
❤️ Happy Reading ❤️
Setelah akhir pekan di isi dengan bersenang-senang, kini semua kembali lagi ke rutinitas. Hari Senin merupakan awal dari segala rutinitas.
Aurelia dan juga Gavi kini sudah pergi berangkat ke tempat kerja masing-masing, Gavi yang berangkat ke perusahaan keluarga Marcio, sedangkan Aurel ke bank tempatnya bekerja.
"Cerah amat bu', habis dapat jatah nih kayaknya dari suami." goda Imelda.
"Bisa aja kamu, kayak sudah pernah ngerasain aja." kata Aurel di sertai sebuah ledekan juga di belakangnya.
"Ish, jangan buka kartu juga dong Rel." protes Imelda. "Ngomong-ngomong aku penasaran...weekend ala sultan gimana sih Rel?" tanya Imelda.
"Weekend...ya seperti biasa...sama aja sih kalau menurut aku." jawab Aurel.
"Ayo sekarang cerita ke aku, kemarin weekend kamu ngapain aja tuh sama si tuan muda...mumpung jam operasional belum mulai nih." kata Imelda yang sudah duduk lebih dekat ke arah Aurel.
"Kemarin...aku malah gak sama dia, aku pergi dari pagi sampai sekitar jam dua'an." jawab Aurel.
"Loh kok..." kata imelda bingung.
"Kemarin kebetulan minggu awal bulan, jadi keluarga suami itu punya agenda rutin jika minggu awal bulan adakan me timenya para wanita." jawab Aurel.
"Aku masih gak ngerti." kata Imelda.
"Jadi setiap minggu di awal bulan, aku sama ibu mertua, Omanya suami, tantenya juga kedua sepupunya itu selalu pergi bareng.'' kata Aurel. "Nyalon sama belanja juga makan...kadang nonton juga sih kalau ada film yang bagus." jelasnya.
"Hah ..seriusan?" tanya Imelda yang masih seakan tak percaya dengan apa yang di katakan sang sahabat.
"He'em." jawab Aurel yang kemudian mengambil ponsel di dalam tasnya.
Di bukanya aplikasi galeri di sana, mengotak atiknya sebentar lalu menyerahkan pada Imelda.
"Ini..."
"Iya itu keseruan kami kemarin." sahut Aurel.
"Aku lega karena kamu mendapatkan suami yang begitu mencintai kamu dan keluarga yang begitu menerima serta menyayangi kamu Rel." kata Imelda.
"Terimakasih ya Mel, karena kamu sudah mau menjadi sahabat terbaik aku selama ini, mau menemani aku dan mendengarkan segala keluh kesah ku." ucap Aurel yang langsung memeluk tubuh sang sahabat.
"Kamu ini ngomong apa..." kata Imelda yang jujur saat ini aur matanya hampir menetes. "Eh sudah lepas, gak enak kaku di lihat sama yang lain." kata Imelda sambil menepuk pelan punggung Aurel.
❤️
__ADS_1
"Dapat kiriman makanan lagi dari suami gak Rek?" tanya Imelda saat jam makan siang hampir tiba.
"Enggak dapet Mel." jawab Aurel.
"Tumben nih gak dapat kiriman makanan, padahal aku sudah berharap banget loh...buat bisa ngirit." celetuk Imelda lagi.
"Kamu ikut aja kamu makan di luar, tadi pak su kasih tau kalau ngajak makan siang bareng." kata Aurel yang menang beberapa menit yang kaku menerima pesan dari Gavi. "Kebetulan dia lagi ada meeting di sekitar sini." sambungnya lagi.
"Gak ah, gak enak aku...nanti malah ganggu lagi." tolak Imelda.
"Ck, katanya mau kenal sama suami aku." kata Aurel. "Lagian kamu juga gak ganggu kok...orang ada asisten suami aku juga nanti." sambung Aurel.
Tadi Aurel juga sudah minta ijin ke Gavi untuk mengajak sang sahabat makan siang bareng dan kata sang suami tak apa.
"Kan lumayan...seperti katamu tadi, ngirit." kata Aurel menirukan kata-kata Imelda.
"Okelah kalau kamu maksa." kata Imelda.
"Eh Mel ngomong-ngomong hubungan kamu sana Heri gimana?" tanya Aurel.
"Huft...hubungan kamu sudah berakhir satu Minggu yang lalu.'' jawab Imelda. "Dia main gila sama salah satu karyawannya." imbuhnya lagi.
"Maaf Mel aku gak tau dan maaf aku gak ada di saat-saat sedih kamu." ucap Aurel dengan penuh penyesalan, padahal selama ini Imelda selalu ada untuknya.
"Aku gak apa-apa kok, kamu tenang aja dan gak perlu merasa bersalah gitu." kata Imelda. "Bukannya lebih baik tau sekarang dari pada tau dinm saat hubungan kita semakin dekat dan semakin serius nantinya." sambungnya lagi.
Kerena sudah saatnya istirahat jam makan siang, Aurel bersama Imelda jalan beriringan keluar dari bank dan siapa sangka ternyata mobil sang suami sudah terparkir sempurna di depan sana.
"Itu mobil suami aku, ayo ke sana." ajak Aurel sambil menunjuk ke arah mobil Gavi.
Karena Aurel dan Imelda sudah semakin dekat, Reno pun keluar untuk sekedar menyapa sekaligus membukakan pintu untuk istri dari atasannya.
"Selamat siang nyonya muda." sapa Reni dengan bada yang sedikit membungkuk sebagai tanda hormat.
"Selamat siang Ren." balas Aurelia.
"Tuan muda sudah menunggu di dalam, mari silahkan." kata Reno membukakan pintu untuk Aurel.
"Terimakasih." ucap Aurel.
Tak hanya untuk Aurel, Reno pun membukakan pintu mobil untuk Imelda.
Jika Aurel berada di kursi belakang bagian penumpang bersama dengan sang suami, Imelda berada di kursi penumpang bagian depan di sebelah Reno yang menyetir.
__ADS_1
Aurel memperkenalkan Imelda pada Gavi juga Reno sembari mobil mereka membelah jalan menuju ke restoran yang sudah di pesan.
❤️
Mereka makan berempat dalam satu meja sambil mengobrol.
Ah lebih tepatnya Aurel dan Imeldalah yang mengobrol, entah apa saja yang mereka perbincangkan, karena ada saja bahasan serta topiknya, sedangkan Gavi dan Reno hanya diam menyimak.
Uhuk...uhuk...
Dengan sigap Gavi langsung menyodorkan satu gelas air mineral ke arah Aurel.
Gluk...gluk...gluk...
"Pelan-pelan makannya." kata Gavi sambil sedikit mengelus ounguyautrk saat wanita itu tengah menegak minuman yang dia berikan.
"Terimakasih." ucap Aurel.
Pemandangan yang di tunjukan oleh sepasang suami istri itu membuat Imelda juga Reno jadi salah tingkah sendiri.
"Wah...wah...coba lihat siapa yang ada di sini!" seru seseorang yang baru saja datang dan membuat mata Imelda serta Aurel terbelalak seketika.
Gavi dan yang lainnya memang tak makan di privat room dan semua itu atas permintaan dari sang nyonya muda Gavindra Marcio.
"Baru juga putus...eh sudah punya pengganti aja." katanya. "Atau jangan-jangan kamu memang sudah punya yang lain dari dulu." tuduhnya.
Prok...prok...prok...
"Pinter juga ya kamu." katanya lagi setelah bertepuk tangan.
"Jangan samakan aku dengan kamu." kata Imelda yang langsung berdiri dari duduknya, karena amarahnya saat ini serasa telah sampai di ubun-ubun. "Aku bukan orang yang dengan sangat mudah mengkhianati sebuah hubungan." sambungnya lagi.
"Halah...dasar munafik." kata Heru.
Ya orang yang datang mengacau cara makan siang mereka adalah Heru yang tak lain serta tak bukan adalah mantan kekasih dari Imelda.
"Kalau tak ada kepentingan...silahkan pergi dari hadapan kami." kata Reno yang juga telah berdiri dari duduknya. "Anda dengan tidak sopan telah menggangu makan siang kami." sambungnya lagi.
"Hei siapa kamu berani-beraninya berkata seperti itu padaku!" seru Heru yang merasa tidak terima. "Kamu belum tau siapa aku hah! Aku adalah tuan muda keluarga Argojoyo." katanya lagi dengan begitu sombong.
"Apa kita ada kerja sama dengan perusahan itu Ren?" tanya Gavi yang ikut buka suara karena sudah terlalu sangat muak, dia paling benci jika hari atau waktunya terusik.
"Sepertinya yang bekerjasama dengan perusahan itu adalah perusaan WB milik nyonya muda tuan.'' jawab Reno.
__ADS_1
"Minta untuk Dimas segera memutus hubungan kerja sama saat ini juga, nanti biaya pinaltinya...aku yang bayar." perintah Gavi terdengar santai namun juga tegas.
"Baik tuan muda." jawab Reno.