bergetar, seperti ada kata yang tertahan.


"Adik Abang kenapa? dulu saat Abang bilang mau masuk sekolah militer, Tatan begitu senang, bahkan bangga katanya, padahal Tatan tahu Abang sampai 4 tahun disana" Aku sedikit menggoda, sengaja mengenang masa lalu.


"Itu dulu, bukankah sekarang Abang sudah selesai, lalu kenapa harus pergi lagi?" Tatapan Intan terus tertuju pada lantai, ada yang berbeda darinya.


"Katakan, ada apa?" Aku memandangi rambut panjang Intan, itu tumbuh dengan sangat indah.


"Tatan ingin Abang ada disini, tetap tinggal"


"Dengar adik Abang yang cantik, Abang akan selalu ada disini kapanpun, bersamamu, tapi tidak untuk sekarang, Abang punya tugas yang harus diselesaikan secepatnya, Abang janji, dalam satu bulan Abang akan datang untukmu"


"Janji?" Intan mengangkat jari kelingkingnya, menyodorkan untuk disatukan dengan jari kelingking ku.


"Eemm, janji" Kataku menyatukan keliling ku. Raut wajah Intan berubah menjadi senyum.


Umur Intan sudah 20 tahun, dia memang sudah dewasa sekarang, sedang menjalankan kuliahnya di UI (Universitas Indonesia), tapi bagiku dia tetap seperti anak-anak yang manja ketika menginginkan sesuatu.


"Abang, ceritakan padaku satu kisah, sudah lama Abang tidak pernah bercerita, aku rindu" Intan menatapku tajam, seperti memohon, aku hanya balas mengangguk pelan.

__ADS_1


"Dengarlah dik. Suatu hari ada seorang pemuda yang sangat kaya raya, dia punya segalanya, apapun yang dia inginkan semua bisa tercapai dengan mudah, karena kekayaannya dia berubah menjadi sombong, bahkan orang tuanyapun tidak pernah ia anggap ada, suatu ketika dia ingin melampiaskan biologisnya, ia cari wanita tercantik di dunia ini, ia beli wanita-wanita itu dengan uangnya"


Aku melihat Intan antusias mendengar cerita ku selanjutnya.


"Tapi dari banyaknya wanita yang ia beli, tidak satupun yang dapat memuaskan dirinya, ternyata dialah yang lemah, dia berobat kesemua rumah sakit yang ada, tapi tidak ada satupun yang dapat mengobatinya, ia sudah habiskan hampir separuh kekayaannya, tapi hasilnya tetap sama nihil"


"Lalu apa yang terjadi dengan pemuda itu bang"


"Dia frustasi, kekayaannya tidak bisa membuat dia bahagia dengan masalah yang satu itu, akhirnya dia meminta bantuan seseorang, sampai dia mendapatkan satu pesan, obat untuk penyakitnya hanyalah kebahagiaan ibunya, pemuda itu sontak tertegun, dia sadar akan kesalahan yang telah dibuatnya"


Aku berhenti sejenak, meminum sedikit untuk melonggarkan tenggorokan ku.


"Lalu" Intan masih penasaran dengan kelanjutan kisahnya.


sekali lagi aku menyeruput minuman ku, lalu kembali dengan cerita yang diinginkan Intan.


"Pemuda itu bertanya pada ibunya, 'apa yang harus aku lakukan agar ibu mema'afkan anak yang durhaka ini' sambil terus meneteskan air mata tiada henti, setelah menunggu waktu yang cukup melelahkan, akhirnya sang ibu mau membuka hatinya, ia berkata. 'Aku akan mema'afkan mu dengan satu syarat, kau harus membawaku ketanah suci dengan dua keledai, dan kau sendiri yang menuntunnya' kata sang ibu"


"Apa sang pemuda menurutinya?" Tanya Intan memotong ceritaku. Aku membalasnya dengan anggukan.


"Dia langsung pergi mencari keledai terbaik, tapi sampai rumah dia hanya membawa satu keledai"


"Kenapa tidak kuda saja, keledaikan kecil"

__ADS_1


"Sang pemuda juga tidak mengajukan permintaan hewan yang lainya untuk dinaiki, dia hanya menuruti apa yang ibunya katakan"


"Lalu"


"Pemuda ibu memanggil ibunya, mengatakan bahwa keledainya sudah siap, tapi setelah ibunya melihat hanya ada satu keledai, ibunya langsung bertanya 'kenapa hanya satu keledai' sang anak menjawab 'ada dua bu, nanti ibu akan tahu saat dalam perjalanan' mereka berangkat, sang ibu menaiki keledai itu dan anaknya menuntun, jarak rumah dan tanah suci itu ternyata sangatlah jauh, mungkin mencapai 100 kilometer"


"100 kilometer? Dan mereka berjalan bang?"


"Yah itu yang mereka lakukan, sampai dipertengahan jalan keladai itu mulai lemah karena terus dinaiki dan hanya istirahat sebentar saja, melihat itu sang ibu bertanya lagi 'mana keledai yang satunya, keledai ini sudah mulai tidak kuat'. Pemuda itu tersenyum pada ibunya, dia berkata 'sedari tadi kita berjalan dengan dua keledai bu, satu yang ibu naiki, dan satunya berada dihadapan ibu sekarang'".


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Pemuda merasa bersalah karena telah merenggut kebahagiaan sang ibunda tercinta, hingga dia menamai dirinya adalah keledai, saat itu juga ibunya menangis, memohonkan ampun kepada Sang Maha Pemberi Ma'af, untuk mengampuni segala kesalahan anaknya"


"Apa pemuda itu sembuh bang?"


"Tentu saja sembuh, do'a seorang ibu lebih cepat terkabul, lebih cepat dari sinar cahaya yang menembus bumi"


Mata Intan berkaca-kaca, aku tidak tahu dia terharu karena cerita itu atau yang lainnya.


"Dengarlah dik, tunggulah Abang sebentar lagi, tunggulah abang menyelesaikan tugas, kau akan abang jemput bersama kebahagiaan ibu juga"


Aku memeluk Intan yang semakin deras tangisannya, aku paling benci melihat Intan menangis, tapi lihatlah, kini aku sendiri yang membuatnya menangis sesenggukan.

__ADS_1


Next...


__ADS_2