
Di dalam mobil ...
"Kau perlu menangis, semuanya sudah terjadi dan kau hanya bisa meratapi. Kau terima saja apa yang menjadi hukuman mu," ucap anak buah Fernad.
Di dalam mobil itu, dia tak bisa mengatakan apapun karena sang bos, hanya memberikan perintah untuk memasukkannya ke dalam mobil kemudian mengantarnya ke apartemen sedangkan Fernad, masih berada di rumah itu untuk membereskan semua hal yang berbau Xena.
"Aku terus seperti ini sebelum mendapatkan maaf dari suami," jawab Xena.
Dia terus saja mengatakan bahwa dirinya yang salah, dia mengakibatkan perasaan suaminya hancur berkeping-keping.
"Tuan bos, tidak pernah memaafkan siapapun yang sudah membuatnya sakit hati. Kau persiapan mental untuk mendapatkan satu fakta bahwa kau akan di buang setelah ini."
"Hiks. Aku rela, aku ikhlas. Dia memang harus melakukan ini padaku, rasanya begitu sesak ketika tahu bahwa anak itu ... hiks. Aku yang salah. Maaf!"
Xena terus meratapi, tak seharusnya dia melakukan ini pada anaknya sendiri, tetapi dia tidak akan bisa mengulang suatu kejadian yang membuatnya menyesal itu.
.
.
.
Sesampainya di apartemen ...
Kini mobil itu telah berada di depan apartemen yang sudah disiapkan, setelah menempuh perjalanan 2 jam lamanya.
"Nona, mari aku antar ke atas," ucap anak buah yang mengantarnya.
__ADS_1
"Ya."
Xena begitu terpukul dengan apa yang ada di depannya, dia tak akan memiliki kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, image egois, begitu tersemat di dalam hidupnya.
Tiada ampun bagi Xena.
.
.
.
Di rumah Fernad ...
Saat sang istri berada di apartemen, si suami sedang bersih-bersih.
Dia meneteskan air mata saat mengingat bagaimana bahagianya seorang Fernad begitu tahu tentang kehamilan itu.
"Ya bi."
Fernad masih tak menyangka Xena akan mengkhianati dirinya.
Pria itu tak akan memaafkan tingkah Xena yang tak juga memberikan satu kesempatan baginya melihat janin itu tumbuh besar.
"Bibi, aku akan keluar negeri setelah bercerai, ingin rasanya melupakan semua hal yang terjadi. Kau jaga Xena ya? kau adalah seorang wanita, masih bisa merawat wanita lain, sedangkan aku? tak bisa."
Fernad mengatakan semua itu dengan berat hati.
__ADS_1
"Ya tuan, aku juga merasa dia tak bersalah sepenuhnya, jika keputusanmu sudah bulat. Aku tidak akan bisa mencegahnya."
Sang pelayan setuju dengan ini.
Semuanya telah berada dalam persetujuan dua belah pihak. Kini saatnya dia menjadikan satu kesempatan terbaik untuk dirinya membahagiakan hati dan pikirannya yang telah hancur.
.
.
.
Dua jam berlalu ...
Fernad keluar dari rumah itu dengan bekas kenangan mengenai Xena.
Dia membakar semua itu di belakang rumahnya.
"Selamat tinggal Xena, kita tidak akan pernah bertemu lagi, aku harap kau menjadi orang yang lebih berguna dan mampu merasakan setiap cinta yang diberikan orang padamu."
Fernad menatap api yang ada di dalam drum, semua barang milik Xena yang tersisa, serta beberapa barang yang menjadi kado untuk istrinya itu, hancur lebur di lalap api.
Semuanya memang sudah berakhir dan tidak akan bisa kembali seperti sedia kala.
Fernad tak akan menoleh ke belakang, dia berada dalam satu situasi yang tak mampu diprediksi.
Kesetiaan yang dia tunjukkan sudah tak ada gunanya.
__ADS_1
Semuanya musnah.
*****