
Dua hari berikutnya, aku sedikit menghindar dari Intan. Saat berpapasan aku hanya diam. Di meja makan aku hanya menjawab pertanyaan seadanya, lalu pergi bersiap-siap untuk bekerja. Waktu ku lebih banyak ku habiskan ditoko, pulang sedikit larut, menyapa ibu, mencium tangannya lalu pergi ke kamar, tidur. Tidak lupa ku kunci pintunya, aku tidak mau Intan kembali masuk kamarku tiba-tiba.
Dua Minggu terus seperti itu. Aku masih bertahan, bertahan untuk tidak mengungkit apa yang pernah Intan katakan. Bertahan untuk terus menutup siapa diriku sebenarnya. Sampai sebuah ide muncul dari otakkku.
"Ibu, aku akan membuka cabang minimarket baru di kota. Tempat dan bangunannya sudah siap, hanya tinggal diresmikan. Tapi ada yang ku inginkan dari ibu"
"Wah itu hebat, baru satu bulan yang lalu kau membuka minimarket, kau sudah membuka cabang. Lalu apa yang kau inginkan dari ibu nak?"
Di meja makan pagi itu, kami berkumpul lengkap, aku, ibu, Arsyaf dan Intan. Aku mengawali pembicaraan dengan membahas cabang minimarket yang akan aku buka di kota. Dan ibu benar. aku baru membuka minimarket satu bulan yang lalu. Aku juga masih heran. Dalam satu bulan aku sudah mendapatkan kembali modal awal dan mendapatkan keuntungan yang lumayan.
"Aku ingin ibu yang meresmikan cabang minimarketnya, ibu mau kan?"
"Ibu? Itu hasil jerih payahmu selama sebulan ini, ibu merasa kurang berhak"
"Kata siapa? Ibu lebih berhak dari siapapun, sekalipun ibu meminta tokoku, akan Arsyaf berikan semuanya. Do'a dari ibu adalah kunci kesuksesan ku bu. Ayolah bu, Arsyaf mohon, ibu hanya perlu ikut bersama Arsyaf ke kota, kita menginap disana beberapa hari. Karena minimarketnya masih tinggal tahap terakhir, pembersihan"
"Ada benarnya juga bu, ibu kan belum pernah pergi jalan-jalan selama ini, kami sudah besar tidak perlu lagi dijaga, diladeni. Ibu perlu refreshing juga bukan?" Arsyaf menyutujui ide ku, ini lebih memudahkan aku untuk membujuk ibu.
"Kapan?" Tanya ibu.
__ADS_1
"Besok sore kita berangkat" kataku. Ibu tersenyum manis.
"Baiklah"
"Yes" aku memeluk ibu dari samping.
"Terimakasih, sudah menjadi wanita pertama yang berharga dalam hidupku bu" Ibu tertawa anggun.
"Siapa nanti yang kedua?" Tanya ibu meledekku.
"Siapa lagi, tentu dia yang akan menjadi istri ku" kataku.
"Atau mungkin sebaliknya" Kataku.
"Dan kau Arsyad, selama ibu dan Arsyaf pergi kau harus lebih sering-sering dirumah, kasian Intan sering kau tinggal keluar kota"
"Eemm baik bu, nanti aku coba minta izin untuk lebih banyak mengurus perusahaan dekat-dekat sini"
"Nah itu bagus" Arsyaf tersenyum, tapi senyumannya tidak selepas biasanya, dia seperti ada tekanan yang terpendam.
__ADS_1
"Bu nanti sore aku mau mampir ke rumah Tante Diana, boleh?"
"Tentu, datanglah kesana, kau harus lebih akrab juga dengan Tante Diana. Iyakan Tan?"
"Iya bu" Intan tersenyum tanggung. Lalu menatapku tajam. Akhir-akhir ini. Intan selalu membuat aku was-was.
"Hemm, baik bu"
Aku melanjutkan kambali sarapanku. Setelah selesai, membereskan semua sisa makanan yang ada. Mencuci piring, gelas, sendok. Semua yang digunakan saat makan.
"Apa kau sering melakukan ini?" Intan bertanya dari balik punggungku.
"Yah. Sejak aku kecil"
Setelah itu lenggang. Tidak ada pertanyaan berikutnya. Hanya itu saja. Bahkan saatku putar tubuhku, Intan sudah tidak ada lagi disana. Setelah beberapa menit, aku baru sadar. Intan hanya memancingku untuk mengungkap kebiasaan yang pernah ku lakukan sejak dulu.
"Ah anak itu, memang tidak pernah mudah menyerah. Tapi lihat saja, aku akan lebih berhati-hati" Kataku pada diri sendiri.
Next...
__ADS_1