
Setelah pertemuan dengan mantan istrinya, Fernad mulai melaksanakan semua rencana yang sudah diatur sebelumnya.
"Aku tak ingin terburu-buru dalam melaksanakan ikrar pernikahan denganmu, bagaimana jika kita bertunangan dulu?" tanya Fernad.
"Iya, aku sudah bilang sejak awal bahwa tidak ada yang perlu diragukan dengan pernikahan ataupun bertunangan yang akan kita laksanakan nanti, aku sudah mempercayai apapun yang kau katakan dan jangan lupa kita harus bekerja sama dengan baik," jawab Gina.
Dia tidak akan melakukan banyak hal yang bisa membuat hubungan itu hancur, pada dasarnya Gadis itu hanya ingin satu hal saja yaitu uang dan uang.
Fernad lalu menelpon anak buahnya untuk mengirimkan undangan spesial untuk Alina.
"Kirim undangan ke tempat nona Alina, dia adalah gadis yang sudah aku ceritakan kemarin."
"Siap!"
Panggilan telepon itu hanya singkat saja, dia kembali menikmati es krim yang sangat enak di kedai itu.
.
.
..
Alina masih bersama dengan teman-temannya dan mendapatkan telepon dari salah satu karyawan yang ada di kantor.
"Bos, Tuan Fernad mengirimkan undangan pertunangan, dia ingin kau datang ke acara itu. Surat undangannya aku letakkan di atas meja."
"Apa? apakah yang kau katakan itu benar?"
Alina tidak percaya dengan berita yang baru saja ia terima, dia bahkan tidak menyangka jika idolanya begitu perhatian.
__ADS_1
"Mungkin karena aku sering mengirimkan hadiah padanya, jadi dia merasa senang," jelas sang gadis merasa senang.
"Hm, kau terlalu percaya diri. Ayo kita pulang saja!"
Xena rasa bahwa ada satu hal yang akan dilakukan oleh mantan suaminya, secara dalam perpisahan satu tahun lalu, Xena mendapatkan banyak hujatan darinya.
Fernad tiba-tiba saja hadir, suatu hal yang sangat janggal.
Dia mencoba untuk menyelidiki semua hal yang tidak semestinya ini.
.
.
.
"Aku begitu senang ketika mendapatkan undangan darinya," jelas Alina.
Wajahnya sangat berbinar ketika mengingat surat undangan itu.
Xena lalu mencari di internet mengenai sosok pria itu.
Xena tak menyadari bahwa kekasih yang ada disampingnya memperhatikan apa yang dia lakukan.
"Kau sedang apa?" tanya Ze.
"Oh, tidak apa-apa."
Xena menyembunyikan apa yang sebenarnya dari Ze, dia tidak ingin temannya menjadi korban akibat dendam yang dimiliki oleh Fernad.
__ADS_1
"Oh, aku kira kau mencari tahu tentang pria itu, secara kau sangat membencinya."
Ze sepertinya memiliki feeling yang bagus, apa yang katakan memang benar adanya.
Hanya saja Xena tidak mau mengatakannya karena ada banyak alasan.
Dia belum siap menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu kepada kekasihnya.
"Kita kemana?" cetus Xena.
Dia memasukkan ponsel di saku celananya dan kemudian bertanya kepada Alina.
"Ke rumahku saja," jawab Ze.
Xena belum siap untuk ke rumah kekasihnya karena dia masih memiliki banyak pertimbangan.
"Oke. Aku paham."
Ze merasa bahwa dia harus memahami dan meminta dirinya sendiri untuk tetap sabar, karena tidak bisa menjadikan Xena seorang istri dalam waktu dekat.
Alina memahami bahwa di dalam hubungan antara Xena dan Ze, ada banyak kesenjangan hanya saja pihak pria, selalu memberikan kesempatan dan kesempatan tanpa lelah.
"Ze, aku tidak tahu apa yang dirasakan oleh temanku itu tetapi aku yakin kau akan mendapatkan kebahagiaan setelah semua ini terlewati dengan baik," batin Alina.
Dia paham, dia sadar.
Hanya saja hati Xena tak bisa di atur seperti mainan.
*****
__ADS_1