Terikat Dengan Takdir

Terikat Dengan Takdir
Chapter 24


__ADS_3

Aileen berteriak karena Lucas yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Lelaki itu menginjak rem membuat Aileen termaju ke depan."Baiklah....sudah sampai sayang."ucap Lucas.


Aileen terdiam membuat Lucas menatapnya heran."S-sayang?"


Aileen menatap Lucas tajam membuat lelaki itu meneguk saliva-nya takut."Lucas!! apa kau gila?! Membawaku dengan kecepatan tinggi seperti itu, kau ingin membunuhku?!"marahnya.


"S-sayang...jangan marah...aku janji tidak seperti itu lagi."ucap Lucas.


"kau pikir aku bodoh?! Jika kau seperti itu lagi...aku...."ucap Aileen menggantung perkataannya membuat Lucas penasaran."aku akan membatalkan pertunangan kita!"ancam Aileen membuat Lucas membelalakkan matanya kaget.


"Aileen...kau bukan anak kecil lagi...kenapa kau bersikap seperti itu? Itu gak lucu!"tegur Lucas.


"lalu? Kau pikir lucu ngebut ngebutan menantang maut?!"bentak Aileen."aku merasa kasian terhadap Martin, aku yakin dia merasa geram hendak mencabut nyawamu tapi sayangnya belum takdir!"lanjut Aileen.


"kenapa kau berbicara seperti itu?"tanya Lucas menatap Aileen lamat.


"kenapa? Kau harusnya tahu dimana kesalahanmu!"


"bukan itu....maksudku apa kau ingin aku segera mati? Karena itu kau membicarakan hal ini?"tanya Lucas.


"apa maksudmu? tentu saja tidak, Lucas...kau jangan salah paham."jawab Aileen.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Aileen menatap Liana yang mengetuk kaca mobil Lucas."ayo... bundamu sudah tiba."ajak Aileen.


"iya..."jawab Lucas.


Lucas dengan wajah lesu turun dari mobilnya dan masuk ke rumah sakit mengikuti kedua orang tuanya.


Setelah menanyakan dimana ruang inap istrinya Steve di lobi, mareka pun langsung pergi ke kamar itu.


Drrrrt.....drrrrt....


"baiklah... pergi saja."ucap Luis.


"Lucas, bisa aku ikut?"tanya Aileen membuat Lucas terdiam.


"apa yang harus aku lakukan? Jika aku menolaknya dia bisa curiga padaku tapi jika aku mengajaknya.... bisa-bisa...dia akan merasa kecewa karena aku memiliki memiliki penyakit yang mengancam nyawaku."batin Lucas.


Melihat Lucas yang bimbang Liana langsung mengerti alasan putranya."Eum...Ai...ayo masuk kedalam kamar, kita lihat baby-nya cowok apa cewek."ajak Liana sambil menarik tangan Aileen.


"E-eh? tapi... Lucas...?"

__ADS_1


"sudah...dia kan sudah besar...jangan memperlakukannya seperti anak kecil nanti dia terlalu manja."ucap Liana.


Mau tak mau Aileen mengikuti Liana yang sudah menarik tangannya. Lucas menghela nafas lega dan berjalan berbalik pergi.


"baik...sekarang aku harus ikut kemana?"Gumam Luis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Lucas berjalan menuju ruangan check-up yang ada di ruang sakit itu. Kenapa Lucas mengetahuinya? Jawabannya adalah rumah sakit itu merupakan salah satu perusahaan dibawah naungan L Group.


Bukan hanya itu, rumah sakit itu juga adalah pemberian dari pamannya ketika ia berusia 7 tahun.


Tanpa permisi Lucas langsung masuk kedalam ruangan itu terlihat seorang gadis yang memakai pakaian dokter sibuk dengan dokumennya.


Lucas duduk dihadapan gadis itu, yang tak lain adalah Daisy."Aku sudah tiba, kenapa?"tanya Lucas.


Daisy mengangkat wajahnya."aku senang akhirnya kau mau datang untuk checkup."ucapnya.


Lucas menundukkan kepalanya membuat Daisy menatapnya heran."ada apa?"tanyanya.


"aku harap ini hanya firasat ku..."ucap Lucas menggantungkan perkataannya.


"kenapa? Apa yang terjadi?"tanya Daisy.


"aku rasa... penyakit ini...sudah berada di stadium akhir."ucap Lucas.

__ADS_1


__ADS_2