
❤️ Happy Reading ❤️
Aurel yang sudah membereskan barang-barang miliknya pun segera keluar dari dalam kamar.
Pakaian, skincare serta yang lainnya yang baru tadi sore di beli, sudah dia kemas di dalam koper.
''Ah sudah selesai sayang?'' tanya mommy Ivi dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Aurelia.
Pertanyaan yang terlontar dari mulut mommy Ivi membuat Gavi yang sedang bermain dengan ketiga keponakannya pun langsung menoleh.
Ada perasan sedih, tak rela...ah entahlah Gavi saja bingung dengan semua perasan yang di rasakannya.
''Khem...kami ajak kak Aurel dulu ya kak.'' kata Gabi yang melihat gelagat sang kakak sepupu.
''Jangan kangen-kangen.'' sambung Gisel.
''Kak, ma, pa, kami pulang dulu ya...'' pamit mami Ica.
Mereka pun kemudian pergi meninggalkan kediaman utama keluarga Marcio menuju kediaman Gabriel.
Sedangkan untuk Gisel, dirinya dan sang suami lebih memilih untuk langsung kembali ke ke kediamannya sendiri.
Kalau untuk Gabi memang dasarnya tak boleh pindah, jadi si anak bungsu pasangan Ica dan Gabriel Marcio itu tinggal di rumah Gabriel.
❤️
''Ini kamar kamu sayang dan semoga kamu betah ya tinggal di sini.'' kata mami Ica yang mengantarkan Aurel langsung ke kamar yan yang akan dia tempati di rumah itu selama satu Minggu ini.
''Terimakasih mami.'' ucap Aurelia. ''Maaf kalau jadi merepotkan.'' sambungnya lagi.
''Kamu ini ngomong apa.'' sergah mami Ica. ''Mami gak suka denger kamu ngomong kayak gini lagi...kamu itu sudah menjadi bagian dari keluarga kami.'' sambungnya lagi. ''Mami ke kamar dulu ya dan selamat beristirahat.'' ucap mami Ica.
''Mami juga selamat beristirahat.'' ucap Aurelia.
Brak
''Huh aku gak nyangka kalau hidup aku bakal kayak gini.'' kata Aurel setelah menghembuskan nafasnya. ''Semoga semua ini merupakan awal yang baik.'' sambungnya lagi.
Beda Aurel beda pula Gavi.
__ADS_1
Saat ini pemuda itu sedang berada di ruang kerjanya, banyak sekali pekerjaan yang menumpuk akibat hati ini dirinya tak masuk bekerja.
''Padahal kemarin sudah banyak yang aku kerjain...masih numpuk aja.'' keluhnya.
Dret...dret...dret...
''Katakan.'' kata Gavi begitu menggeser ikon hijau di layar ponselnya agar sambungan terhubung.
"Halo bos, saya sudah menyelidiki siapa orang yang telah menjebak anda."
"Siapa?" tanya Gavi to the poin.
"Tuan Yogi bos, dia ingin anda menghabiskan malam bersama putrinya."
"B******k." umpat Gavi. "Buat perusahannya hancur dan jangan lupa selidiki semua tantang dirinya serta keluarganya...kalau mereka memiliki skandal...langsung sebarkan." perintah Gavi.
"Baik bos, dan em satu lagi bos...ini tentang nona Aurelia."
"Apa?" tanya Gavi.
"Pada malam kemarin, nona Aurelia juga di jebak oleh kakak tirinya."
Tut
Panggilan pun terputus dan Gavi kembali menatap layar laptop di depannya guna memeriksa semua email yang masuk di sana, ah tentu saja atas kiriman dari asistennya...Reno, orang baru saja mengerubunginya tadi.
"Lagi apa ya dia sekarang di rumah mami?" kata Gavi yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri begitu mengingat tentang Aurel...gadis yang melewati satu malam panas dengannya...gadis yang dengan paksa sudah dia renggut keperawanannya, gadis yang mau tak mau harus dinikahinya karena alasan sebuah tanggung jawab.
"Telpon gak ya..." gumam Gavi dengan tangan yang memutar-mutar ponsel di atas meja.
"Gak ah...lebih baik aku lanjut kerja biar cepet kelar dan bisa langsung istrirahat." kata Gavi setelah menimbang-nimbang lama keputusannya, lagian hari juga sudah cukup larut...takutnya nanti Aurel sudah tidur.
❤️
"Aurel." panggil mami Ica yang ke dapur untuk minum.
Mami Ica cukup kaget melihat Aurel di dapur, pasalnya hari masih terlalu pagi.
"Sedang apa kamu sayang?" tanya mami Ica.
__ADS_1
''Ini Aurel lagi bikin sarapan mi." jawab Aurel dengan tangan yang masih memegang peralatan dapur.
"Ya ampun sayang, kamu itu gak perlu repot-repot kayak gini, ada bibi yang bertugas untuk memasak sayang." kata mami Ica. "Sudah biar di lanjutkan sama bibi saja." kata mami Ica lagi.
"Gak apa-apa kok mi, Aurel sudah terbiasa seperti ini setiap hari." kata Aurelia. "Lagian ini juga sebentar lagi selesai kok mi." sambungnya lagi.
"Ya sudah kalau gitu mami ke dalam dulu ya, mau nyiapin keperluan papi Gabriel." kata mami Ica.
Begitu selesai memasuk, Aurel memilih untuk segera masuk ke dalam kamarnya...dirinya harus bersiap, karena hari ini Aurel harus bekerja...dia hanya meminta ijin untuk hari kemarin saja.
Aurel berangkat bekerja dengan di antar oleh papi Gabriel dan tentu saja semua itu atas paksaan dari mami Ica dan yang lainnya.
Lagi pula tempat Aurel bekerja cukup jauh dari kediaman keluarga Marcio.
Di kediaman keluarga Marcio pun saat ini daddy Geva dan Gavi juga Kana berangkat ke kantor.
"Gav, mommy sama daddy harap kamu tak mempermainkan pernikahan kalian walaupun pernikahan kalian bukan karena cinta." pinta mommy Ivi saat mengantarkan sang putra dan sang suami sampai ke teras depan.
"Iya mom." jawab Gavi.
"Ingat Gav, seorang laki-laki sejati tak akan pernah menyakiti seorang perempuan terlebih dia adalah ibu juga istrinya." sambung daddy Geva.
"Iya dad, Gavi tau." jawab Gavi.
"Oiya bagaikan dengan urusan pernikahan kalian nanti...dokumen-dokumennya?" tanya mommy Ivi yang kembali buka suara.
"Semua dokumen yang di butuhkan sudah lengkap mom dan nanti Reno akan mengurus pendaftaran pernikahan kami.'' jawab Gavi.
"Nak, mommy harap kamu tak terlalu ketus dan menjaga jarak pada Aurelia...mommy sama daddy juga sangat berharap kamu bisa membuka sedikit saja pintu hatimu agar Aurel bisa menyelinap masuk ke dalamnya." kata mommy Ivi. "Kami sangat berharap perbuatan kalian akan langgeng dan bertahan selamanya sampai maut yang memisahkan." sambungnya.
"Gavi tidak bisa janji tapi akan Gavi usahakan mom." jawab Gavi.
"Hem sudah siang ni, daddy berangkat dulu ya mom...takutnya kejebak macet di jalan." pamit daddy Geva.
"Gavi juga pamit ya mom, soalnya ada meeting penting pagi ini." timpal Gavi.
"Huh baiklah...kalian berdua hati-hati di jalan dan ingat...pulang tepat waktu." kata mommy Ivi.
"Iya mom." sahut Gavi dan daddy Geva bersamaan.
__ADS_1