
"Kau sudah tahu nak?" Pertanyaan Tante Diana hanya aku jawab dengan anggukan.
"Katakanlah tante, tidak ada yang perlu ditutupi" Aku memasang wajah serius, berharap Tante Diana tidak lagi berbelit-belit.
"Ma'af nak, bukannya Tante tidak mau menjawab pertanyaan mu, tapi tente merasa tidak punya hak untuk menjelaskan semuanya"
"Bukankah tante sahabat terbaik ibu ku, lalu kenapa tidak bisa" tanyaku heran.
"Intan, kau masuklah ke dapur buatkan minuman untuk Abang Arsyad, ada beberapa kue dimeja, kau bisa membawanya sekalian"
"Iya mah"
Intan masuk menuruti perintah mamahnya, sekilas aku melihat pandangan Intan yang mengisyaratkan 'pembicaraan kita belum selesai' dan aku meresponnya dengan senyuman.
"Bagaimana Tante?"
Wajahku berubah serius, sejak kecil aku selalu merindukan sesosok ayah dalam setiap langkah perjalanan hidupku, tapi semua itu harus tertahan pahit-pahit karena ibu selalu mengatakan ayah telah tiada.
"Tante memang sahabat ibumu, tapi untuk kisah yang satu ini, tante juga tidak pernah tahu sepenuhnya apa yang terjadi"
__ADS_1
"Lalu kemana aku harus mencarinya Tante, ibu jangankan untuk bercerita, saat aku memanggil nama ayah, ibu langsung memalingkan wajahnya dan meninggalkan ku begitu saja. Aku menahan rasa sakit dihati, kenapa semua orang menutupi keberadaan ayah, aku tahu, dari catatan ibu, ayahlah yang salah, dia meninggalkan kami begitu saja, tapi aku masih butuh penjelasan yang lengkap"
"Kalau ibu mu tidak mau bercerita, maka hanya satu yang dapat menjelaskan semuanya"
"Siapa tante?"
"Ayahmu"
"Ayah?"
"Iyah, dulu tante selalu mendengarkan apa yang tertulis di buku catatan milik ibu mu tanpa tahu dari sisi cerita ayahmu, tante tidak tahu, karena ayahmu bukanlah orang sembarangan, tidak semua orang tahu identitas aslinya apalagi cerita kehidupannya mentah-mentah, atau apa yang sebenarnya terjadi padanya, semuanya masih semu, masih tertutup, itulah kenapa ibu mu menulis LELAKI MISTERIUS pada sampul buku catatannya"
Perkataan Tante Diana terjeda, sebelum melanjutkan kembali.
Iyah, aku paham apa yang dimaksud Tante Diana, ibu juga menuliskan dibuku catatannya, bahwa ayahku adalah keturunan pendiri Negara Singapura Moderen, dan ibu, aku bahkan belum percaya kalau ibu salah satu keturunan dari kerajaan Nusantara.
"Hanya kau nak, hanya kau yang bisa mengembalikan kebahagiaan ibu mu"
"Dengan apa tante?"
__ADS_1
"Hanya satu, pergilah menemui ayahmu di Negara Singa Putih, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan"
"Tapi..."
"Ibu mu tidak akan mengizinkannya?"
"Benar tante"
Tente Diana memang sahabat terbaik ibu. Dia bahkan sudah sangat paham dengan karakter ibuku.
"Tapi ingatlah kata-kata tante ini nak, kau adalah seorang prajurit TNI sekarang, bagaimana bisa kau selalu melindungi perdamaian negara ini jika kau belum bisa menjaga perdamaian dalam keluargamu, jangan kau korbankan diri mu untuk kebahagiaan negara ini sebelum kau korban dirimu untuk kebahagiaan ibu mu, ibu adalah segalanya, segalanya bahkan dari negara ini sekalipun"
Kata-kata yang keluar dari mulut Tante Diana, sontak mampu membuat jantungku berdetak lebih cepat, tubuhku bergetar hebat, Tante Diana benar, untuk apa aku meraih gelar seorang TNI yang bertujuan menjaga perdamaian negara kesatuan ini, jika aku tidak bisa menjaga perdamaian keluarga ku sendiri. Dan ibu, aku berjanji, akan aku kembalikan apa yang seharusnya ibuku dapat miliki, sebuah kebahagiaan.
"Terimakasih tante, tante memang pantas menjadi dosen, tante dapat memotivasi siapapun yang membutuhkan, dan Arsyad bangga, tante adalah sahabat terbaik ibu"
"Sama-sama nak, pergilah, inilah yang sedari dulu tante tunggu-tunggu, ibumu berhak bahagia sebelum berakhir usianya, semua orang berhak tahu kalau ibu mu bisa bahagia"
Air mata Tante Diana mulai menetes, aku juga terharu dengan pembicaraan ini, masa liburku masih satu bulan lagi, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, ibuku berhak mendapatkan kejelasan, berhak mendapatkan sebuah kebahagiaan.
__ADS_1
Inilah yang harus aku lakukan sebelum menuai tugasku sebagai prajurit negara, aku harus menjadi prajurit untuk keluargaku sendiri.
Next....