
Rumah Alina ...
Akhirnya ketiga orang itu sampai di rumah Alina.
Sang pemilik rumah merasa seperti sopir pribadi karena dia harus menyetir dan duduk sendirian di kursi kemudi sedangkan dua temannya bermesraan di belakang.
"Hm, aku tidak pernah menyangka jika kalian bisa menjadi pasangan yang sangat romantis, selamat ya?" ucap Alina.
"Haha ... aku tidak pernah melakukan seperti yang kau katakan, lebih baik kita turun dan mengobrak-abrik dapurmu! sudah lama aku ingin memasak di rumah, aku berada di apartemen dan lupa jika tidak memiliki rumah."
"Iya, kau selalu datang ke rumahku dan mengira ini bukan rumahmu?"
"Bukan seperti itu Alina, rasanya ingin kembali ke masa lalu yang indah."
"Oh ya, selama ini aku mengenalmu bahkan kau tidak memperkenalkan aku dengan ayah ibumu."
Percakapan dengan Alina, langsung ia hentikan dan mengatakan bahwa kedua orang tuanya sedang bekerja di luar negeri.
Xena, Ingin menutup segala akses mengenai informasi, terutama informasi kehidupan yang di masa lalu.
Fernad dan sang pelayan membantu Xena untuk menutupi segalanya dan kini dia tak akan membongkar rahasia itu.
"Oh iya juga, aku bahkan tidak tahu siapa nama ayah dan ibu, aku lupa tentang segala hal mengenai kehidupanmu makanya kau tidak mau bertemu dengan kedua orang tuaku. Maaf ya, selama ini aku selalu memaksakan kehendak dan kau harus selalu bersamaku, aku bahkan tidak mempertimbangkan perasaanmu sedang malas atau tidak mau bersamaku waktu."
"Aku tidak terlalu memikirkannya yang penting aku ingin masak dan makan!"
Xena mendahului dua orang itu dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Alina, mengatakan pada Ze jika Xena memang orang yang misterius, tidak mudah baginya untuk mendapatkan cinta Xena.
"Kau harus lebih bersabar."
Sang teman menepuk pundak Ze.
Ze tersenyum dan ikut melangkah masuk ke dalam rumah itu.
.
.
.
Dapur ...
Xena begitu bahagia dengan meja yang penuh dengan bahan makanan karena dia sangat gemar memasak.
"Hayo! sedang makan atau apa?" tanya Ze.
"Hehe, aku sedang makan orang, kau mau aku makan?" Xena begitu senang menggoda kekasihnya.
"Haha, iya sayang. Aku sedang ingin memasak makanan yang sangat lezat, jadi kau dan sahabatmu itu harus duduk di meja makan, tunggu masakan matang."
"Ya ya ya."
Alina dan Ze kemudian duduk di meja makan, keduanya berbincang cukup intens, tapi lewat pesan singkat.
__ADS_1
"Kau kenal Fernad?"
"Kenal dong, dia itu idolaku."
"Cih, idola apanya? jelek gitu."
"Tidak ya, dia itu baik."
Dua orang itu terlihat senyum-senyum sendiri, Xena tak memberikan respon sebab dia tahu jika dua orang yang dekat dengannya memang pantas untuk curiga padanya.
"Aku tahu, keyakinan Ze padaku bisa saja luluh, tapi aku berusaha untuk menghormatinya. Aku sayang dia dengan rasa yang cukup baik, meski belum bisa sepenuhnya," batin Xena.
Sang gadis merasa harus fokus dengan masakan, dia memberikan yang terbaik untuk kedua temannya itu.
.
.
.
Tiga 10 menit kemudian...
"Taaraaa, masakan sudah matang, kalian stop untuk berkirim pesan! memangnya aku tidak tahu?" ucap Xena sambil tersenyum.
"Haha, oke! karena sudah tertangkap basah, aku ingin makan saja," jawab Alina.
"Sama aku juga."
__ADS_1
Ketiga orang itu akhirnya menjadi satu meja, lalu menikmati masakan Xena.
*****