Terikat Simpul Pernikahan

Terikat Simpul Pernikahan
Suami perhatian, istri angkuh


__ADS_3

"Astaga, cari mati memang," ucap Fernad.


Hasratnya sudah ada di ubun-ubun, tetapi ada saja orang yang melakukan panggilan telepon padanya.


Dia meraih ponsel yang masih ada di dalam saku celananya.


Perlahan turun dari ranjang dan berdiri, untung saja helai kainnya belum terhempas semuanya, jadi tidak membuat pandangan mata Xena menjadi terganggu.


"Ada apa? kenapa mengangguku? kau sudah bosan hidup ya?" tanya sang bos.


"Maaf bos, di luar ada nona Gina. Dia memaksa masuk. Dia ingin kembali pada tuan, dia mengancam ingin mengakhiri hidupnya. Tolong tuan, nona Gina sudah menempelkan senjata api di keningnya. Bagaimana ini bos?" jawab sang anak buah.


Terdengar jelas bahwa ada kecemasan di panggilan telepon itu, sehingga Fernad mengambil keputusan.


"Biarkan dia mati, aku tidak butuh dia. Jika ingin mengakhiri hidup, itu urusannya," jelas Fernad.


Wajah pria matang itu begitu menyeramkan, tidak ramah seperti sebelumnya.


"Bos, dia hamil anakmu," ungkap anak buah.


"Aku tidak percaya, dia sudah lima kali berselingkuh, memangnya aku tidak tahu? katakan padanya, bawa janin itu bersamanya. Aku tidak peduli! terserah apa yang akan kau lakukan padanya, aku sudah menjalani hidup dan memilih untuk menikah dengan satu wanita saja, usir atau biarkan di mati jika tidak patuh."


"Siap bos!"


Panggilan telepon itu sudah berakhir.


Sang suami menunda melakukan pemanasan, dia memilih untuk mandi.


Dia ingin rileksasi.

__ADS_1


Sedangkan sang istri masih berada di atas ranjang, dia semakin benci dengan suaminya yang tidak memiliki hati dan tidak bertanggung jawab.


.


.


.


Di depan rumah mewah ...


LIma pengawal pribadi turun untuk mengevakusi Gina yang pingsan akibat obat bius, dia di bawa masuk ke dalam mobil untuk segera di kembalikan di apartemen milik sang gadis.


"Ini hukuman untuk gadis yang seharusnya patuh, tetapi justru membangkang seperti orang yang tidak tahu malu," jelas sang anak buah sambil menghidupkan mesin mobil dan on the way ke apartemen yang dimaksud.


Sang anak buah, berniat untuk melapor kepada sang bos jika urusan nona Gina sudah selesai.


Namun, panggilan telepon itu di jawab oleh istri sang bos, Xena.


"Maaf nyonya, aku tidak bisa melakukannya, selama ini aku sudah menjadi orang kepercayaan bos Fernad. Dia juga membantu menghidupi keluargaku. Aku akan tetap setia padanya, jangan pernah merasa menjadi orang yang sangat menderita. Bos Fernad itu orangnya baik, kau hanya perlu memahaminya," pinta sang anak buah.


Panggilan itu usai, anak buah kepercayaan pergi dari area villa mewah.


.


.


.


Setelah mobil itu pergi, anak buah yang lain berbincang mengenai nona Gina.

__ADS_1


"Aku tidak paham dengan si Gina itu, kenapa ya sangat mudah meninggalkan bos? sekarang saja mengemis, kemarin kemana saja?" ujar anak buah 1.


"Iya, apa yang kau katakan memang ada benarnya, sebab selama ini bos sudah memberikan banyak uang pada nona Gina tetapi sama sekali tidak mendapatkan timbal balik yang bagus. Nona Gina lebih keras kepala dari pada bos Fernad. Alhasil bos lebih memilih untuk pergi dari masa lalu dan mencari seorang istri yang lebih cantik serta memiliki tubuh yang menyenangkan matanya," cetus anak buah 2.


"Betul memangnya seperti kau, membuat mata sakit untuk melihatnya," ungkap anak buah 3.


"Haha."


Semua orang tertawa, mereka selalu akrab agar sang bos tidak kesal, sebab bos tidak suka anak buahnya saling bersaing, alhasil jika ada yang membangkang, pasti akan segera di cut bekerja dengannya.


Sementara itu, di dalam kamar yang super mewah, sang suami sudah selesai mandi dan bertanya perihal panggilan masuk.


"Ada yang menelpon?" tanya Fernad sambil merapikan bajunya yang baru saja di ganti.


"Ada, anak buah mu," jawab Xena singkat.


"Oh, dia bicara apa?" cetus Fernad sambil berjalan menuju arah dapur mini yang berada di pojok ruangan.


Dia terlihat mengambil beberapa sayuran dari kulkas satu pintu yang ada di sana.


Fernad juga mengambil daging serta minuman dingin.


"Aku tidak tahu."


"Okay. Kau diam saja di sana, aku akan memberikan makanan yang paling lezat untukmu."


"Aku tidak butuh."


Sang istri masih sangat angkuh, tetapi Fernad tidak perduli, dia hanya ingin istrinya mau bersamanya dan memberikan cinta yang sama. Meskipun ada sisi kejam yang bisa saja muncul ketika melakukan suatu hal yang akan memancing emosinya.

__ADS_1


*****


*****


__ADS_2