Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris

Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris
Bab 39


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


"Cinta, apa kamu gak sebaiknya berhenti bekerja saja." kata Gavi dengan tiba-tiba saya mereka berdua selesai sarapan.


Aurel langsung sontak menghentikan pergerakan tangannya dan langsung menatap ke arah Gavi dengan ekspresi yang sulit di tebak.


Sebenarnya terbesit kebingungan yang Aurel rasakan, karena tak ada angin tak ada hujan dengan tiba-tiba suaminya ini memintanya untuk berhenti bekerja.


Melihat sang istri yang tak kunjung mengeluarkan suaranya membuat Gavi kembali berbicara.


"Maksudku gini." kata Gavi yang kini meletakan sendok dan hatinya di atas piring. "Kamu taukan kalau mommy dan daddy begitu ingin kita segera memiliki momongan, begitu pula dengan aku ... aku juga ingin dia segera hadir di sini." kata Gavi lagi yang kini tangannya sudah mengelus perut rata Aurel.


Aurel tentu saja tau maksud dari yang di katakan oleh Gavi. Dirinya juga tak ingin egois, karena semua yang di katakan oleh suaminya itu benar adanya.


"Iya nanti aku akan buat surat pengunduran diri." kata Aurelia.


"Terimakasih cinta." ucap Gavi yang langsung memeluk tubuh wanita tercintanya. "Kamu cukup berpamitan saja pada teman-teman kerjamu, nanti biar Reno yang membuat surat pengunduran diri kamu dan nanti biar aku yang antar langsung pada atasan kamu." kata Gavi lagi.


"Hem baiklah, terserah kamu saja." sahut Aurel, karena mau membantah pun juga percuma jika sang tuan muda sudah berkehendak.


Pembicaraan mereka di ruang makan cukup sampai di situ saja karena keduanya harus segera bersiap untuk berangkat bekerja.


Seperti biasa, Gavi akan mengantarkan Aurel terlebih dahulu baru dirinya berangkat menuju ke perusahaannya sendiri.


❤️


Siang ini juga Gavi langsung bertandang ke tempat kerja Aurel dengan di temani oleh Reno tentunya.


Kedatangan Gavi yang telah di beritahukan sebelumnya, membuat tuan muda Marcio itu langsung di arahkan menuju ke ruangan sang atasan.

__ADS_1


"Selamat siang, selamat datang tuan." ucap sang atasan yang bernama Burhan. "Ada gerangan apa sehingga tuan muda berkenan untuk menemui saya?" tanyanya setelah mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk.


"Langsung saja, saya kesini karena ingin memberikan surat pengunduran istri saya." kata Gavi.


Mendengar kata istri membuat pak Burhan menjadi bingung, pasalnya dirinya sama sekali tidak tau siapa istri dari tuan muda di depannya ini.


"Is_istri." kata pak Burhan dengan sedikit tergagap.


"Nona Aurelia Revany Wibowo." sahut Reno. "Yang sekarang berubah menjadi nyonya muda Aurelia Gavindra Marcio." sambungnya lagi sayang semakin mempertegas posisi Aurel.


"Jadi bagaimana?" tanya Gavi dengan aura yang sangat mendominasi.


"Ah itu ba_baik tuan, akan saya katakan pada pihak HRD." sahut pak Burhan.


Mana mungkin dirinya berani melawan orang yang ada di hadapannya saat ini, bisa-bisa usahanya akan hancur seketika jika berani membantah.


Lagian siapa yang tak kenal dengan keluarga Marcio. Keluarga konglomerat yang merajai kancah bisnis.


Terjadi kehebohan hingga banyak kasak kusuk yang terdengar setiap Gavi melintasi koridor.


"Nyonya muda." sapa Reno pada wanita yang kini masih setia menatap layar komputernya.


Aurel yang mereda begitu familiar dengan suara itu pun langsung saja menoleh.


Sedikit heran bercampur terkejut karena melihat suami bersama asisten serta atasannya berada tak jauh dari pintu.


"By." lirih Aurel yang di sahut dengan senyuman setipis tisu dari Gavi.


"Ayo pulang." kata Gavi.

__ADS_1


"Tuan muda sudah mengurus pengunduran diri anda nyonya." kata Reno.


"Ah iya." kata Aurel yang masih merasa sedikit terkejut sebenarnya, dia sama sekali gak menyangka suaminya itu akan melakukan secepat ini.


Aurel pun langsung membereskan barang-barangnya dan tak lupa pula dirinya memeluk sang sahabat sebentar.


"Aku pasti akan merindukanmu Rel." kata Imelda memeluk tubuh Aurel.


"Aku juga Mel." sahut Aurel. "Kamu bisa main ke tempat aku kalau libur, atau kita juga bisa hangout bareng." sambungnya seraya mengurai pelukannya. "Bolehkan by?" tanya Aurel pada sang suami.


"Tentu saja." jawab Gavi.


Aurel pun langsung berjalan ke arah sang suami dan berpamitan pada atasannya, bahkan atasannya itu sampai meminta maaf karena tak tau jika karyawannya ternyata seorang nyonya muda.


"Nanti akan ada orang yang mengantarkan makanan ke sini, jadi tolong di bagi-bagi." kata Gavi.


"Baik tuan muda dan terimakasih." ucap pak Burhan.


❤️


"Mau makan siang apa?" tanya Gavi dengan sebelah tangannya yang terus memegang tangan Aurel, bahkan sesekali mengecupnya tanpa menghiraukan Reno juga sang supir yang juga ada di dalam mobil tersebut.


"Hem apa ya..." kata Aurelia sembari berpikir. "Terserah kamu ajalah by, aku ngikut aja." kata Aurel pada akhirnya.


"Kalau makannya di perusahaan aja gimana? soalnya aku ada pertemuan penting setelah ini." tanya Gavi.


"Boleh, mau makan di mana saja gak masalah buat aku, asal sama kamu." sahut Aurel yang membuat Gavi terkekeh.


"Sudah pintar gombal ya sekarang." goda Gavi sambi mencolek hidung mancung Aurel.

__ADS_1


"Kan belajarnya dari kamu by." kilah Aurel.


"Makin cinta deh kalau kayak gini." ucap Gavi yang kali ini sudah mendekap erat tubuh yang selalu jadi candu untuknya itu.


__ADS_2