
❤️ Happy Reading ❤️
Gavi dan Aurel sudah kembali ke kamar mereka, ada perasan canggung yang hinggap di hati keduanya.
Acara memang belum selesai sepenuhnya, karena masih ada beberapa tamu undangan yang ada di sana...terutama para tamu yang belum lama sampai, tapi kedua orangtua Gavi meminta mereka untuk segera masuk kekamar dan beristirahat, mereka tak mau jika anak dan menantunya nanti kelelahan sehingga jatuh sakit.
Para tamu di temani berbincang oleh daddy Geva juga mommy Ivi dan papi Gabriel dan mami Ica, sedangkan untuk pasangan baya Oma Cecil dan opa Geri sudah di minta untuk istirahat sejak tadi, mereka tak mau jika tuan dan nyonya besar Marcio itu kelelahan...walau bagaimanapun usia mereka yang sudah tak muda lagi membuat mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat.
''Aku...''
''Aku...''
Tanpa sadar keduanya mengucap kata yang sama dan secara berbarengan pula.
''Ka...kamu dulu.'' kata Gavi dengan gugup hingga dirinya tanpa sadar menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
''Itu...a...aku atau kamu yang ingin bersih-bersih terlebih dahulu?'' tanya Aurel yang tak kalah gugup.
Walau bagaimanapun ini adalah malam pertama bagi dirinya berada di dalam kamar dengan seorang pria dalam keadaan sadar.
''Kamu saja dulu.'' sahut Gavi yang kemudian memilih untuk berjalan ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya di sana.
Dari pada dirinya jenuh menunggu, Gavi lebih memilih menyibukkan diri dengan memeriksa segala kerjanya.
Cklek
Setelah kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Aurel selesai dengan ritual mandinya.
Beruntung rambutnya hanya di buat tergerai sehingga tak banyak pernak pernik yang menempel di kepalanya dan juga gaun yang dia kenakan tak begitu ribet sehingga dirinya dengan mudah dapat melepaskannya sendiri.
Entah bagaimana jika ternyata sulit, dia pasti akan kebingungan bagaimana caranya meminta tolong pada Gavi, karena hanya pemuda itu yang ada di kamar yang sama dengannya saat ini.
''Kamu mandilah terlebih dahulu.'' kata Aurel yang saat ini sedang berjalan menuju ke arah meja rias untuk menyisir rambutnya.
Dia adalah seorang gadis yang simpel, bahkan saking simpelnya dirinya tak pernah menggunakan skincare apapun...hanya bedak bayi dan juga lipgloss yang menemaninya setiap hari.
__ADS_1
Walaupun mommy Ivi sudah memberikan begitu banyak peralatan makeup serta skincare...namun karena belum terbiasa membuat Aurel sedikit enggan untuk memakainya, baginya semua itu terlalu ribet.
Mendengar perkataan Aurel membuat Gavi langsung beranjak dari duduknya, jujur saja tubuhnya sudah sangat gerah sejak tadi.
❤️
Gavi keluar dari kamar mandi sudah dengan mengenakan pakaiannya, yaitu celana pendek dan juga kaos polos lengan pendek warna putih.
''Kamu tidurlah terlebih dahulu, aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan.'' kata Gavi ketikan melihat Aurel yang masih duduk bersandar pada kepala ranjang dengan memainkan ponsel miliknya.
''I...iya.'' sahut Aurel yang langsung meletakkan ponselnya di atas nakas dan merebahkan tubuhnya di ranjang bersiap untuk tidur.
Sedangkan Gavi berjalan ke arah meja untuk mengambil laptopnya dan membawanya ke atas ranjang.
Di sandarkan tubuhnya dan di selonjorkan kakinya, kemudian juga meletakan laptop di pangkuannya.
Merasa ada pergerakan di ranjang membuat Aurel reflek membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Gavi.
''Sibuk banget ya?'' tanya Aurel yang berusaha membangun komunikasi dengan suaminya itu.
''I...iya.'' sahut Aurel yang kemudian kembali membalikkan tubuhnya menjadi membelakangi Gavi.
''Huft...'' Gavi menghela nafasnya panjang begitu melihat ke arah Aurel, namun sedetik kemudian dia kembali melanjutkan aktivitasnya kembali.
❤️
''Hoam...'' Aurel menguap serta sedikit menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya. ''Eh...'' beonya ketika tak sengaja tangannya menyenggol sesuatu. ''Jadi semuanya bukan mimpi.'' gumam Aurel ketika sepasang matanya menatap ke arah yang dia senggol. ''Tampan...'' lirihnya yang secara tak sadar mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat indah dan nyaris sempurna.
Rambut hitam legam, alis tebal, hidung mancung, bibir tipis dan kulit yang putih.
''Em....'' gumam Gavi dalam tidurnya sambil mencari posisi yang lebih nyaman lagi.
Merasa detak jantungnya seakan sudah tak terkontrol, membuat Aurel ingin segera turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
''Mau kemana?'' tanya Gavi dengan suara seraknya namun masih memejamkan matanya saat merasa ada pergerakan dari wanita yang di dekapnya saat ini.
__ADS_1
Ya tangan Gavi melingkar di atas perut Aurel, dan entah sejak kapan itu terjadi.
''A...kamu mau ke kamar mandi.'' jawab Aurel dengan gugup.
''Sebentar lagi, biarkan seperti ini dulu.'' sahut Gavi yang malah menarik tubuh Aurel agar lebih dekat dengannya.
''Eh...'' pekik Aurel karena kaget.
Namun sang empunya tak memperdulikan sama sekali, dia malah menikmati kehangatannya pagi ini.
Kemarin malam sebelum acara pernikahan mereka berdua, kedua orangtuanya mengajak Gavi untuk berbicara dan sejak saat itu dirinya memutuskan untuk mencoba sebuah hubungan yang serius dengan Aurel.
Flashback
''Ada apa mommy sama daddy panggil aku?'' tanya Gavi yang baru masuk ke dalam ruang kerja sang daddy.
''Tentu saja karena ada yang ingin kami berdua bicarakan dengan kamu nak.'' sahut mommy Ivi. ''Duduklah dulu...biar kita enak untuk bicara.'' sambungnya lagi dan Gavi pun menurut.
''Gav, mommy dan daddy minta kamu untuk bisa membuka hati pada Aurel, pernikahan bukanlah sebuah permainan...jadi mommy dan daddy harap kalian dapat menerima semua takdir ini dan jalani pernikahan kalian dengan baik.'' kata daddy Geva setelah Gavi duduk.
''Tapi aku gak cinta sama dia dad, yang aku lakukan hanyalah sebuah bentuk pertanggungjawaban.'' kata Gavi. ''Jika nanti dia tak hamil...aku akan melepaskannya.'' sambungannya lagi.
''Bukan gak cinta tapi belum Gav.'' ralat mommy Ivi.
''Mommy dan daddy bisa berkata seperti itu karena kalian tak merasakan apa yang aku rasakan, kalian menikah karena kalian saling mencintai bukan karena sebuah keterpaksaan.'' kata Gavi.
''Kamu salah.'' sahut mommy Ivi. ''Kisah awal rumah tangga kami jauh seperti yang kamu bayangkan .'' sambungnya dan setelah itu mommy Ivi menatap ke arah daddy Geva.
Seolah mengerti akan tatapan sang istri yang meminta persetujuan darinya, daddy Geva pun menganggukan kepalanya.
''Huft...kami pun menikah tanpa cinta.'' kata mommy Ivi.
''Hah...maksudnya?'' Gavi masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.
''Iya kami menikah tanpa cinta, bahkan kamu baru mengenal beberapa saat sebelum mengikat janji suci.'' kata mommy Ivi dengan tatapan yang menerawang kejadian masa lalu saat dirinya baru pertama kali bertemu dengan daddy Geva, lalu dengan perlahan mommy Ivi pun menceritakannya tapi tentu saja tanpa bercerita tentang kesepakatan yang telah dia dan daddy Geva buat.
__ADS_1
Untuk lebih jelasnya baca ''Premarital Agreement''.