Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris

Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris
Bab 34


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


"Hah...sudahlah hentikan sandiwara kalian berdua." kata Heru Argojoyo dengan tersenyum remeh.


Sedangkan Gavi juga Reno sama sekali tak menggubrisnya.


Reno malah sibuk mengetikan sesuatu di ponsel miliknya, sedangkan Aurel menggenggam tangan Gavi dengan maksud agar pria yang saat ini bergelar sebagai suaminya itu emosinya tak memuncak.


Sedangkan Ami, dia diam tanpa kata...dia begitu sangat geram dengan ulah mantan kekasihnya itu.


Dret...dret...dret...


"Kamu telah menyinggung siapa anak bodoh!" bentak orang di sebrang sana yang langsung terdengar ketika Heru menghangat sambungan telpon miliknya.


"Apa maksud ayah?" tanya Heru bingung sekaligus kaget.


"Kerja sama kita dengan perusahan WB putus begitu saja dan semua ini karena ulah kamu." seru ayah Heru yang begitu sangat marah.


"Aku gak ngapa-ngapain yah." bantah Heru.


"Mereka bilang kamu telah menyingung pemilik perusahaan." jawab ayah Heru.


"Menyinggung siapa? Aku gak menyinggung siapa-siapa yah." kata Heru yang tak merasa seperti yang ayahnya katakan. "Mereka cuma mengada-ada." sambungnya.


"Kamu telah menyingung kami." kata Reno.


"Heru...kamu dimana? suara siapa itu?" tanya ayah Heru.


"Kamu telah menyinggung tuan muda Marcio dari GA grup dan istrinya...nyonya muda Aurelia Revany Wibowo pemilik WB grup." kata Reno.


''A...apa..." kata Heru yang begitu syok mendengarnya.


"Heru...dasar kamu anak kurang ajar!" teriak ayah dari Heru di sana, jelas sekali jika orang itu begitu sangat marah. "Minta maaf dan buat kerja sama seperti semula." dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Jelas sudah kenapa perusahaan WB grup memutuskan hubungan kerjasamanya dengan perusahaan Argojoyo dan semua itu karena ulah putranya sendiri yang salah menyingung orang.


"Tu...tuan...sa...saya mohon maafkan saya, saya benar-benar tidak tau kalau tuan dan nyonya adalah..." kata Heru dengan suara sedikit bergetar.


"Kenapa tuan muda Argojoyo? Dimana keberanian serta kesombonganmu tadi?" kata Gavi dengan senyum smirknya.

__ADS_1


"Sa...saya..." kata Heru dengan terbata.


"Silahkan pergi dari sini." kata Reno dengan tatapan tajamnya.


Mau tak mau Heru pun langsung pergi dari sana, dia tak ingin di permalukan lebih jauh lagi, apalagi saat ini para pengunjung sedang menatap ke arah mereka.


"Huh bisa-bisanya dulu aku berhubungan dengan pria semacam itu." gumam Imelda setelah Heru tak ada di sana.


Aurel menatap ke arah sahabatnya, dia ingin memastikan apakah sahabatnya itu tengah bersedih saat ini.


"Makan makanan kamu." kata Gavi menyodorkan satu sendok yang berisi penuh dengan makanan di depan mulut Aurel.


"Hap." Aurel pun menolehkan arah pandangnya dari Imelda dan langsung melahap makanan yang di sodorkan Gavi.


"Bagus." puji Gavi. "Lanjutkan makannya, jam makan siang akan berakhir sebentar lagi." kata Gavi, Gavi sih tak masalah bila telat datang ke perusahan atau bahkan tak kembali ke perusahaan, namun Aurelia dan Imelda...mereka hanyalah karyawan bisa di sebuah bank swasta, jadi harus tetap mematuhi aturan yang berlaku.


Imelda dan Aurel buru-buru mengabiskan makan siang mereka, karena wanita istirahat mereka ternyata hanya tersisa lima belas menit lagi.


Uhuk...uhuk...


Dengan spontan Gavi langsung menyodorkan satu gelas yang berisi air mineral kepada sang istri.


"Terimakasih mas." ucap aurel sambil meletakkan gelas yang isinya sudah dia minum.


❤️


"Kamu tau apa yang harus kamu lakukan Ren?" tanya Gavi yang terkesan begitu ambigu, namun mungkin karena mereka sudah kenal lama...jadi sudah sehati dan langsung konek.


"Iya tuan muda." jawab Reno yang mana saat ini mereka berdua sudah kembali ke perusahan keluarga Marcio.


Gavi begitu sangat geram karena acara makan siangnya dengan sang istri harus berantakan akibat datangnya sang pengacau.


"O iya Ren, aku rasa sahabat Aurel tadi sangat cocok denganmu...dia juga cantik." goda Gavi.


"Tuan muda ini bicara apa." kata Reno.


"Jangan panggil aku begitu kalau kita hanya berdua Ren, cukup panggil Gavi saja." ujar Gavi yang mana memang mereka sudah berteman dari lama dari mereka belum ada di posisi sekarang ini. "Jangan kamu pikir aku tidak tau kalau kamu selalu mencuri pandang padanya." ledeknya. "Apa perlu aku dan Aurel jadi Mak comblang untuk kalian berdua? Aku tak keberatan dan aku rasa Aurel pun setuju." sambungnya.


"Saya permisi tuan muda." pamit Reno untuk kembali ke ruangannya, dia tak ingin jadi bulan-bulanan sahabat sekaligus bosnya itu.

__ADS_1


"Hahaha...Reno...Reno." kata Gavi dengan tertawa melihat kepergian Reno dari ruangannya.


❤️


Plak


"Pa..." seru seorang wanita paruh baya yang melihat putranya di tampar dengan keras olah sang suami, bahkan sangking kuatnya...sudut bibirnya sampai mengeluarkan darah.


"Apa? Mama mu bela dia?" tunjuk sang suami pada putranya.


"Bukan begitu pa, tapi Heru baru saja datang...biarkan dia duduk terlebih dahulu dan menjelaskan semuanya." jawab sang istri.


Ya pasangan paruh baya tersebut adalah tuan dan nyonya Argojoyo yang tak lain adalah orangtua dari Heru.


"Mau menjelaskan apa ma? bukannya semuanya sudah jelas." kata sang suami. "Putra kesayangan kamu ini telah menyinggung orang yang salah." sambungnya dengan kesal dan langsung menjatuhkan bokongnya sofa. Deru nafasnay begitu memburu dan tak beraturan, pertanda bahwa dirinya sedang menahan marah.


"Her, kenapa? Kenapa kamu bisa menyinggung tuan muda Marcio dan pemilik perusahaan WB grup?" tanya sang mama.


"Aku tak bermaksud menyinggung mereka ma dan aku tak tau kalau itu mereka." jawab Heru.


Kemudian Heru pun menceritakan bagaimana awal mula kejadian hingga berimbas pada perusahan keluarga mereka.


"Minta maaf pada tuan muda Marcio dan istrinya yang notabene pemilik perusahaan WB grup." perintah sang papa.


"Aku sudah minta maaf pa, tapi mereka..." kata Heru.


"Temui mereka di perusahaan keluarga Marcio, ah tidak di kediaman keluarga Marcio agar kamu juga bisa langsung minta maaf pada nyonya muda Marcio." potong sang papa. "Papa tak mau tau." sambungnya.


"Baik pa, besok..." jawab Heru.


"Bukan besok, tapi nanti malam." sahut sang papa. "Lebih cepat lebih bagus, sebelum perusahan yang sudah papa rintis dengan susah payah harus gulung tikar." sambungnya.


Di kalangan pebisnis semuanya sudah tau dan bukan rahasia umum lagi, siapa pun yang berani menyinggung keluarga Marcio...pasti akan bangkrut.


❤️


Maaf mengecewakan karena lama gak up🙏 dan terimakasih untuk yang masih dengan setia menantikan kelanjutan cerita ini❤️


Iya bestie, mampir juga ya ke akun tik tok aku...tolong di follow, maklum baru bikin akun soalnya dengan nama "ennita-d", terimakasih sebelumnya🙏

__ADS_1


__ADS_2