
"Apa hanya karena ini ayah tega meninggalkan ibu? Ibu tidak pernah bersalah yah, ayah juga tahu ibu adalah orang baik, dia selalu menuruti apa kata suaminya sekalipun nyawanya menjadi taruhan, hanya karena permintaan terakhir Tante Novita ini, ayah tega tidak pernah menjumpai tapi juga tidak pernah melepas ibu!"
Aku memuncak, hatiku benar-benar sakit, jika ada tombak ditancapkan dihatiku mungkin aku lebih bisa menahan itu dari pada kenyataan ini.
Ibu telah berjuang untuk hidupnya sendiri karena ayah, ia membesarkan ku sendirian tanpa seorang suami, ia selalu menutupi masalah ini dari anaknya, ia pikul sendiri setiap derita yang dialaminya.
Tapi lihatlah, ayah tega meninggalkan ibu hanya karena permintaan konyol Tante Novita, permintaan yang tidak ada belas kasih, permintaan atas egonya yang bersifat jahat.
"Ma'afkan ayah nak" Suara ayah bergetar.
"Arsyad tidak akan mema'afkan ayah, kalau ayah belum meminta ma'af pada ibu!"
"Ayah belum siap"
"Belum siap karena apa yah?" Aku menahan geram, ingin sekali aku ganti suaraku dengan pukulan, tapi bagaimanapun dia tetap ayahku.
__ADS_1
"Belum siap bertemu ibu mu, ayah terlalu malu menanggung kejahatan Novita pada ibu mu, ayah, ayah sangat merasa bersalah atas itu, ayah tidak sanggup berhadapan dengan ibu mu, kau benar nak, ibu mu adalah orang baik, dia tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dariku atau dari siapapun, tapi..."
"Tapi apa?"
Ayah diam, kepalanya semakin menunduk, tangannya sama dengan tanganku mengepal menahan sesuatu.
"Kau juga sudah tahu perlakuan terakhir ayah pada ibu mu nak, 25 tahun yang lalu, setelah ayah membaca catatan Novita, ayah ingin sekali memotong tangan ini, tangan yang tiba-tiba melayang memukul pipi halus ibumu, tangan yang dengan mudahnya mendorongnya hingga terjatuh, padahal ayah tahu ibu mu sedang mengandung, tapi ayah tidak peduli, waktu itu sedih, marah, takut, semua bercampur menjadi satu, ayah masih tidak percaya Novita adik ayah satu-satunya pergi meninggalkan ayah dengan cepat"
"Dan ayah luapkan kemarahan ayah pada ibu? Begitu yah?" Suaraku mulai menggeram.
Ayah semakin menunduk dalam, suaranya benar-benar berubah karena isak tangis yang tak bisa lagi terbendung. Aku melihat kesamping, kakek juga tidak beda jauh, ia terus mengusap air matanya menggunakan kedua tangannya. Amarahku yang meluap-luap seketika seperti api yang tersiram air.
"Temui ibu yah, dia masih menunggu ayah hingga saat ini, jangan buat ibu terus menerus menahan sakit karena rindu. Arsyad akan menemani, menyakinkan ibu kalau ayah tidaklah ada niat untuk meninggalkannya"
"Apa ayah masih pantas nak?"
__ADS_1
"Pantas tidaknya, semua itu akan tetap menjadi masa lalu, Arsyad mohon yah, temui ibu, kembalikan kebahagiaannya yang masih tertunda, yakinkan dia ayah masih sangat mencintainya"
"Kau mau membantu ayah?"
"Arsyad akan bantu yah, menyakinkan ibu kalau ayah sudah berubah"
Ayah benar-benar sudah tidak seperti dulu lagi, laki-laki yang arogan, laki-laki yang percaya diri dengan semua rencananya, laki-laki yang pemberani dengan siapapun dia berhadapan, laki-laki yang sangat mengagumkan kekayaan, laki-laki yang merasa semua keinginannya akan didapatkan dengan mudah.
Kini ayah hanya seperti pecundang yang cuma mampu menatap wanita yang dicintainya dari jarak jauh.
"Baiklah, kita akan berangkat malam ini juga, lebih cepat mungkin lebih baik, sebelum rencana bagus ini terganti oleh rencana yang lain" Kata kakek, setelah mendengar pernyataan ayah.
"Aku setuju" kataku, ayah berdiri, berjalan kearahku, kembali memeluk dengan erat.
"Terimakasih nak, kau sudah hadir disini"
__ADS_1
Next...