
Hari ini, suami istri itu berusaha untuk tetap berpendirian dengan apa yang mereka yakini.
Xena dengan keras kepala dan sifat angkuhnya, sedang sang Fernad dengan sikap perhatiannya.
Keduanya sepertinya sangat nyaman dengan semua ini.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu marah padaku, hanya saja aku berharap kau tidak pernah merasa menjadi orang yang sok benar," ucap Fernad.
Pria itu masih fokus dengan apa yang ada di hadapannya.
Memasak satu hidangan yang sangat sedap sepertinya.
"Aku juga tidak akan merasa sok benar jika kau mau melepaskan aku," jelas Xena.
Xena tidak sudi melihat ke arah pria yang sudah merenggut kebebasannya.
Seharusnya Xena sudah berada di dalam satu dimensi yang mana membuatnya sedikit lebih baik, tetapi justru terjebak dengan sang bibi lalu bertemu dengan Fernad.
Sebuah bencana yang tidak bisa dihindari.
...
Beberapa menit kemudian, suara Fernad semakin dekat dan kini berada di balik punggungnya.
Bahkan lebih dekat kepada telinganya.
"Makanannya sudah siap sayang," ucap Fernad.
Sang istri yang terkejut, pura-pura diam dan tidak merespon, padahal terasa dengan sentuhan lengan Fernad bahwa tubuh istrinya bergerak seperti orang kaget.
"Kau makan saja, kenapa selalu menolak? kau tidak mau aku nikahi, tapi berbaik hatilah! makan daging dengan sayur yang segar ini, tidak selamanya perutmu akan menahan lapar," jelas Fernad.
Sang istri tidak menjawab, tapi perutnya tiba-tiba berbunyi.
__ADS_1
"Kau tidak perlu berbohong, suara dari dalam perutmu sama sekali tidak bisa membohongi aku," imbuh sang suami.
Sang istri diam saja, dia tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, sebab pada akhirnya dia akan kalah.
Xena memilih untuk diam dan membiarkan perutnya kelaparan.
Suami yang sangat mencintainya mencoba untuk memberikan segala rayuan agar istrinya mau menuruti apa yang dikatakan olehnya, tetapi ternyata sama saja.
Semua upaya tidak berhasil.
Xena tetap keras kepala dengan apa yang ada di dalam pikirannya.
Fokus dengan pendiriannya yang sangat kokoh.
Fernad mencoba membiarkan Xena berada dalam garis yang menurutnya benar, namun perut yang lapar juga menjadi pertimbangannya.
.
.
.
Sang suami sudah selesai makan, dia membiarkan sang istri tetap berada di dalam bawah selimut.
Fernad sengaja pergi dari tempat itu dan menyisakan sepiring nasi dan lauk.
Di sana ada juga air minum segar yang ia buat khusus untuk istri tercinta.
Klek!
Pintu kamar itu telah terbuka, sang suami pergi dari sana dan istri mulai membuka selimut.
"Huft menahan semua ini sangatlah sulit," ucap sang istri dengan memegang perut yang lapar.
__ADS_1
Xena turun dari ranjang dan mencari makanan yang ada di sudut ruangan itu.
Setelah menemukan makanan yang dia cari, ternyata ada beberapa makanan yang dia suka, ini membuatnya girang.
Sang istri duduk di tempat yang tersedia.
Begitu menikmati hidangan yang ada.
Sedangkan di luar sana, Fernad memantau aktivitas sang istri sembari tersenyum.
"Dari CCTV, dia seperti orang kelaparan, tapi aku suka," cetus Fernad.
Dia sudah merasa cukup bahagia dengan semua keadaan ini, Fernad tak butuh lagi pengakuan.
Pria itu hanya ingin melihat seorang Xena berusaha mencintainya.
.
.
.
Hari demi hari di lalui dengan sangat bahagia, Fernad menjalankan tugas suami dengan baik, hanya saja Xena yang tak mau mengatakan sepatah katapun, sang istri hanya mau bicara saat terdesak saja.
Hingga setelah kejadian makan di kamar yang menunjukkan bahwa Xena sebenarnya juga memiliki perasaan seperti wanita pada umumnya, membuat Fernad gencar memberikan perhatian, meski tak pernah di respon dengan baik.
Pagi ini adalah satu bulan keduanya menjalani hubungan suami-istri yang sangat canggung, tapi nyatanya dua orang itu bisa bersama meski tanpa saling sapa dan saling senyum.
Perjuangan hanya berada di kubu Fernad, Xena tak mau ambil pusing.
Pada intinya dia tak suka dengan pria yang telah membuatnya terkurung dalam derita.
*****
__ADS_1