Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris

Terjebak Di Atas Ranjang Sang Pewaris
Bab 26


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


"Jadi mamaku meninggal karena papa juga istri papa itu?" tanya Aurel dengan suara bergetar.


"Jangan sembarangan kamu!" sentak papa Rey.


"Bukan." kata pak Ilham. "Mamamu meninggal karena memang mamamu sakit." sambungnya.


"Jadi bagaimana pak?" tanya Gavi.


"Ya menurut surat wasiat nyonya Vany, perusahan ini sekarang milik nona Aurel." jawab pak Ilham.


"Anda sudah dengar sendiri...jadi silahkan pergi dari sini." kata Gavi.


"Gak, Aurel kamu gak bisa gini ke saya." seru papa Rey. "Apa kamu lupa kalau saya ini papa kamu...dasar anak tak tau diri." kata papa Rey lagi dengan hardikan di ujung kalimatnya.


"Bawa dia keluar Ren." perintah Gavi.


Melihat atasan mereka di seret keluar dengan berbagai cacian yang keluar dari mulut Yuna Rey Wibowo membuatnya menjadi bahan tontonan para karyawannya.


❤️


"Tuan Gavi, kalau begitu saya undur diri dan ini semua berkas dokumen yang di butuhkan oleh Nina Aurel." kata pak Ilham menyerahkan beberapa map ke tangan Gavi.


"Terimakasih banyak pak." ucap Gavi sambil menjabat tangan pak Ilham.


"Sudah kewajiban dan tanggung jawab saya pak, apalagi dulu keluarga Wibowo sangat berjasa untuk keluarga saya dan nyonya Vany juga banyak membantu saya serta keluarga." sahut pak Ilham.


"Bapak akan tetap di bawah perlindungan saya...jadi anda tak perlu khawatir dengan kesempatan anda beserta keluarga." kata Gavi.


"Terimakasih tuan muda, permisi." pamit pak Ilham.


Melihat sang istri masih menangis sesenggukan di kursi, membuat Gavi mau tak mau melaksanakan kakinya untuk mendekat.


Grep


Yang bisa di lakukan Gavi hanya membawa tubuh Aurel kedalam pelukannya dengan sebelah tangan yang mengusap punggung wanitanya dengan tujuan untuk membelinya ketenangan.


Gavi juga tak membujuk Aurel untuk menghentikan tangisnya, karena Gavi begitu paham jika seseorang yang sedang menangis dan di suruh berhenti...bukannya berhenti malah akan semakin menangis.


Dan menurut Gavi, menangis juga merupakan sesuatu untuk meluapkan apa yang ada di dalam hati seseorang sehingga bisa membuat perasan jauh lebih plong alias lega.


"Maaf." cicit Aurel mengurai pelukannya dan tangisnya pun sudah mereda hanya sesekali terdengar isakan saja.

__ADS_1


" Untuk?" tanya Gavi dengan mengerutkan keningnya.


"Maaf karena sudah membuatmu menunggu sekaligus membuat kemejamu basah." jawab Aurel.


"Gak apa-apa...ini gak penting jadi abaikan saja." kata Gavi. "Apa sudah jauh lebih lega?" tanyanya.


"Hem iya." jawab Aurel.


"Kalau begitu ayo." ajak Gavi yang hendak berdiri.


"Mau kemana?" tanya Aurel.


"Nanti kamu juga tau." jawab Gavi penuh misteri.


Di sepanjang koridor perusahan sampai di lobi, Gavi tak pernah lepas menggenggam tangan Aurel sehingga siapapun yang melihatnya pasti akan merasa sangat iri.


Begitu keluar dari lobi perusahaan, Gavi dan Aurel sudah di sambut Reno yang berisi di samping pintu mobil yang di sinyalir akan di tumpangi Gavi serta Aurel.


❤️


"Gav, ini...kenapa kita kesini?" tanya Aurel ketika mobil mereka berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi.


''Kita akan mengambil hakmu yang selanjutnya." jawab Gavi.


Meraka berdua keluar dari mobil dan melangkah menuju ke pintu utama, tapi belum sampai mengetuk ternya pintu sudah terbuka lebih dahulu dari dalam.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Arni dengan pandangan yang begitu tak suka pada Aurel.


"Ini rumahku, jadi tentu saja aku ke sini untuk pulang ke rumahku." jawab Aurel yang entah mempunyai keberanian dari mana hingga bisa melawan adik tirinya. "Ada masalah?" tanya Aurel.


"Rumahmu...hahaha." kata Arni yang kemudian tertawa terbahak-bahak. "Aduh kamu jangan ngimpi di siang bolong deh...apa kamu lupa kalau papa sudah memutuskan segala hubungan denganmu...apa perlu aku ingatkan lagi." kata Arni dengan begitu percaya dirinya.


"Ah begitu ya." sahut Aurel dengan santainya. "Ini kamu baca maka kamu akan tau apa artinya.'' kata Aurel dengan mengulurkan kertas Poto copyan yang berisi jika seluruh harta serta aset keluarga Wibowo jatuh ke tangannya.


"Hah ini gak mungkin...pasti ini surat palsu." kata Arni sambil menggelengkan kepalanya. "Ma...mama!" serunya memanggil sang mama.


"Aduh Arni kenapa sih mesti teriak-teriak?" tanya mama Rina yang beru keluar dari dapur.


Mendengar suara sang mama membuat Arni langsung berjalan cepat untuk menghampiri.


Tak hanya Arni, mama Rina pun tak kalah kaget dengan apa yang di bacanya.


"Hah apa-apa kamu? berani-beraninya bikin surat palsu seperti ini." kata mama Rina. "Cih, aku kan melaporkanmu ke polisi dengan tuduhan penipuan.

__ADS_1


"Kami tak takut, silahkan saja." sahut Gavi dengan penuh rasa percaya diri.


"Kalian...kenapa ada di rumahku?" tanya papa Rey yang kaget melihat kehadiran Gavi juga Aurel.


"Tentu saja untuk mengambil hak yang seharusnya menjadi milik istri saya." jawab Gavi.


"B*****h." umpat tuan Rey.


"Jadi silahkan anda bawa istri dan anak anda dari sini." kata Aurel.


Sebelum pak Rey beserta keluarganya pergi tenyata pihak keamanan lebih dahulu datang untuk menanggapi Arni serta mama Rina karena sudah menyerang Aurel dengan seenaknya.


"Pa...papa tolong mama pa...mama gak mau di penjara." kata mama Rina dengan meronta-ronta saat di gelandang polisi.


Arni yang sudah di liputi amarah dengan secepat kilat mengambil pistol yang ada di pinggang polisi yang saat ini membawanya.


Karena polisi itu sedang lengah dan sibuk memperhatikan mama Rina yang berontak, sehingga memudahkan Arni untuk meraih senjata.


Dor


"Hahaha...kamu harus mati Aurel." kata Arni sambil melepaskan tembakan.


Gavi dan yang lainnya pun tak menduga hal ini sehingga mereka begitu lengah yang mengakibatkan lengan Aurel terkena tembakan.


"Akh..." keluh Aurel dengan darah yang mulai merembes keluar.


"Aurel." seru Gavi.


Melihat darah di lengan sang istri, Gavi pun langsung mengangkat Aurel ala bridal style berjalan menuju ke mobil.


"Urus mereka dan pastikan wanita itu mendapatkan hukuman yang setimpal." kata Gavi dengan mata penuh kilat amarah.


"Baik tuan." jawab Reno.


Sedangkan Arni sendiri sudah di amankan oleh pihak keamanan, pistolnya pun sudah di rebut kembali.


❤️


"Sakit Gav." keluh Aurel yang duduk bersandar dada Gavi.


"Bertahanlah...sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." kata Gavi yang terlihat begitu cemas.


Karena pihak rumah sakit sudah di beritahu...jadi kedatang Gavi dan Aurel langsung di sambut oleh para tim medis.

__ADS_1


Mereka akan berusaha yang terbaik agar tak terkena masalah dengan salah satu penanaman terbesar di ruang sakit tempat mereka bekerja...karena saat ini pekerjaan serta hidup mereka yang akan menjadi taruhannya.


__ADS_2