
Xena mengusir sang suami dari kamarnya, dia tidak sudi melihat orang yang sudah membohongi dirinya secara terang-terangan.
Perasaannya begitu remuk dan tidak bisa diperbaiki lagi.
"Aku ingin pindah ke villa saja," ucap Xena.
"Kau tetap di sini dan aku akan pergi, kau katakan apapun kepada bibi, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan meninggalkan kau di sini jika kau tidak ingin melihatku," ujar sang suami sambil beranjak dari ranjang dan memunguti pakaiannya.
Xena masih saja menangis, Fernad kembali meminta maaf tetapi ditolak mentah-mentah.
"Aku akan memberi akses satu kunci rahasia yang bisa kau pakai untuk keluar masuk kamar ini, sebenarnya hanya sidik jariku yang bisa membuka dan menutup pintu kamar ini. Namun, beberapa hari lalu aku sudah berkonsultasi kepada temanku bahwa bisa dibuka dengan kunci khusus. Ini untukmu."
Sang istri semakin kesal dengan Fernad, karena selama ini, dia sudah menjadi target.
"Aku tidak pernah menyangka kau jahat, aku selama ini merasa kau memang jahat tetapi merubah mindset dengan sangat cepat. Dugaan ku ternyata salah, kau adalah orang yang sangat licik dan jahat."
Xena mengatakan semua itu dengan air mata yang mengalir deras, Fernad tak bisa mengatakan apapun dia mengenakan pakaiannya.
Lalu meletakkan kunci yang baru saja dia jelaskan itu di atas ranjang.
Setelah urusannya selesai sang suami keluar dari kamar utama menuju kamar tamu.
Kebetulan ruang tamu ada di samping kamar utama.
__ADS_1
Dia langsung masuk ke sana dan menutup pintu.
Fernad berjalan menuju kamar mandi.
Di sana dia melepaskan segala kepenatan dan rasa bersalahnya.
Di dalam kamar mandi ...
"Maaf Xena, tak seharusnya aku melakukan ini padamu!"
Fernad kini berada di bawah derasnya air shower yang mengalir, dia tak menyangka jika secara sadar Xena juga sudah berprasangka baik padanya.
Akan tetapi Fernad justru melakukan hal lain.
Dia meratapi rencananya yang sudah berhasil tapi gagal total.
Satu bulan kemudian ...
Sudah tiga puluh hari lamanya Xena dan Fernad hidup terpisah, meskipun Fernad selalu berbuat licik, karena hanya dia yang bisa memantau apa yang dilakukan oleh istrinya di dalam rumah.
Fernad tidak semata mengandalkan itu semua sebab para anak buah dan pelayan memberikan informasi yang cukup menyenangkan baginya.
"Nyonya muda, sepertinya sedang hamil," ucap bibi disambungan telepon.
__ADS_1
"Kau jangan membuat hoax!" jawab Fernad.
"Aku tidak membuat hoax tuan, dia sudah periksa dan kelihatannya menyesal."
"Apa yang kau katakan dengan menyesal?"
"Nyonya muda, sepertinya tak suka jika hamil!"
"Kau pantau terus, jangan sampai dia menggugurkan kandungannya!"
"Siap tuan!"
Kehamilan ini membuat Fernad memiliki semangat untuk mengunjungi sang istri meskipun selama satu bulan juga sering ke sana untuk memberikan dukungan, meskipun tidak ada sambutan hangat dari sang istri.
Fernad mempersiapkan diri untuk pulang ke rumahnya, selama ini dia di dalam villa hanya mengurusi pekerjaan serta mengecek kondisi sang istri dari CCTV.
Kini, setelah 1 minggu lalu datang, dia ingin datang lagi karena kabar gembira ini.
Fernad sejak tadi sudah mandi, meskipun waktu baru saja menunjukkan pukul 06.00 pagi, tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap berjalan menuju garasi, tempatnya menyimpan mobil-mobil mewahnya.
Bahkan saat anak buah ingin mengantar sang bos untuk pulang ke rumahnya, dia menolak dengan halus.
*****
__ADS_1