Terikat Simpul Pernikahan

Terikat Simpul Pernikahan
Membenci suami


__ADS_3

Sesampainya di villa ...


Sang suami hanya bisa mengajak Xena berbicara seadanya sebab, Xena belum mau terbuka.


Padahal menurutnya, dia sudah mengatakan banyak hal agar Xena mau mengucapkan satu katanya padanya, paling tidak iya atau tidak.


"Sayang, kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri, kenapa masih saja kaku, aku tidak sejahat yang kau pikirkan," ucap Fernad.


Dia menatap jalanan yang sudah tidak cukup ramai, mobilnya berbelok ke arah sebuah rumah yang cukup besar dengan taman yang ada di halaman rumah itu.


Fernad telah sampai di villa miliknya yang berada tidak jauh dari gedung pernikahan yang sudah ia tinggalkan setengah jam lalu.


Dia masih menunggu jawaban Xena sambil meminta anak buahnya membuka gerbang villa.


Anak buah Fernad sangat bergerak cepat, gerbang itu sudah terbuka, mobil Fernad siap masuk ke dalam halaman villa.


Dia masih berada di dalam mobil sambil menuju tempat parkir villa yang masih beberapa menit lagi.


.


.


.


Fernad telah memarkirkan mobilnya di tempat yang seharusnya, kemudian ada dua anak buah di samping mobilnya, mereka langsung membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Selamat datang tuan dan nyonya, kami sudah menyiapkan tempat beristirahat yang sangat nyaman dan mewah, tuan dan nyonya Fernad pasti tidak akan kecewa," jelas sang anak buah.


Xena sudah malas dengan semua ini dan meminta Fernad untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, namun Fernad tetaplah Fernad.


Pria berusia empat puluh tahun itu, memiliki cara tersendiri untuk memaksa Xena mengikuti apa yang dia inginkan.


Fernad tak segan menggendong tubuh Xena yang terlihat sangat proporsional itu.


Dua anak buah tidak berkomentar sebab apa yang dilakukan sang bos sah-sah saja sebab sudah menjadi tugas suami memberikan kasih sayang berupa apapun, semisal mengendong atau melakukan hal romantis lainnya.


"Bos sangat manis," ucap anak buah 1.


"Iya, kau memang benar," jawab anak buah 2.


Sedangkan sang bos sudah sampai dia dalam rumah, mereka lalu pergi dari sana untuk mengerjakan pekerjaan yang lain.


.


.


.


Keduanya sudah berada di dalam rumah, Xena terus saja memberontak, tapi setidaknya Fernad masih bisa menguasai Xena yang sangat penuh perlawanan itu.


Langkah Fernad kini berada di depan kamar utama,.

__ADS_1


Fernad menempelkan jempolnya di sebuah alat pendeteksi sensor sidik jari.


Alat itu berada di handle pintu, jika bukan sidik jarinya, tidak bisa membuka pintu itu.


Fernad memiliki kuasa penuh terhadap kamar utama.


DI kamar utama ...


Fernad merebahkan tubuh Xena yang sudah kelelahan karena banyak bergerak, melawan Fernad sama saja seperti melakukan hal yang sia-sia.


Kini Xena sudah menjadi seorang istri dari pria yang bernama Fernad.


Pria itu sangat berpengaruh di kota yang cukup besar itu, tidak ada seorang pun yang mampu melawan kuasanya.


Ferbad mulai naik di atas tubuh nan indah itu, dia tak sabar melakukan pemanasan.


"Aku benci kau, suamiku!" ucap Xena sambil meludah.


Fernad tidak mengurungkan niatnya, justru dia lebih bersemangat untuk melakukan kewajibannya di malam pertama.


"Setelah ini, kau pasti akan semakin membenciku, nikmati kebencian itu, sebelum kau terjebak dalam lautan cinta yang akan aku semai di dalam rahimmu!"


Sang pria sudah siap dengan segalanya, tapi tiba-tiba saja panggilan telepon membuyarkan aksinya.


*****

__ADS_1


__ADS_2