
Xena dan Ze akhirnya masuk ke dalam mobil, mereka berdua bergegas menuju rumah Ze, kebetulan di sana ada Alina.
Ze juga memberikan info pada Alina jika Xena sakit, akhirnya jadwal pemotretan serta kegiatan lain di hentikan sementara waktu.
Alina tahu jika Xena memiliki mental yang tak stabil.
Tiga kali dalam lima bulan ini, keadaan Xena drop dan begitu menyedihkan, Xena tak paham apa yang ada di dalam hatinya, perasaannya begitu rapuh dan hanya bisa bercerita dengan seorang Alina.
Di dalam mobil ...
Musik jazz mengiringi kepergian dua sejoli itu. Xena mencoba menikmati suasana dengan ikut bernyanyi lagu yang di putar, tetapi sayang, dia tak merasa bahagia seperti senyum palsunya.
"Kita masih lama sampai, aku tahu kau sedih. Kau tenang saja, Alina paham kondisimu," jelas Ze.
"Iya, tapi aku merasa tidak enak dengannya. Alina begitu baik padaku tetapi aku tak mampu memberikan satu hal yang terbaik, rasanya begitu menyebalkan."
Sang pria tak mampu memberikan hiburan di saat seperti ini, namun setidaknya dia bisa memberikan dukungan.
"Haha, aku tahu perasaanmu. Nanti kita beli eskrim bersama Alina. Di sebuah taman kota ada kedai yang sangat terkenal. Eskrim di sana sangat unik. Kau harus coba."
Ze mendapatkan ide yang cukup cemerlang, hanya saja dia ingin tahu penyebab kesedihan itu sebab selama ini, Xena tak mau bercerita selain masalah pekerjaan.
"Kau ada masalah apa?" imbuh Ze.
"Tidak ada."
Jika jawaban yang terlontar dari mulut Xena sudah seperti itu, dia merasa mundur teratur.
"Oke, kau tenangkan dulu pikiranmu. Aku akan meminta Alina langsung ke kedai eskrim itu saja."
"Ya."
Pada akhirnya, Ze meminta Alina untuk ke kedai yang di maksud.
Alina yang super sibuk juga tidak keberatan.
__ADS_1
.
.
.
Tiga puluh menit berlalu...
Xena cukup lega dengan menutup mata selama beberapa menit tadi, matanya terasa sangat sakit dan tidak bisa diobati dengan segera sebab ada rasa yang tak biasa.
Dia memang agak minus karena terlalu sering membaca buku.
Xena adalah kutu buku dengan koleksi buku dua lemari besar yang tergantung di ruang bacanya.
Xena menghabiskan waktu di sana.
"Sudah sampai," ucap Ze.
"Iya. Tempatnya sangat ramai," jawab Xena dengan senyuman.
Ze menelpon Alina, sang teman masih terjebak lampu merah.
Alina akan sampai di taman itu, dua puluh menit lagi.
"Lama sekali Lin."
Sang pria menggerutu, dia kesal sekali.
Padahal kesempatan untuk belajar mendekati kehidupan pribadi Xena begitu dekat.
Apalagi satu bulan ini, dia begitu ingin melamar Xena, tak mau hanya sekedar pacaran.
"Haha, kau makan dulu di kedai itu, eskrim itu memang enak, jadi kau tidak perlu marah lagi," cetus Alina di sambungan telepon."
"Ya ya."
__ADS_1
Panggilan telepon itu usai, Xena dan Ze berjalan menuju kedai eskrim yang ada di taman itu, jaraknya hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Mereka berdua berjalan beriringan.
Hingga sudah berada di depan itu kaca kedai itu, perlahan Xena membuka pintu itu dan masuk ke dalam.
Ze meminta Xena duduk, namun wanita itu kebelet.
Akhirnya Xena berpamitan ingin ke kamar mandi.
Ze tak keberatan dan memberikan izin.
.
.
.
Kamar mandi wanita ...
Setelah di rasa cukup, dia keluar dari kamar mandi wanita dan mencuci tangan serta bercermin dulu.
Di sana ada dua wanita cantik yang sedang membicarakan seorang pria yang akan datang ke kedai itu.
"Tuan tampan akan datang kemari, dia baru saja sampai setelah satu tahun pergi dari kota ini," jelas wanita satu.
"Iya, pria yang sangat baik hati. Tuan Fernad masih saja memiliki badan yang bagus, hanya saja aku tidak setuju saat dia bertunangan dengan Gina. Dia akan gadis tak tahu diri!"
Deg!
Dada Xena merasa sesak, dia tak pernah menyangka akan mendengar nama itu lagi. Apalagi orang itu akan datang ke tempat dimana di berada.
Xena terburu-buru keluar dari kamar mandi itu.
"Aku harus bertemu Fernad," pungkasnya.
__ADS_1
*****