
Dua hari setelah pernikahan Intan dan adikku, semuanya kembali biasa, kembali kerutinitas biasa, yang berbeda sekarang kami tinggal bersama, aku, ibu, Intan dan adikku. Ayah belum juga kembali, dia benar-benar menunggu ibu siap bertemu dengannya. Kakek dan Nenek kembali ke Kanada, ada beberapa bisnis yang tidak bisa mereka tinggal. Tak apa, bisa melihat mereka adalah kebahagiaan tiada tara.
Malam itu rembulan bersinar terang. Aku duduk di balkon dekat kamarku, itu yang sering aku lakukan sejak dulu. Merenung di bawah kolong langit. Memandang hiasan kecil-kecil yang bercahaya. Hatiku belum berdamai dengan kejadian demi kejadian yang aku hadapi sekarang. Sungguh tidak bisa. Apakah hidup selalu seperti ini? Kejam. Tega merebut begitu saja kebahagiaan orang-orang yang selalu berbuat baik. Ibu tidak pernah salah tapi dia harus menerima penderitaan yang besar. Aku juga tidak pernah membuat kesalahan, tapi lihatlah yang ku terima sekarang.
"Abang"
Itu suara Intan. Dia memanggil dari bawah. Seharusnya aku diam saja, seharusnya aku tidak perlu merespon, sekarang aku adalah Arsyaf, panggilan Abang hanya untuk Arsyad, tapi tubuhku reflek dengan sendirinya, aku bangun dari rebahan ku menatap langit.
"Iyah" Aku menjawabnya.
Intan menataku dengan tajam, tatapan orang bertanya-tanya, ia terus menatapku dengan bingung, aku juga bingung, kenapa aku harus menjawabnya, kenapa aku harus menjawab panggil yang bukan lagi tertuju untukku. Intan masih menatapku dengan lekat.
"Ma'af sayang membuat kau menunggu lama" Arsyaf keluar, menghampiri Intan. Saat dia hendak merangkulnya, ia urungkan.
"Kau sedang melihat apa?" Tanya Arsyaf.
Aku dengan cepat merebahkan kembali tubuhku. Berharap Arsyaf tidak tahu apa yang sedang Intan lihat.
"Aku sedang menatap rembulan. Malam ini bersinar indah" Jawabnya.
"Sejak kapan dia pandai berbohong?" Tanyaku lirih.
__ADS_1
"Ah kau benar, malam ini begitu menawan, tapi menurutku itu masih biasa" kata Arsyaf.
"Kenapa?" Tanya Intan pada Arsyaf.
"Karena wanita di depanku lebih menawan dari rembulan malam ini" Katanya. Intan tersenyum. Aku mendengarnya.
"Ayo kita pergi sekarang" Arsyaf membawa Intan pergi. Aku tidak tahu mereka kemana, tapi mendengar candaan mereka berdua kembali membuat hatiku sakit. Seharusnya aku yang melakukannya. Aku lebih jago membuat Intan tersenyum, lebih jago membuat Intan bahagia. Tapi mulai sekarang aku hanya mampu menjadi penonton.
Lihatlah, apa ini hidup adil? Pertanyaan itu menyergapku malam ini, memenuhi relung-relung kepalaku. Membuat hari-hari berlalu lamban. Sekarang aku yang harus menunggu, menunggu jalan hidup yang Tuhan berikan.
"Masuklah nak, nanti kau bisa masuk angin" Aku terbangun, suara wanita pertama yang paling aku cintai sudah tepat dibelakang ku.
"Ibu"
"Hanya bersantai saja bu"
"Masuklah, nanti kau bisa masuk angin"
"Ah ibu, aku sudah besar, dari dulu kenapa ibu selalu melarang ku untuk berada diluar"
"Apa?" Ibu bingung mendengar pernyataan ku. Ah aku tidak sadar. Aku kecelposan lagi.
__ADS_1
"Ah maksudku, dari dulu ayah juga seperti itu, selalu melarang ku berada diluar malam-malam"
"Itu karena ayah baik, dia mengkhawatirkan mu"
"Ibu mengkuinya, lalu kenapa...?".
"Belum nak, belum waktunya, ibu masih belum siap bertemu ayahmu kembali"
"Tapi bu, ayah juga menunggu"
"Kau tidak tahu betapa menderitanya ibu selama bertahun-tahun"
"Aku tahu, aku tahu semuanya, aku tahu penderitaan ibu selama ini, karena itulah Arsyaf datang kesini bu, Arsyaf ingin mengembalikkan kebahagiaan ibu. Setidaknya aku ingin melihat wanita yang telah melahirkan ku bahagia, mendapatkan apa yang diinginkan. Hanya itu saja bu. Tolong bu ikhlaskan semuanya"
"Tidak nak, ini tidak semudah yang dikatakan, hati ibu belum mampu menerima itu semua dengan mudah, masih terlalu sakit untuk mengenang masa lalu"
"Tapi bu..."
"Masuklah, ibu tidak ingin kau sakit, dan kita tidak perlu membahas ini lagi"
Aku menghela nafas. Tapi tidak semudah itu juga aku akan menyerah. Malam itu aku tidak lagi peduli pada rembulan, tidak peduli pada bintang yang bersinar. Aku harus kembali pada tujuan awalku mengembalikan kebahagiaan ibu yang masih terpendam. Tunggulah bu, aku tidak akan lagi peduli pada hidupku terhadap Intan, biarlah dia sudah menjadi milik Arsyaf, tapi untuk mu aku tidak akan membiarkannya terjadi begitu saja bu.
__ADS_1
Next.....