
Kebencian sang istri memang terasa sangat nyata dan penuh drama.
Xena memperlihatkan jika dia adalah orang yang tidak suka di intervensi.
Namun pada kenyataannya jika ada hal seperti ini, suami tercinta harus bertindak dan turun tangan. Sebuah sikap yang sangat di dambakan oleh semua orang.
Xena berada dalam satu dilema yang sangat pelik sebenarnya.
Di sini lain sang suami sangat baik, tetapi karena suaminya, semua kebebasan serta kedua orang tuanya justru dalam keburukan, bahkan harus tewas dengan mengenaskan.
Hari ini menjadi satu tindakan berani Xena untuk berhadapan langsung dengan seorang pria yang selama ini dibenci olehnya.
...
Satu jam kemudian ...
Xena merasa terkejut ketika sang suami justru mengajaknya ke sebuah tempat yang sangat asing.
Sebuah kompleks pemakaman yang sangat mewah.
"Kau turun dulu, nanti anak buahku yang akan memberikanmu bunga untuk pusara kedua orang tuamu," ucap Fernad.
"Kau sedang tidak menjebakku kan?" tanya Xena.
__ADS_1
Dia masih merasa bahwa Fernad sangat menyedihkan dan akan terus membuatnya dalam kegelapan yang nyata sebab selama ini dia tidak merasa Fernad begitu baik.
"Aku selalu melakukan kebaikan terhadapmu, hanya saja kau tidak merasakan semua ketulusanku. Aku adalah binatang buas saat bersama gadis lain, tapi aku bagaikan kucing rumahan saat bertatap muka denganmu, apakah arti semua ini? apakah kau memahaminya?" jelas suaminya.
"Jangan bicara omong kosong, jika kau tidak suka denganku, bisa pergi dan ceraikan aku.
Sang istri selalu enteng dalam mengatakan banyak hal, terutama tentang perpisahan.
Ini sangat menyebalkan bagi seorang Fernad, hanya saja dia tidak mau terlalu banyak bicara, sebisa mungkin terus berusaha untuk menjadi seorang pria yang baik meski dia tahu bukan orang yang baik.
.
.
.
Di sini adalah tempat dimana sang suami membeli tanah hanya untuk memberikan penghormatan terakhir pada ayah dan ibunya yang juga tiada karena peristiwa yang sama.
Begitu juga dia ingin memberikan penghormatan yang sama terhadap kedua orang istrinya.
"Kau diam?" tanya Fernad.
Keduanya berada di depan makam mertua Fernad, sebuah makam yang indah serta penuh dengan bunga.
__ADS_1
Sungguh tidak menyangka jika pria yang selama ini menjadi suami yang sangat ia benci, justru memberikan tempat peristirahatan terbaik untuk kedua orang tuanuya.
Sang istri tidak mau berterima kasih, dia hanya diam.
"Aku tahu kau tidak mau berdoa, tapi berikan doa terbaik untuk kedua orang tuamu," imbuh Fernad.
"Kau bisa diam kan? aku sedang berdoa," celetuk Xena.
Fernad merasa senang bisa sedekat ini dengan seorang istri yang selama ini berada di dalam kamar.
Pria yang selama ini selalu mempermainkan para gadis, justru tersiksa selama satu bulan ini oleh sang istri yang sangat tidak bersahabat ketika diajak tidur bersama.
Di saat yang sangat sakral, Fernad justru berdoa dengan kata-kata yang aneh.
"Ayah dan ibu mertua, berikan aku akses untuk mencetak gol, agar aku bisa menjadi orang pertama yang menjadi pemenangnya," cetus sang suami dengan menengadahkan tangan sambil menutup mata.
"Kau berdoa apa?"
"Berdoa untuk kedua orang tuamu, minta restu untuk mencetak gol."
"Hm."
Xena merasa Fernad bukan pria yang selama ini dia lihat, sang istri mulai bisa meraba perasaan apa yang di milikinya selain kebencian.
__ADS_1
*****