Tentara ku Pahlawan ku

Tentara ku Pahlawan ku
Episode 8


__ADS_3

Buk!


Sebuah pukulan dari belakang berhasil menghantam tepat dikepalaku, seketika berubah pusing, kesadaran ku memudar, beberapa detik setelahnya kesadaran ku berangsur hilang.


Ditengah-tengah kesadaran yang menipis, aku mendengar suara baku tembak antara pasukanku dan para penjahat itu.


"Kepala komando, prajurit satu, prajurit satu, bangun!" Panggilan itu adalah panggilan terakhir yang aku dengar, setelah itu, semua sunyi, gelap, aku seperti tertidur lelap tanpa rasa.


"Arsyaf, kau sudah bangun" Seorang laki-laki memanggil entah siapa, tapi diruangan yang asing hanya aku yang merasa baru saja tertidur.


"Aku dimana?" Tanyaku, ruangan serba putih ini semakin membuat kepalaku terasa sakit. Aku, aku tidak tahu apa yangu sudah terjadi, aku mencoba mengingat, tapi semuanya kosong, nihil, tidak ada satupun yang terlintas di kepala ku.


"Kau kenapa nak? Mana yang sakit?" Raut wajah laki-laki itu terlihat khawatir.


"Anda siapa?" Laki-laki itu diam, tidak langsung menjawab pertanyaan sederhana ku. Dia terus menatapku seperti orang bingung.


"Kau tidak ingat ayah?" Wajah laki-laki itu berubah sedih.

__ADS_1


"Ayah?"


"Ini ayah nak, kata dokter kau memang mengalami pukulan keras saat diculik, dan itu membuat kau kehilangan sebagian memori, tapi apa kau juga tidak ingat pada ayah?" Laki-laki yang mengaku ayahku itu memelukku sangat erat.


"Ayah, ayah" Gumanku memanggilnya pelan, berusaha mengingat semuanya, tapi semakin aku memaksa mengingat, semakin kepalaku sakit tak terkira.


"Lalu, aku siapa?" Tanyaku, karena aku juga tidak bisa mengingat namaku sendiri.


"Kau Arsyaf, putra ayah" Katanya. Aku terus berusaha mengingat semuanya.


"Tenanglah Arsyaf, anda hanya butuh waktu untuk mengingat semuanya, semakin anda paksa untuk mengingat, maka akan semakin terasa sakit, sekarang kau hanya butuh istirahat" Seorang perempuan cantik menasehati ku, dilihat dari pakaiannya, aku yakin dialah dokternya.


"Pelan-pelan nak, ayah akan membantu kau mengingat semuanya, pelan-pelan saja" Kata ayah. Aku hanya mengangguk pasrah.


"Silahkan tuan, biarkan Arsyaf makan, agar tenaganya mulai pulih"


"Nah, kau dengarlah saran dokter, Kau harus makan dulu supaya tenaga mu cepat pulih" Setelah ayah mengatakan itu, ayah pelan-pelan menyuapiku.

__ADS_1


Kenapa kata-kata ayah tadi, terus mengiang dikepalaku, 'Kau harus makan dulu supaya tenaga mu cepat pulih', 'Kau harus makan dulu supaya tenaga mu cepat pulih'. Kata-kata itu seperti pernah terucap oleh seseorang, tapi aku tidak tahu siapa yang mengatakan.


"Cukup yah, kepalaku pusing, boleh aku istirahat?"


"Tentu saja nak, istirahatlah, ayah akan menjagamu disini, ayah janji, tidak akan pergi meninggalkan mu"


Aku berbaring, ayah membenarkan selimut ku, salah satu suster langsung membereskan sisa makanan dan membawanya keluar.


"Selamat istirahat Arsyaf" Kata dokter cantik yang memiliki nama Ayu Indah Permaisuri, nama itu menempel diseragam bajunya.


Benarkah namaku Arsyaf, benarkah dia ayahku, kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun, aku seperti seorang bayi yang dikasih tahu sedikit demi sedikit, tapi kenapa hati ini memiliki rasa yang lain.


Kalau ada ayah berarti ada ibu, lalu dimana dia, kenapa ayah sendiri, apa ibuku telah tiada, apa ibu sedang keluar sebentar, tapi ayah tidak sedikitpun membahasnya.


Ah, kepalaku semakin berat, pusingku bertambah, aku hanya butuh istirahat dulu, berharap setelah ini semua akan baik-baik saja. Semoga saja.


Next....

__ADS_1


__ADS_2