
Satu bulan bukanlah waktu yang sebentar.
Semua yang di lalui oleh Xena dan suami begitu kompleks, sebab cinta hanya berjalan searah saja.
Xena juga malas membalas perasaan cinta itu sebab dia memiliki prinsip, tidak mau mencintai orang yang sudah membuatnya menderita, meski secara keseharian, Fernad begitu baik terhadapnya.
Bahkan sangat baik, akhir-akhir ini Fernad juga sangat romantis.
Keduanya memang belum menghabiskan malam berdua, oleh karena itu perasaan yang gundah selalu menyelimuti Fernad.
Dalam satu bulan yang penuh dengan percobaan, Fernad mempelajari sifat dari seorang Xena.
Dia tidak mungkin gegabah atau mencari banyak hal tentang Xena tanpa memperhatikan moodnya.
Seperti pagi ini, dia memberikan satu kejutan.
Fernad mengajak istri tercinta jalan-jalan.
Akan tetapi pada kenyataannya, sang istri enggan mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya.
Padahal Fernad sudah menyiapkan sebuah pesta yang begitu megah dan penuh dengan cahaya indah.
Khusus hari ini, usaha restoran yang sudah ia rintis dari nol, memberikan diskon pada semua pengunjung sebab hari ini sang bos akan merayakan satu bulan pernikahannya.
Lagi-lagi semua rencana matang di gagalkan begitu saja Xena.
Istrinya berada di dalam kamar dan tidak mau keluar, entah apa yang membuatnya kesal.
"Sayang, aku tidak akan memaksamu lagi, tapi ayo kita pergi ke makam ayah dan ibumu."
Sang suami memiliki satu jurus jitu agar sang istri mau keluar dari kamar.
__ADS_1
Dia memang sudah merencanakan ini juga, sebelumnya Fernad memaksa bibi Xena untuk memberikan informasi dimana jasad ayah dan ibu Xena.
Sang bibi yang tidak terlibat peristiwa itu, mencoba mencari tahu dan menemukan fakta bahwa jasad sang kakak sudah di kuburkan dengan layak di makam keluarga.
Tempat itu berada di dekat rumah milik keluarga Xena yang kini sudah menjadi abu.
Akan tetapi sang suami telah memindahkan semua jasad itu ke tempat yang lebih layak, sang bibi tidak bisa berkutik.
Meski dia tidak setuju, uang sudah membungkamnya.
.
.
.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Xena keluar dari kamarnya dengan pakaian serba hitam.
"Aku mau ke makan ayah dan ibuku, antar aku."
Sebuah perasaan haru menyelimuti kebahagiaan hari ini.
Sang suami meminta istri ikut bersamanya.
.
.
.
Di dalam mobil ...
__ADS_1
"Aku tahu kau benci padaku," jelas Fernad setelah berada berada di dalam mobilnya, jarak antara rumah dan parkiran mobil, hanya beberapa meter saja.
Jadi cukup dekat.
Sehingga saat tahu mobil ada di depan rumah, Fernad langsung meminta Xena masuk ke dalam mobil super mewah miliknya.
Sang istri malas menjawab, dia memalingkan wajah.
"Sudah satu bulan kau bersamaku, aku tidak pernah melihat kau sangat bahagia seperti ini, apakah sumber kebahagiaanmu adalah ayah dan ibumu?" tanya sang suami dengan lembut.
"Kalau sudah tahu kenapa bertanya?" jelas sang istri begitu menggemaskan.
Sang suami yang terkenal kejam dan angkuh, ternyata mau memahami perasaan istrinya sejak pertama kali keduanya hidup bersama.
Sebuah harmoni perbedaan yang indah.
Kedua orang itu lalu pergi dari sana setelah Fernad menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan, Fernad menghubungi beberapa karyawan untuk standby karena nyonya akan datang setelah dari makam, dan hal ini diketahui oleh istri tercinta.
"Tidak perlu menunjukkan jika kau adalah pria yang baik, sebab aku tidak pernah berusaha menganggap kau orang baik."
Sang istri benar-benar memberikan statemen ini dengan sangat mudah, sedangkan bagi Fernad senyum sang istri adalah satu hal yang tiada duanya.
"Aku bisa saja menghabisimu hari ini juga, tetapi aku sudah terlalu memujamu, kau adalah istri tercintaku. Aku juga tidak paham, mengapa begitu tergila-gilanya kepada orang yang selama ini berada dalam kegelapan. DIa tidak mau merubah pola pikirnya. Kau hanya melihat kebencian dan kejahatan dari kacamatamu saja, sekali-kali kau lihat dari sudut lain, baby!"
Fernad akhirnya bisa menyatakan semua rasa sesak di dalam dadanya.
Xena malas menanggapi.
Dia hanya berkata di dalam hati.
__ADS_1
"Siapa suruh menghancurkan hidupku," batinnya penuh amarah.
*****