Terikat Simpul Pernikahan

Terikat Simpul Pernikahan
Ada udang di balik batu


__ADS_3

Bibi Zo telah selesai berbicara dengan Fernad, lalu mandi.


Dia begitu senang karena berada dalam situasi yang sangat menguntungkan, bagaimana tidak, dia akan mendapatkan banyak uang dengan adanya Xena.


Kini jalan menuju kekayaan terbuka dengan sangat lebar.


.


.


.


Setelah sesi pembersihan diri usai, sekarang sang bibi keluar dari kamar mani dengan handuk kimono, dia segera masuk ke dalam ruang ganti kecil yang tersembunyi di balik kaca rias, yang biasa ia gunakan untuk merias diri.


Beberapa menit kemudian, Bibi Zo telah selesai mengenakan bajunya.


Lalu segera keluar dari kamar itu, dia tersenyum palsu, sok tulus serta terlalu baik.


Ya, hal itu yang akan dia lakukan selama beberapa hari ini, sebelum benar-benar memaksa seorang Xena untuk mengikuti apa yang dia inginkan.


.


.


Di dapur ...


Maura sudah berada di di sana sejak beberapa menit yang lalu, sebab dia yang menyiapkan semua bahan, sedangkan Xena hanya mandi dan berganti baju seadanya, lalu ikut dengan Maura ke dapur.


Kedatangan bibi Xena membuat keduanya bahagia.


"Bibi, kami sedang memasak makanan yang sangat lezat, apakah bibi suka? sup iga sapi dengan sambal yang super pedas," ucap Maura.


Dia terbiasa dengan semua ini, tetapi berbeda dengan Xena, dia sedikit risih dengan alat-alat dapur, sehingga harus di perkenalkan dulu oleh Maura.


Maura dengan sabar mengajari Xena melakukan banyak hal, sehingga tidak ada satu pun yang tidak di pahami oleh Xena.


Hanya saja gadis manja dan glamour itu masih merasa sedih, kehilangan segalanya dalam sekejap bukanlah suatu hal yang mudah di lalui, sehingga pada akhirnya, Xena merasa bahwa apa yang ada di dalam kehidupannya harus sangat bahagia, bagaimanapun caranya harus bahagia.


Maura juga ikut membantu memulihkan trauma Xena.


Xena berada dalam tekanan psikologis yang sangat besar, sehingga harus banyak mendapatkan dukungan dari pihak terdekatnya.

__ADS_1


Bibi Zo tersenyum dan membantu menyiapkan beberapa mangkuk serta sendok.


Dia berusaha keras untuk menjadi orang yang sangat ramah dan tidak terlalu menunjukkan jika dia hanya ingin menjual Xena.


Setelah meja makan sudah sangat penuh dengan makanan pembuka dan penutup buatan Maura yang meski terlihat sederhana, sangatlah menggugah selera, akhirnya ketika orang itu duduk, berdoa dan menikmati hidangan yang ada.


..


Di tengah menikmati makanan yang ada, bibi Zo meminta Maura untuk menjaga Xena karena dia harus bertemu seseorang, Maura siap untuk melaksanakan tugas ini.


Xena yang terlihat bersemangat, tiba-tiba murung, bibi Zo langsung memerankan jiwa penolong palsunya.


"Sayang? apa karena makanannya tidak enak kau jadi murung?" tanya bibi Zo.


Dia menatap mata Xena yang terlihat sayu dan penuh duka.


Xena tidak menjawab pertanyaan itu, tapi justru meneteskan air matanya.


DIa tak kuasa menahan tangis, sebab hari ini sangatlah banyak cobaan dan ada saja yang terjadi, Xena masih tidak paham dengan apa yang sedang menimpanya.


Bibi Zo berinisiatif menghibur Xena, dengan membawanya jalan-jalan, tapi Xena tidak mau, dia hanya ingin bertemu dengan ayah dan ibunya.


"Kakak dan kakak ipar adalah dua orang yang sangat baik, aku yakin keduanya berada di surga. Anggap saja bibi pengganti mereka sayang," ungkap bibi Zo.


Maura merasa senang dengan kondisi ini sehingga merasa sangat terpanggil untuk memberikan dukungan juga.


"Malas sekali harus melakukan semua ini, harusnya setelah ini aku harus melakukannya, tahan Zo, tahan!" batin bibi Zo dengan penuh senyum palsu.


Sejak saat itu, seorang Xena merasa cukup nyaman.


Hari-hari di lalui dengan sangat gembira.


.


.


.


Dua minggu kemudian ...


Hari setelah itu, semuanya berubah dengan sangat drastis.

__ADS_1


Bibi Zo selalu perhatian, awalnya dia terlihat canggung, tapi demi uang, dia akan melakukan segalanya.


Maura juga tidak curiga dengan sosok bibi Zo yang terkadang cukup kentara dalam melakukan aksinya.


Beberapa kali Fernad menelpon, Maura tahu, tapi dia sudah percaya dengan bibi Zo, jadi tidak terlalu banyak bicara lagi. Dia tak perlu meragukan apapun, mungkin itu yang ada di dalam pikiran Maura.


Xena juga merasa nyaman dengan kondisi ini, dia tidak terlalu mempermasalahkan sikap bibi Zo yang terkadang suka pergi larut malam karena alibi bibi Zo selalu tepat.


Hingga semua kepercayaan itu hancur saat Fernad datang untuk membawanya pergi.


"Bibi, apa semua ini?" tanya Xena.


Dia sudah berada di ruang tamu saat Fernad mengatakan ingin membawa Xena pergi.


"Memangnya kau pikir apa? kau anggap aku ini bodoh?" ungkap bibi Zo yang kini memperlihatkan siapa dirinya.


"Bibi?"


"Aku hanya ingin balas dendam terhadap kedua orang tuamu yang telah membuatku merana, jadi kau harus menerima segala hal yang menjadi dosa mereka!"


Bibi Zo menarik lengan Xena, memaksa keponakan untuk ikut dengan pria itu.


Namun Xena memberontak hingga bibi Zo memukul tengkuk sang gadis hingga roboh.


Sang bibi mendorong tubuh itu dan terjatuh tepat di dada bidang Fernad, dia tersenyum melihat wajah ayu dan rupawan itu.


Lalu mata Fernad mengalihkan pandangannya kepada Bibi Zo.


"Sudah cukup bibi?" tanya Fernad dengan mata yang berbinar.


Pada akhirnya dia bisa memiliki gadis ini setelah beberapa minggu menunggu.


"Ya. Kau bawa saja dia. Mau kau habisi pun, aku tak akan memikirkannya. Beri aku uangnya." Sang bibi sudah tidak ada urusan lagi dengan Xena, karena tujuan telah tercapai.


"Iya, aku sudah siapkan. Koper ini berisi sisa pembayaran, kau ambil saja!" jawab Fernad sambil memberikan koper berisi uang milyaran.


"Baik."


Bibi Zo membuka koper itu dan menghitung uang yang ia dapatkan, rasanya sangat senang dengan semua ini.


Sedangkan si pria membawa Xena pergi bersamanya.

__ADS_1


"Kau akan menjadi milikku seutuhnya baby!" batin Fernad dengan kebahagiaan.


*****


__ADS_2