Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris

Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris
Bab 30


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Hari ini seusai mengantar Aurel kerumah sakit untuk mengontrol lukanya, Gavi mengajak sang istri perusahaan.


Begitu memasuki lobi, semua karyawan yang berpapasan dengan mereka berdua langsung menunduk hormat yang membuat Aurel sedikit risih, meskipun ini bukan untuk pertama kalinya.


Tangan Gavi terus saja menggenggam tangan sang istri yang tak sakit hingga sampai di dalam ruangan kerjanya.


"Kamu istirahat saja di kamar." kata Gavi yang di angguki oleh Aurel.


Gavi memutuskan untuk segera duduk di kursi kebesarannya dan mulai mengerjakan satu demi satu pekerjaannya. Banyaknya dokumen yang menumpuk di atas meja membuatnya seakan sakit kepala.


Gavi begitu serius bekerja saat ini hingga dirinya sampai tak sadar jika waktu sudah memasuki jam makan siang. Sebelum menikah dengan Aurel...Gavi adalah tipe orang yang workaholic.


Cklek


Niat hati ingin memanggil Gavi, namun Aurel malah terdiam di tempatnya karena begitu terpesona dengan sosok Gavi yang sedang mode serius...apalagi saat dirinya memakai kacamata anti radiasi yang nangkring di hidungnya bak perosotan TK itu...semakin membuatnya tambah menawan.


Krucuk


Bunyi cacing di dalam perut yang sudah demo minta di isi akhirnya bisa menyadarkan Aurel dari keterpesonaannya.


"Khem...Gav." panggil Aurel di ambang pintu kamar.


"Ya..." sahut Gavi yang langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.


"Gav, aku laper." kata Aurel dengan setengah merengek.


Mendengar perkataan Aurel membuat Gavi langsung melihat jam mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, tak di sangka waktu memang sudah cukup siang.


"Kamu mau makan apa? biar aku pesankan." tanya Gavi yang langsung menyambar ponselnya yang ada di atas meja.


"Mau makan di kanti perusahaan boleh?" bukannya menjawab pertanyaan Gavi, eh Aurel malah balik bertanya. "Kalau ku sibuk...aku sendiri aja gak apa-apa kok." kata Aurel sedetik kemudian karena tak mendapatkan respon dari Gavi.

__ADS_1


"Huh...ya udah ayo." kata Gavi.


"Beneran?" tanya Gavi.


"Ck, iya...ayo atau aku berubah pikiran." kata Gavi.


Dengan buru-buru Aurel langsung berjalan mendekat ke arah Gavi. Dia benar ingin merasakan makanan kantin perusahan Marcio yang katanya...yang beredar di luar sana, kabarnya makanan di kantin perusahan ini itu enak serta setiap hari berubah menu, dan yang lebih penting lagi...gratis untuk seluruh karyawan perusahaan GA corporation.


❤️


Di kala Aurel serta Gavi masuk kedalam kantin perusahan, keadaan langsung saja mendadak berubah sepi dan canggung, karena mereka baru kali ini melihat pemimpin perusahan ini mau makan di kantin. Bahkan penjaga kantin punyak kalah kaget, karena biasanya Gavi hanya order dan langsung akan di kirimkan ke bagian pantry khusus yang ada di lantai CEO dan yang akan mengantar serta menghidangkannya pun adalah ob khusus di lantai itu.


Gavi dan Aurel sama sekali tak memperdulikan tatapan pada karyawannya, Gavi terus melangkah dengan tangan yang bertengger di pinggang Aurel...huh betapa sudah terlihat begitu posesifnya tuan muda satu ini.


Srek


Gavi menarik satu kursi untuk di duduki Aurel, sehingga membuat pagar wanita yang ada di sana merasa iri dan juga ingin berada di posisi Aurel saat ini walau hanya sekejap saja.


"Mau makan apa?" tanya Gavi dengan tangan menyodorkan buku menu yang sudah di buka oleh Gavi.


"Tentu saja." jawab Gavi dengan tangan yang menyentuh bahkan sedikit mengelus kepala Aurel, membuat para wanita di sana seakan meleleh.


Ini benar-benar pemandangan langka, karena bisanya atasan mereka itu hanya akan bermuka datar dan ini apa...dia melakukan hal yang sungguh manis.


"Es?" tanya Aurel lagi meminta persetujuan.


"No, kamu masih minum obat." kata Gavi yang langsung menolak mentah-mentah. "Hem air jeruk hangat atau mau teh?" tanya Gavi.


"Air jeruk saja." sahut Aurel dengan wajah cemberut.


Saat makanan mereka telah datang, Gavi langsung saja mengambil alih mangkuk yang ada di depan Aurel dan langsung membantu Aurel untuk menyuapkan makanannya.


"A..." isyarat Gavi saat satu sendok berisi makanan sudah berada tepat di depan mulut Aurel.

__ADS_1


Sebelum melahapnya, tapi sebelum itu Aurel justru mengedarkan pandangannya untuk melihat sekeliling yang ternyata seperti dugaannya...semua mata memandang ke arahnya sehingga membuatnya sedikit risih.


"Ayo..." kata Gavi dengan mata yang menuju ke arah sendok yang dia pegang seakan meminta Aurel untuk segera melahapnya.


"Hap..." mau tak mau Aurel pun menerima suapan itu. Persetan dengan rasa malu...karena perutnya saat ini sudah begitu keroncongan. Lagian dia juga di suapi sama suami sendiri ini, bukan suami orang.


"Ah tuan Gavi...sweet banget sih."


"Betapa beruntungnya jadi istri tuan Gavi, sepertinya tuan Gavi begitu sangat mencintainya."


Dan masih banyak lagi bisik-bisik dari karyawan perusahan GA corporation yang ada di sana, namun Gavi dan Aurel sama sekali tak perduli.


Gavi dan Aurel tetap makan dalam satu piring dan satu sendok hingga semua makanan mereka habis tak tersisa.


"Ayo kembali ke ruanganku...kamu harus minum obat." ajak Gavi yang sudah berdiri dan mengulurkan tangannya.


"Huft..." mendengar kata obat benar-benar membuat Aurel begitu kesal, namu dirinya tatap menerima ukuran tangan Gavi.


❤️


Gavi mulai mengeluarkan satu per satu obat yang harus di minum Aurel siang ini.


Begitu sudah terkumpul...Gavi langsung memasukkan obat yang berjumlah empat pil itu kedalam mulutnya dan Gavi pun mulai mendekatkan wajahnya pada Aurel.


Saat b**** mereka telah bertemu, Gavi pun mulai menggerakkan bibirnya sehingga membuat Aurel begitu terbuai, bahkan saat ini daging tak bertulang itu sudah menerobos masuk dan saling bertemu satu sama lain, tangan Gavi langsung meraih tengkuk Aurel dan menekannya guna memperdalam c****** mereka...baru setelah itu satu persatu obat mulai di oper ke mulut Aurel hingga tertelan semua barulah Gavi melepaskan c****** mereka.


Begitu terlepas, Gavi langsung menyodorkan satu gelas air mineral yang selalu di tenggak habis tak tersisa olah Aurel.


"Aku tinggal keluar ya..." kata Gavi yang hanya di angguki oleh Aurel.


Setelah keluar barulah Gavi bisa bernapas dengan lega, jujur setiap meminumkan obat untuk Aurel dengan cara seperti itu membuat sesuatu yang ada pada dirinya bangkit sehingga rasanya ingin meminta lebih, walaupun dirinya adalah laki-laki normal yang juga memiliki nafsu terlebih lagi mereka sudah menikah dan Gavi pun sebelumnya sudah pernah merasakannya.


Jantungnya pun seakan berdetak tak beraturan bahkan rasanya bertalu-talu seakan ingin keluar dari tempatnya.

__ADS_1


"Lama-lama aku tak akan bisa menahan diri lagi jika seperti ini terus." gumam Gavi dengan nada frustasi.


__ADS_2