
"Jadi, jadi benar aku melahirkan dua anak" ibu mulai berbicara, tapi dengan suara terbata setelah menangis. Ayah hanya mengangguk, aku juga, dan adikku Arsyaf dia hanya diam, masih bingung dengan keadaan ini. Yah aku juga pernah mengalami hal yang sama, amnesia itu benar-benar menyiksa, tidak paham apa yang sedang terjadi, tapi sekali ikut memikirkan rasa sakit amat sangat langsung menyerang.
"Dan kau, kau yang mencuri anakku bang, kau pencuri! Kau pencuri! Pencuri! Pergi kau" Ibu kembali histeris, berteriak-triak, memukul ayah, mendorong sekuat tenaga, mengatakan ayah sebagai pencuri anaknya, tapi ayah dengan siap kembali memeluk ibu dengan erat.
"Lepaskan! Kau mencuri anakku!"
"Tenanglah sayang, aku akan jelaskan semuanya" kata ayah, semakin memperkuat pelukannya, mengunci ibu, berusaha agar mambuat ibu tidak lagi memberontak.
"Nak tangkap orang ini! Kau adalah seorang tentara, tugasmu adalah memberantas kejahatan, tangkaplah! Tangkaplah orang ini, dia adalah penjahat! Ibu mohon tangkap dia"
Ibu terus berteriak, meminta entah kepada siapa untuk menangkap ayah, yang seorang tentara adalah aku, tapi pandangan ibu kepada adikku Arsyaf. Yang diminta bantuan hanya diam tak mengerti.
Suasana pagi menjelang siang itu berubah lebih tegang. Aku bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba terdengar suara dari ruang depan.
"Ada apa ini?" Dua orang baya masuk, mereka menggunakan baju cauple batik, aku mengamati wajah mereka. Ya Tuhan, mereka sangat mirip dengan ibu, atau jangan-jangan.
"Kakek, nenek, Arsyad juga tidak tahu apa yang sedang terjadi" kata Arsyaf, masih memanggil dirinya menggunakan namaku.
"Kakek, nenek" panggil ku dengan pelan.
"Kau?" Nenek menghampiriku, raut wajahnya memperlihatkan kebingungan.
"Kau mirip sekali dengan Arsyad, kalian benar-benar sangat mirip" Nenek tidak puas-puasnya memegangi wajahku, kakek juga sama, wajahnya terlihat heran setelah melihat ku. Sejeknak mereka justru asyik melihat kemiripan antara aku dan Arsyaf.
"Kami memang kembar nek, sebenarnya akulah yang Arsy" Aku belum sempat selesai mengucap namaku yang sebenarnya, ibu sudah kembali berteriak.
"Lepaskan! Lepaskan!" Teriakan ibu mulai menggema lagi. Kakek dan nenek langsung melihat kearah mereka.
__ADS_1
"Arsyaf ambilkan, obat penenang di mobil!" Perintah ayah, tapi Arsyaf hanya diam. Ah aku lupa, dia masih menganggap dirinya sebagai Arsyad.
Akhirnya aku yang keluar, berlari sekencang mungkin, melewati kakek dan nenek begitu saja. Sampai dihalaman depan, aku langsung meminta salah satu pengawal untuk mengambil obat penenang di dalam mobil. Dan kembali lagi berlari masuk kedalam.
"Ini yah" Aku memberikan obat itu.
"Kau mau apakan anakku tuan?" Kakek merasa khawatir, dia takut ayah akan menyakiti ibu. Ayah tidak langsung menjawab, dia menuangkan cairan penenang itu dilengan bajunya, dan memaksa ibu untuk menghirup cairan itu.
"Tidak! Aku tidak mau, kau tidak boleh melakukan ini padaku!" Tapi lagi-lagi ibu kalah tenaga, ayah dengan cepat membungkam mulut ibu dengan lengan baju ayah.
Hanya menunggu beberapa detik, suara ibu semakin mengecil, dan mengecil, pegangan tangan ibu pada ayah semakin menurun, pertahankan ibu lemah, lalu pingsan dalam sekejap.
Ayah dengan siap menjaga tubuh ibu agar tidak jatuh, menggendongnya, membawanya ke sofa, menidurkannya disana.
"Apa yang sebenarnya terjadi tuan, kenapa bisa seperti ini?" Kakek bertanya pada ayah, dia bahkan tidak berubah tetap memanggil ayah dengan sebutan tuan.
"Kakek? Kau memanggilku kakek? Kau juga sangat mirip dengan Arsyad cucuku, apa kalian kembar?"
"Benar kek kita kembar, kita terpisah Arsyad hidup dengan ibu dan Arsyaf dengn ayah" Kataku.
"Jadi, kau Arsyaf?" Tanya nenek.
Aku tahu situasi ini sangat sulit, jika aku mengaku Arsyad sekarang, pasti butuh penjelasan lagi dari awal. Mungkin untuk sementara, tidak ada salahnya aku mengaku menjadi Arsyaf dulu.
"Benar nek aku Arsyaf, aku dan ayah datang kesini ingin berjumpa dengan kalian semua"
Wajah nenek berubah haru, ia langsung memelukku dengan erat, kakek juga sama, mereka mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kakek tidak menyangka kalau kakek punya cucu kembar sekaligus"
Aku mulai mengusap air mataku, mencoba menahan situasi haru ini agar tidak berubah histeris, Arsyaf masih memandang kami dengn tatap bingung. Ini juga pasti sulit untuk dirinya cerna secara mentah-mentah.
"Ma'afkan semua kesalahan ku yah, bu, aku yang membuat semua ini menjadi rumit, aku yang membuat Elis menderita, aku yang harus membuat Elis menanggung semuanya, aku, semua salahku" Suara ayah bergetar, tubuhnya juga seperti dipaksakan untuk mampu berdiri.
Kakek dan nenek terbengong, mereka tidak percaya apa yang barusan ayah katakan, yah aku tahu, mereka pasti kaget dengan perubahan drastis ayah sekarang.
Nenek hanya menggelengkan kepala, air matanya lebih deras dari sebelumnya, ia seperti ingin mengatakan 'ini bukan sepenuhnya salah mu' pada ayah. Tapi hanya gelengan kepalanya yang mampu mengganti jawaban itu.
"Sini Arsyad, kau harus sapa ayah mu, dia adalah ayah kandungmu, dan ini saudara kembar mu Arsyaf" kata kakek, Arsyaf berjalan menghampiri ayah.
"Ayah" panggil Arsyaf.
"Sebenarnya" Ayah seperti ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi aku buru-buru mencegahnya. Memegangi tangan ayah, lalu ku gelengkan kepalaku sebagai tanda untuk tidak mengatakan semua sekarang.
"Arsyad minta do'a restu yah, Arsyad baru saja menikah" kata Arsyaf.
"Kau sudah menikah, dengan siapa?" Tanya ayah bingung. Aku juga menunggu jawaban Arsyaf, penasaran.
"Iya ayah, dengan seorang wanita cantik, bernama, Intan Permata" kata Arsyaf. Ada jeda sebelum dia memanggil nama wanita yang dinikahinya.
Deg! Seketika jantungku seperti terhantam oleh beton dengn berat berton-ton setelah mendengar nama wanita itu. Tidak salahkan apa yang aku dengar? Benarkah Arsyaf sudah menikahi Tatan? Benarkah mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri? Benarkah? Benarkah? Semua pertanyaan langsung bergiliran datang dikepalaku. Tubuhku lemas, aku seperti baru saja tersengat listrik dengan ribuan vlot.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Hatiku seperti mati rasa.
Next...
__ADS_1